Peristiwa

Warung dan Minimarket di Reok, NTT, Belum Dibuka Usai Gempa M 7,7

×

Warung dan Minimarket di Reok, NTT, Belum Dibuka Usai Gempa M 7,7

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: Pasca-gempa M 7,7 NTT, Warung dan Minimarket Masih Tutup di Reok

jurnalistik.co.id – Kecamatan Reok di Kabupaten Manggarai, Nusa Tenggara Timur, belum pulih sepenuhnya setelah gempa berkekuatan M 7,7 yang disusul tsunami pada Sabtu, 15 Agustus 2026.

Gempa tersebut menyebabkan belasan orang meninggal dunia, sementara ratusan bangunan dan rumah warga rusak parah. Hingga Senin (17/8/2026), ribuan warga masih mengungsi dan menumpuk di posko pengungsian.

Penelusuran di lapangan dari arah Kota Ruteng menuju Reok pada Senin sore menunjukkan aktivitas ekonomi belum berjalan normal. Sejumlah warung makan memilih tetap tutup, dan kondisi sebagian besar bangunannya terlihat terdampak gempa.

Tidak hanya warung makan, bangunan minimarket juga tampak ambruk dan tidak beroperasi. Sebagian besar bangunan di jalan utama Reok terlihat mengalami kerusakan akibat guncangan.

Maherti Wahab, jurnalis RRI yang melakukan peliputan di Reok, menyampaikan kondisi itu secara langsung. “Mau cari makan siang, tidak ada warung. Alfamart juga tutup karena ambruk,” ujarnya.

Trauma setelah gempa susulan

Camát Reok, Rita Udin, menjelaskan bahwa setelah peristiwa itu warga masih diliputi trauma. Menurutnya, pemilik warung belum berani membuka usaha karena gempa susulan yang terus terjadi.

Ia menambahkan, warga yang tinggal di posko pengungsian bahkan enggan pulang ke rumah. Perasaan takut dan trauma dirasakan dalam waktu yang panjang.

“Hampir semua masih tidur di luar rumah. Baik itu di posko, maupun tenda yang dibangun mandiri,” tutur Udin saat Senin malam.

Di lingkungan tempat pengungsian, sejumlah warga mengambil keputusan yang sama. Sudarti (46) mengatakan ia hanya akan kembali ke rumahnya ketika perlu untuk mandi.

Sudarti kini menempati salah satu tenda di posko utama Kecamatan Reok bersama keluarganya. Ia menggambarkan kerusakan rumah yang mereka tinggali sebelumnya sebagai alasan utama untuk menunda kepulangan. “Rumah hancur. Kami sebenarnya belum berani pulang. Kalau mau mandi baru ke rumah,” katanya.

Logistik makan dari posko

Untuk memenuhi kebutuhan makan, warga mengandalkan logistik yang disiapkan di posko pengungsian. Sudarti menyebut mereka selalu diberi beras dan sayur setiap hari sejak hari pertama kejadian.

Di tengah keterbatasan aktivitas harian, bantuan pangan juga menjadi bagian dari respons terhadap korban gempa. Informasi yang beredar menyebut Kementerian Pertanian mengirim bantuan 5.386 ton beras untuk korban gempa NTT.

Dengan kondisi warung dan minimarket yang masih tutup serta bangunan yang belum sepenuhnya aman, rutinitas warga Reok masih terpusat di lingkungan pengungsian. Pada saat yang sama, ketidakpastian akibat gempa susulan membuat warga belum berani kembali ke tempat tinggal masing-masing.

Hingga beberapa hari setelah kejadian, suasana di Reok masih terasa tidak seperti biasanya. Kerusakan yang tampak pada rumah dan bangunan membuat warga mengambil langkah hati-hati, terutama saat harus beraktivitas di luar. Rutinitas yang biasanya dilakukan di lingkungan tempat tinggal bergeser ke area pengungsian.

Di posko, warga saling menyesuaikan jadwal agar kebutuhan dasar tetap terpenuhi. Ketika sebagian toko belum beroperasi dan akses menuju rumah masih dibayangi kekhawatiran, pengaturan makan menjadi salah satu hal yang paling dirasakan dampaknya. Bantuan pangan yang disiapkan di posko membantu menjaga keberlangsungan harian mereka.

Pada saat yang sama, dampak gempa ikut memengaruhi pilihan warga untuk menyiapkan kebutuhan sehari-hari. Beberapa warga menunda kepulangan bukan semata-mata karena lokasi rumah, melainkan karena kondisi bangunan yang tidak lagi nyaman untuk dihuni. Akibatnya, keberadaan tenda dan posko yang telah dibangun menjadi titik rujukan utama.

Ketidaknormalan kondisi lapangan juga terlihat dari berhentinya sebagian aktivitas usaha di jalan utama. Warung makan dan minimarket yang tidak beroperasi memperkuat gambaran bahwa pemulihan belum berjalan cepat. Selama gempa susulan masih terjadi dan rasa takut belum mereda, warga cenderung memilih tetap bertahan di tempat pengungsian sampai keadaan lebih aman.