Peristiwa

Wakapolda Gorontalo Jalin Kerja Sama dengan Basarnas Perkuat Kesiapsiagaan Bencana

×

Wakapolda Gorontalo Jalin Kerja Sama dengan Basarnas Perkuat Kesiapsiagaan Bencana

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: Siaga Hadapi Bencana, Wakapolda Gorontalo Gandeng Basarnas Perkuat Kolaborasi

jurnalistik.co.id – Wakapolda Gorontalo, Brigjen Pol Simson Zet Ringu, S.I.K., M.Si., menegaskan pentingnya kesiapsiagaan menghadapi ancaman bencana alam di wilayah Gorontalo. Langkah tersebut dijalankan melalui penguatan sinergi dengan Basarnas agar respons penanganan bencana dapat berjalan cepat, terkoordinasi, dan efektif.

Kegiatan ini, yang berlangsung Selasa (11/8/2026), dipahami sebagai bagian dari upaya membangun sistem penanggulangan bencana yang tangguh. Di sisi lain, kerja sama antarlembaga juga dimaksudkan agar penanganan saat darurat tidak bersifat sporadis.

Wakapolda menilai, ketika bencana terjadi, kecepatan mengambil keputusan dan kemampuan bertindak menjadi faktor yang sangat menentukan keselamatan masyarakat. Karena itu, kesiapan tidak boleh menunggu situasi darurat muncul, melainkan harus dipersiapkan lebih awal.

Kesiapsiagaan sebagai fondasi sebelum darurat

Menurut Wakapolda Gorontalo, kesiapan menghadapi bencana perlu diwujudkan sebelum kondisi darurat berlangsung. Persiapan tersebut mencakup komunikasi, pemetaan potensi kerawanan, kesiapan personel, serta dukungan sarana dan prasarana yang harus dipastikan secara bersama-sama.

Ia juga menekankan bahwa kesiapsiagaan tidak hanya soal tindakan ketika bencana sedang terjadi. Lebih dari itu, kemampuan respons di lapangan harus dibangun melalui persiapan yang matang sejak jauh hari.

“Kesiapsiagaan bukan hanya tentang bagaimana kita bertindak ketika bencana terjadi, tetapi bagaimana kita mempersiapkan diri sebelum bencana itu datang kita mampu memperkuat kemampuan respons di lapangan. Dalam kondisi darurat, setiap detik sangat berarti. Personel yang berada di lokasi harus mampu bergerak cepat, memahami tugas masing-masing, serta memiliki jalur komunikasi yang jelas”,ujarnya.

Gagasan tersebut menempatkan kejelasan peran dan jalur koordinasi sebagai kebutuhan utama. Dengan demikian, tim di lokasi tidak hanya bergerak cepat, tetapi juga tetap menjalankan tugas sesuai kapasitas dan arah komando yang tersusun.

Kolaborasi juga diperlukan pada fase penanganan

Penguatan kerja sama dengan Basarnas juga diarahkan untuk memastikan kolaborasi berlangsung bukan hanya pada tahap pencarian dan pertolongan. Penanganan bencana, menurut Wakapolda, memerlukan keterpaduan di berbagai fase berikutnya.

Koordinasi tersebut mencakup evakuasi, pengamanan lokasi bencana, pengaturan lalu lintas, perlindungan masyarakat, hingga distribusi bantuan. Dengan penanganan yang terintegrasi, proses-proses penting tersebut diharapkan dapat berjalan lebih tertib dan tepat sasaran.

Bagi masyarakat, kehadiran aparat dan tim penyelamat yang bergerak secara terpadu diharapkan memberi rasa aman. Pada saat yang sama, warga tidak harus menghadapi situasi bencana sendirian tanpa dukungan dan pengorganisasian yang jelas.

Wakapolda menyampaikan bahwa penguatan kolaborasi ini juga menjadi pengingat bahwa penanggulangan bencana adalah tanggung jawab bersama. Dalam kerangka tersebut, keterlibatan berbagai pihak dinilai penting untuk membangun kesiapsiagaan yang berkelanjutan.

“Dengan kolaborasi yang semakin kuat, diharapkan seluruh unsur terkait tidak hanya siap ketika bencana datang, tetapi juga mampu meminimalkan risiko dan dampak yang ditimbulkan,Sebab pada akhirnya, penanganan bencana bukan hanya tentang seberapa cepat sebuah lembaga datang ke lokasi, melainkan tentang seberapa solid seluruh kekuatan bergerak bersama untuk menyelamatkan kehidupan”,tutupnya.

Melalui latihan, edukasi, dan evaluasi berulang

Gorontalo, sebagaimana disampaikan dalam pemberitaan, memiliki berbagai potensi kerawanan yang membutuhkan perhatian serius. Karena itu, kesiapsiagaan harus terus dipelihara agar tidak sekadar menjadi program sesaat, melainkan menjadi kebiasaan dan budaya kerja.

Pemeliharaan kesiapsiagaan tersebut dilakukan melalui latihan, koordinasi, serta edukasi kepada masyarakat. Langkah-langkah itu dipadukan dengan evaluasi terhadap setiap langkah penanganan yang telah dilakukan.

Dengan pendekatan yang berulang dan terukur, koordinasi antarunsur diharapkan semakin matang. Hasilnya, saat bencana terjadi, setiap pihak dapat memahami tugas masing-masing dan bergerak dalam satu tarikan arah untuk mengurangi risiko serta dampak yang ditimbulkan.

Wakapolda menempatkan tujuan akhirnya pada keselamatan masyarakat. Respons yang cepat memang dibutuhkan, namun yang sama penting adalah kekompakan seluruh kekuatan yang bergerak bersama untuk menyelamatkan kehidupan.