jurnalistik.co.id – Bursa Efek Indonesia (BEI) melakukan evaluasi mayor pada sejumlah indeks saham, termasuk KOMPAS100. Penyesuaian komposisi tersebut berlaku mulai 3 Agustus 2026.
Dalam pengumumannya, BEI menyampaikan ada 9 saham baru yang masuk sebagai konstituen Indeks KOMPAS100. Pada saat yang sama, terdapat 9 saham yang dikeluarkan dari daftar konstituen indeks tersebut.
Saham baru masuk dan saham yang terdepak
Adapun sembilan saham yang masuk KOMPAS100 adalah BFI Finance Indonesia Tbk (BFIN), Astralindo Nusantara Tbk (BIPI), Bakrie & Brothers Tbk (BNBR), Indokom Strategi Investama Tbk (COIN), Merdeka Battery Materials Tbk (EMAS), Gudang Garam Tbk (GGRM), PP London Sumatra Indonesia Tbk (LSIP), Sanurhasta Mitra Tbk (MINA), serta RMK Energy Tbk (RMKE).
Sementara itu, sembilan saham yang keluar dari KOMPAS100 meliputi Barito Renewables Energy Tbk (BREN), Bank BTPN Syariah Tbk (BTPS), Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA), MD Entertainment Tbk (FILM), MD Entertainment Tbk (HMSP), Indocement Tunggal Prakarsa Tbk (INTP), Dayamitra Telekomunikasi Tbk (MTEL), Industri Jamu dan Farmasi Sido Muncul Tbk (SIDO), dan Transcoal Pacific Tbk (TCPI).
Rebalancing ini menegaskan adanya rotasi konstituen pada indeks, dengan masuknya saham-saham baru sekaligus penggantian terhadap saham yang tidak lagi menjadi bagian dari komposisi indeks.
Indeks KOMPAS100 diukur dari likuiditas dan kapitalisasi
Indeks KOMPAS100 dirancang untuk mengukur kinerja harga dari 100 saham. Kriteria yang disebutkan mengacu pada likuiditas yang baik serta kapitalisasi pasar yang besar.
Indeks ini diluncurkan dan dikelola dalam kerja sama dengan perusahaan media Kompas Gramedia Group.
Dengan demikian, perubahan komposisi melalui evaluasi mayor menjadi bagian dari mekanisme penyesuaian agar indeks tetap merefleksikan kumpulan saham yang memenuhi karakteristik yang ditetapkan.
Daftar konstituen yang tercantum beserta rasio free float
Berita Terkait
BEI juga menyajikan daftar anggota Indeks KOMPAS100 hasil evaluasi mayor berikut rasio free float. Pada bagian daftar yang tercantum, komposisinya meliputi AADI 18,62 persen, ACES 39,66 persen, ADMR 11,90 persen, ADRO 26,37 persen, AKRA 32,53 persen, AMMN 22,76 persen, AMRT 40,89 persen, ANTM 34,84 persen, ARCI 15,82 persen, ARTO 27,20 persen, ASII 43,51 persen, BBCA 42,44 persen, BBNI 38,63 persen, BBRI 42,57 persen, serta BBTN 35,09 persen.
Masih dalam daftar yang tercantum, rasio free float juga ditampilkan untuk BBYB 48,21 persen, BFIN 44,34 persen, BIPI 43,68 persen, BKSL 17,98 persen, BMRI 38,91 persen, BNBR 23,70 persen, BRIS 9,33 persen, BRMS 51,44 persen, BRPT 26,90 persen, BSDE 19,01 persen, BUKA 30,79 persen, BULL 53,46 persen, dan BUMI 43,25 persen.
Rasio free float tersebut menggambarkan porsi saham yang beredar dan tersedia untuk diperdagangkan secara publik, sehingga turut menjadi pertimbangan dalam penyajian komposisi indeks.
Dengan berlakunya rebalancing pada 3 Agustus 2026, pelaku pasar akan mulai menyesuaikan referensi investasi dan strategi yang merujuk pada pergerakan Indeks KOMPAS100. Penetapan konstituen baru serta pengeluaran saham lama menjadi poin penting menjelang perubahan komposisi tersebut.
Evaluasi mayor pada KOMPAS100 menunjukkan bahwa BEI melakukan penyelarasan komposisi indeks secara berkala, agar daftar konstituen tetap sesuai karakter yang ditetapkan dalam hal likuiditas serta besaran kapitalisasi.
Bagi pelaku pasar yang menggunakan indeks ini sebagai rujukan, pergantian konstituen menjadi bagian penting dari pembacaan arah pergerakan. Menjelang tanggal berlakunya, perhatian biasanya diarahkan pada perbandingan komponen yang bertahan dengan yang diganti.
Selain nama saham, penyajian rasio free float pada daftar konstituen ikut melengkapi konteks evaluasi. Informasi porsi saham yang beredar tersebut membantu pembentukan gambaran keterwakilan saham publik dalam indeks, khususnya saat terjadi penyesuaian komposisi.












