Daerah

OIKN–BMKG–TNI AU Siapkan OMC 22–27 Agustus 2026 di IKN dan Kaltim untuk Cegah Kekeringan & Karhutla

×

OIKN–BMKG–TNI AU Siapkan OMC 22–27 Agustus 2026 di IKN dan Kaltim untuk Cegah Kekeringan & Karhutla

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: Antisipasi Kekeringan dan Karhutla, Modifikasi Cuaca Bakal Digelar di IKN dan Kaltim

jurnalistik.co.id – Otorita Ibu Kota Nusantara (OIKN) bersama Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) serta TNI Angkatan Udara (TNI AU) berencana menggelar Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) pada 22–27 Agustus 2026 di kawasan IKN dan Kalimantan Timur. Langkah ini ditujukan untuk mengantisipasi kekeringan yang muncul saat kemarau serta meminimalkan risiko kebakaran hutan dan lahan (karhutla).

OMC dilakukan karena musim kering yang meluas berpotensi menurunkan ketersediaan air dan mengganggu kondisi lingkungan di wilayah sasaran. Dengan penyemaian awan, operasi diarahkan untuk mendukung pembentukan hujan secara terukur.

Kondisi air di IKN dinilai masih aman, namun mulai menunjukkan tanda penurunan

Staf Khusus Kepala OIKN Bidang Manajemen dan Strategi Konstruksi, Danis Hidayat Sumadilaga, menyampaikan bahwa hingga saat ini pasokan air di IKN masih mencukupi. Meski demikian, ia menyebut adanya indikasi penyusutan debit air yang mulai terlihat pada infrastruktur vital di bagian hulu.

Danis menautkan situasi tersebut dengan dampak El Nino yang memicu kekeringan di berbagai wilayah. Ia menegaskan, kondisi air di IKN relatif baik, tetapi permukaan air di Bendungan Sepaku Semoi dan Intake Sepaku mulai mengalami penurunan.

Menurut Danis, antisipasi perlu dilakukan sejak dini. Ia menekankan bahwa respons tidak idealnya menunggu situasi memburuk hingga benar-benar kering baru bergerak, karena pergerakan yang terlambat akan menyulitkan upaya mitigasi.

TNI AU menyiagakan pesawat Casa CN-212 dan garam NaCl untuk penyemaian

Dalam dukungan terhadap operasi tersebut, TNI AU menyiagakan satu unit pesawat Casa NC-212 buatan PT Dirgantara Indonesia. Pesawat ini dilengkapi alokasi bahan semai berupa garam NaCl khusus untuk proses penyemaian awan.

Komandan Pangkalan TNI Angkatan Udara (Lanud) Dhomber, Kolonel Pnb I Gusti Ngurah Sorga Laksana, menyatakan bahwa seluruh personel dan armada siap terbang apabila BMKG mendeteksi adanya potensi awan hujan, khususnya jenis cumulus. Ia menyebut operasi akan mengikuti arahan yang dikeluarkan sesuai hasil pemantauan meteorologi.

Gusti menjelaskan bahwa pesawat Casa 212 mampu terbang hingga 4 jam sekali jalan. Ia juga menyebut daya angkut garam mencapai 800 kilogram, sehingga operasi penyemaian dapat dilakukan dalam batas durasi penerbangan yang direncanakan.

Ia menambahkan bahwa pihaknya hanya menunggu penetapan titik potensi awan oleh BMKG. Dengan begitu, pelaksanaan OMC bisa disesuaikan dengan posisi dan karakter awan yang terpantau di lapangan.

BMKG mencatat dua pekan tanpa hujan dan pertumbuhan awan yang singkat

Kepala BMKG Stasiun Meteorologi Kelas I SAMS Sepinggan Balikpapan, Djoko Sumardiono, menjelaskan bahwa wilayah Kalimantan Timur tidak diguyur hujan selama dua pekan terakhir. Ia menilai kondisi atmosfer kemarau menyebabkan pertumbuhan awan tidak bertahan lama.

Djoko menyebutkan bahwa awan kerap tumbuh pada pagi hari. Namun, awan tersebut kemudian menghilang saat siang karena kandungan uap air yang minim, sehingga proses pembentukan hujan tidak berlangsung berkelanjutan tanpa dukungan intervensi.

Menurut penjelasannya, awan yang dipantau memiliki potensi justru berada di perbatasan utara Kalimantan Timur. Dari kondisi ini, BMKG menyiapkan perhitungan untuk memastikan bahwa intervensi penyemaian mengarah pada area target yang sesuai.

Penyemaian garam harus presisi; keberhasilan historis di kemarau sekitar 30 persen

BMKG menegaskan bahwa penyemaian garam perlu diperhitungkan secara cermat. Tujuannya agar material semai jatuh di wilayah sasaran Kalimantan Timur dan tidak bergeser ke lokasi lain yang tidak menjadi target operasi.

Djoko juga menguraikan bahwa secara historis tingkat keberhasilan OMC pada musim kemarau berada di kisaran 30 persen. Meski demikian, operasi tidak berjalan dengan estimasi semata, karena pelaksanaan akan mengikuti hasil deteksi meteorologi saat kondisi awan benar-benar teridentifikasi.

Ia menambahkan bahwa begitu radar mendeteksi awan potensial melintas di atas wilayah sasaran Kalimantan Timur, penyemaian akan dilakukan secara langsung. Dengan demikian, waktu intervensi berfokus pada peluang awan yang dinilai memenuhi syarat untuk diarahkan menuju pembentukan hujan.

Rangkaian persiapan dari OIKN, BMKG, dan TNI AU tersebut menunjukkan bahwa mitigasi kekeringan serta upaya penekanan risiko karhutla direncanakan melalui langkah operasional yang berbasis pemantauan cuaca. OMC 22–27 Agustus 2026 menjadi bagian dari respons terencana menghadapi dampak musim kemarau dan kondisi atmosfer yang sedang berlangsung di IKN serta Kalimantan Timur.