jurnalistik.co.id – Kenaikan harga BBM non-subsidi jenis Pertamax berdampak langsung pada pengguna mobil di Kota Semarang. Harga Pertamax disebut naik dari Rp 12.300 menjadi Rp 16.250 per liter, sehingga sebagian warga mengaku harus menata ulang pengeluaran harian dan pola mobilitas.
Sejumlah pengguna Pertamax di Semarang memilih memangkas perjalanan yang tidak mendesak. Mereka juga mulai beralih menggunakan ojek online (ojol) untuk menekan biaya, setidaknya di tengah kondisi harga kebutuhan yang ikut meningkat.
Semarang: rekreasi dikurangi, penggunaan Pertamax ditekan
Salah seorang warga Semarang, Yusuf (26), mengeluhkan lonjakan harga itu karena mobilnya mengharuskan penggunaan BBM dengan oktan RON 92. Yusuf menyatakan, “Jujur kecewa (dengan kenaikan harga Pertamax ), soalnya naiknya Rp 3.000-an lebih per liter. Tapi mau gimana lagi, spesifikasi mesin mengharuskan pakai minimal RON 92. Soalnya mobilku hybrid,” kata Yusuf melalui pesan singkat pada Kamis (11/6/2026).
Dalam perhitungannya, Yusuf menghabiskan sekitar Rp 400.000-500.000 sekali dalam dua pekan untuk kebutuhan BBM. Untuk tetap bisa memakai Pertamax, ia mengaku mengubah cara penggunaan, dengan “Buat menyiasatinya tetap pakai Pertamax, cuma pemakaiannya dikurangi dan lebih pakai motor kalau nggak penting-penting banget,” ujar Yusuf.
Ia juga berencana mengurangi rekreasi menggunakan mobil agar pengeluaran tidak makin berat. Yusuf menjelaskan, “Kemungkinan bakal ngurangin perjalanan sih. Biasanya tiap weekend pergi buat jalan-jalan, sekarang mungkin dua minggu sekali saja.”
Selain itu, ia memperkirakan pengisian bensin ke depan akan lebih dibatasi. Yusuf mengatakan, “Isi bensin ke depan mungkin cuma beli Rp 300 ribu karena pastinya harga kebutuhan pokok juga bakal naik. Selisihnya buat kebutuhan sehari-hari,”
Magelang: takut pengaruh ke mesin, tetap Pertamax
Di Magelang, Midi (56) menyebut mulai mengurangi mobilitas setelah harga Pertamax naik. Menurut Midi, ia enggan beralih ke BBM beroktan lebih rendah karena khawatir berdampak pada kondisi mesin.
Midi menyatakan, “Kalau diturunin ke Pertalite takutnya berpengaruh ke mesin, mobilku kan HRV. Mau nggak mau tetap pakai Pertamax karena memang kebutuhan mesinnya begitu,” kata Midi. Ia menilai kenaikan harga BBM semakin mengimpit masyarakat di Jawa Tengah, terutama karena upah yang tidak banyak berubah.
Midi juga mengaitkan kenaikan biaya hidup dengan pendapatan yang cenderung tetap. Ia mengeluh, “Pendapatan kita segitu-gitu aja, tapi semuanya naik. Kalau pendapatan ikut naik mungkin nggak terlalu masalah.”
Karena itu, ia memilih mengurangi rekreasi menggunakan mobil daripada harus mengeluarkan lebih besar untuk membeli BBM yang harganya lebih tinggi. Midi menyebut langkah tersebut sebagai upaya untuk menjaga pengeluaran tetap terkendali.
Di akhir penuturannya, Midi berharap pemerintah dapat mengatur harga BBM dengan lebih bijak agar tidak mempersulit masyarakat. Ia menilai kebutuhan sehari-hari yang ikut naik menjadi faktor yang membuat beban semakin terasa, khususnya bagi warga dengan pendapatan yang terbatas.
Secara keseluruhan, baik di Semarang maupun Magelang, kenaikan Pertamax membuat warga menyesuaikan pilihan transportasi dan frekuensi penggunaan mobil. Di tengah kebutuhan yang sama-sama meningkat, keputusan untuk menghemat biaya dipilih sebagai cara menghadapi kondisi harga BBM yang berubah.
Di kedua kota, warga cenderung menghitung ulang biaya saat harus berangkat dengan mobil. Kenaikan harga Pertamax membuat mereka menimbang mana perjalanan yang benar-benar perlu dan mana yang bisa diganti dengan opsi lebih murah. Dengan begitu, penggunaan BBM beroktan tinggi tidak diborong untuk kebutuhan yang sebenarnya bisa ditunda.
Bagi Yusuf dan Midi, pembatasan konsumsi muncul bukan semata-mata karena ingin hemat, tetapi juga karena pertimbangan spesifikasi mesin. Yusuf yang menyebut mobilnya hybrid tetap memilih Pertamax dengan cara menyesuaikan frekuensi, sementara Midi yang merasa khawatir jika beralih ke BBM beroktan lebih rendah memilih menjaga kualitas sesuai kebutuhan mesinnya. Keduanya akhirnya sama-sama berujung pada langkah mengatur ulang jadwal dan pola pemakaian kendaraan.
Perubahan kebiasaan ini turut terlihat dari cara warga menata pengeluaran harian ketika harga kebutuhan lain ikut meningkat. Mereka berharap kebijakan terkait BBM bisa lebih mempertimbangkan kondisi pendapatan yang relatif tetap, sehingga masyarakat tidak makin terbebani dan tetap punya ruang untuk mengatur kebutuhan tanpa harus membuat pilihan yang terlalu memberatkan.












