Hukum & Kriminal

Handphone Ojol Diduga Dibidik Massa Saat Rekam Penggerudukan Mapolsek Metro Menteng

×

Handphone Ojol Diduga Dibidik Massa Saat Rekam Penggerudukan Mapolsek Metro Menteng

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: Ponsel Ojol Dirusak Massa saat Rekam Penggerudukan Mapolsek Menteng

jurnalistik.co.id – Handphone seorang pengemudi ojek online diduga menjadi sasaran kerusakan saat ia merekam penggerudukan Mapolsek Metro Menteng pada Minggu malam, 26/7/2026. Peristiwa itu terjadi ketika situasi di sekitar kantor polisi sedang memanas dan massa mulai berkerumun.

Menurut keterangan yang beredar dari lingkungan komunitas ojol melalui grup WhatsApp, tindakan tersebut bermula saat pengemudi ojol berada di lokasi kejadian. Di tengah keributan, ia memilih merekam momen yang sedang berlangsung.

Sejumlah warga yang disebut merupakan rekan dan keluarga korban tewas dalam bentrokan di Jalan Tambak l, Pegangsaan, Menteng, Jakarta Pusat, diketahui mendatangi Polsek Menteng pada Minggu (26/7/2026) malam. Selain menuju area permukiman, mereka juga menggeruduk area sekitar kantor kepolisian.

Ahmad (32), pengemudi ojol yang juga warga Pegangsaan, menyampaikan bahwa perusakan ponsel terjadi karena pelaku diduga tepergok merekam aksi kerumunan di Mapolsek Menteng. Ia menuturkan kasus itu dialami rekan seprofesinya.

“Yang ramai itu di Polsek kalau semalam, ada katanya ojol juga satu handphone-nya rusak katanya dibanting, gara-gara dia nge-videoin pas orang-orang itu di Polsek. Eh ketahuan, diambil handphone-nya dibanting,” kata Ahmad saat berbincang di lokasi, Senin (27/7/2026).

Ahmad menjelaskan, berdasarkan cerita yang menyebar di komunitas, pengemudi ojol tersebut sedang duduk bertiga di pinggir jalan ketika massa mulai berkerumun. Saat kerumunan makin ramai dan terdengar teriakan, ia merekam kejadian yang sedang terjadi.

Dalam keterangan itu, perhatian massa kemudian tertuju pada aktivitas merekam yang dilakukan pengemudi ojol. Salah seorang dari kerumunan yang melihat perekaman disebut merasa tidak senang dan menghentikan aksi tersebut.

“Pas ramai ngevideoin, eh disamperin terus dia teriak-teriak gitu, lalu dibanting handphone-nya,” ucap Ahmad.

Ahmad menilai tindakan perusakan tersebut berpotensi menambah ketegangan di lokasi. Ia juga mengungkapkan rasa khawatir keributan yang ada bisa merembet ke kelompok ojol lain.

Ia berharap peristiwa tersebut tidak memicu rangkaian tindakan lanjutan di antara kelompok ojol. Menurutnya, ketakutan utama adalah adanya ojol lain yang ikut terlibat sehingga situasi menjadi lebih ramai.

“Enggak tahu deh habis itu gimana, cuma kayaknya takutnya nanti ada ojol yang malah ikutan, takut malah ramai lagi kan. Semoga sih enggak ramai lagi ya, takut juga kita,” harapnya.

Di luar insiden perusakan ponsel, warga juga mengisahkan adanya kedatangan massa kembali pada waktu tengah malam. Massa tersebut disebut datang lagi ke kawasan Jalan Tambak pada pertengahan malam.

Kerumunan itu diperkirakan berjumlah sekitar 50 orang. Mereka disebut membawa berbagai senjata tajam serta alat panah dan busur.

Isnawati (40), warga sekaligus pedagang setempat, mengaku merasa sangat panik. Ia menyatakan tidak bisa tidur akibat teror yang dirasakan selama massa berada di sekitar lokasi.

Ia menggambarkan ketidaknyamanan yang muncul setelah massa kembali datang dan membawa senjata. Kondisi itu, menurutnya, membuat suasana di sekitar Jalan Tambak menjadi tidak aman.

Dengan demikian, peristiwa pada Minggu malam tidak hanya menyangkut dugaan kerusakan ponsel pengemudi ojol. Kejadian itu berlangsung di tengah situasi bentrokan dan didukung kabar adanya kerumunan bersenjata yang datang kembali pada tengah malam.

Hingga saat ini, yang mengemuka di lapangan adalah kesaksian Ahmad terkait urutan kejadian ketika ponsel dibanting karena merekam. Selain itu, keterangan Isnawati menegaskan adanya rasa teror di lingkungan warga setelah kerumunan kembali mendatangi kawasan Jalan Tambak.

Kesaksian-kesaksian tersebut memperlihatkan bagaimana ketegangan di sekitar Mapolsek Metro Menteng dapat berdampak langsung pada aktivitas warga, termasuk pengemudi ojol. Perusakan ponsel dan situasi yang disebut dipenuhi ancaman menjadi bagian dari rangkaian kejadian malam itu.

Harapan Ahmad agar insiden tidak melebar mencerminkan kekhawatiran yang sama dari banyak pihak. Ia menilai, jika ada ojol lain yang ikut terseret dinamika kerumunan, keributan berpotensi semakin meluas.

Di sisi lain, warga setempat seperti Isnawati menonjolkan dampak psikologis dari keberadaan massa. Tidak bisa tidur karena takut menjadi indikator bahwa ancaman yang dirasakan tidak berhenti setelah kerusuhan utama.