jurnalistik.co.id – FIFA menyatakan sedang menilai laporan pertandingan sebelum menentukan apakah akan menjatuhkan sanksi kepada Argentina setelah laga semifinal Piala Dunia 2026 mereka.
Keputusan itu muncul usai pemain Argentina merayakan kemenangan 2-1 atas Inggris dengan menampilkan spanduk yang berbunyi “Las Malvinas son Argentinas”. Pertandingan tersebut berlangsung di Atlanta dan menjadi panggung “comeback” terlambat yang memastikan Argentina lolos ke laga final.
Argentina, yang berstatus juara dunia bertahan, mencetak dua gol pada akhir laga untuk menaklukkan tim yang dilatih Thomas Tuchel dengan skor 2-1. Setelah peluit akhir, spanduk tersebut diangkat saat tim merayakan kemenangan.
FIFA kemudian melakukan evaluasi terhadap insiden itu. Dalam pernyataannya, seorang juru bicara FIFA menyampaikan: “As is standard procedure, Fifa’s independent disciplinary committee is currently assessing the match reports and considering the relevant circumstances before deciding on potential further steps based on the Fifa disciplinary code.”
Spanduk “Las Malvinas son Argentinas” berkaitan dengan sengketa kedaulatan Kepulauan Falkland (Falklands). Wilayah itu merupakan teritori seberang laut milik Inggris di Samudra Atlantik bagian barat daya, dan hingga kini menjadi objek pertentangan klaim antara Inggris dan Argentina.
Catatan sanksi FIFA di masa lalu
Ini bukan kali pertama Argentina menghadapi konsekuensi terkait spanduk bernuansa politik serupa. Asosiasi sepak bola Argentina pernah didenda 20.000 poundsterling oleh FIFA pada 2014 karena membawa spanduk dengan pesan yang sama sebelum pertandingan persahabatan melawan Slovenia.
Pada saat itu, FIFA menyatakan bahwa aksi tersebut melanggar aturan terkait “political action and team misconduct”.
Di tengah polemik terbaru, Downing Street turut mendukung agar FIFA menindaklanjuti insiden tersebut. Juru bicara resmi perdana menteri mengatakan: “The World Cup might not be ours, but the Falkland Islands definitely are. Our commitment to the Falklands will never waver.”
Sikap Presiden Javier Milei
Presiden Argentina Javier Milei menilai tindakan para pemain bisa dimaklumi. Ia disebut menyatakan aksi tersebut “understandable” dan “valid”, menurut laporan media.
Meski begitu, Milei juga menekankan batas antara lapangan sepak bola dan diplomasi. Ia menyatakan: “the things that happen on the pitch are not part of diplomacy”. Dalam komentar lain di Radio El Observador, ia menambahkan, “Indeed, the Malvinas are Argentine, we are going to recover them, and we’re going to do it in the diplomatic field, by acting intelligently,”.
Argentina sendiri pernah berperang untuk merebut kepulauan tersebut. Pada 1982, negara ini yang saat itu dipimpin junta militer dipimpin Jenderal Leopoldo Galtieri menginvasi wilayah yang berjarak sekitar 300 mil dari pantai timur Argentina.
Konflik yang berlangsung selama 74 hari, mulai April hingga Juni 1982, berujung pada kematian 649 personel Argentina dan 255 personel Inggris. Tiga orang dari Kepulauan Falkland juga dilaporkan meninggal dunia.
Pada 2013, rakyat Kepulauan Falkland memilih secara kuat untuk tetap menjadi teritori seberang laut milik Inggris. Dari 1.517 suara yang tercatat dalam referendum dua hari (dengan tingkat partisipasi lebih dari 90%), 1.513 suara mendukung opsi tersebut, sedangkan hanya tiga suara menentang.
Berita Terkait
Potensi sanksi dan preseden lain
Dalam praktiknya, FIFA biasanya memberi tindakan disipliner untuk pelanggaran regulasi secara umum yang dilakukan pemain atau pendukung tim dalam beberapa minggu setelah turnamen. Namun, insiden kali ini bisa dipandang lebih serius karena terjadi dalam laga Piala Dunia antara dua negara.
Saat ini, tidak ada prospek Argentina kehilangan tempatnya di final. Namun, diskusi publik muncul mengenai kemungkinan penangguhan untuk laga final menghadapi Spanyol.
Pemimpin Liberal Demokrat Ed Davey menyatakan para pemain yang mengangkat spanduk itu seharusnya diberi sanksi. Ia menyerukan agar mereka disuspensi untuk final hari Minggu melawan Spanyol. Davey juga mengaitkan permintaan itu dengan preseden di kompetisi UEFA, termasuk larangan satu pertandingan untuk Álvaro Morata dan Rodri setelah mereka berteriak “Gibraltar is Spanish” dalam perayaan Euro 2024.
Gibraltar, yang merupakan enklave di ujung selatan Spanyol, berada di bawah kekuasaan Inggris sejak abad ke-18, sementara Spanyol telah lama mengajukan klaim untuk mengembalikan wilayah tersebut.
Selain itu, ada preseden lain terkait spanduk dengan pesan politik. Setelah pertandingan perebutan medali perunggu pada Olimpiade 2012, gelandang Korea Selatan Park Jong-woo membawa poster bertuliskan “Dokdo is our territory”. Lebih dikenal sebagai Liancourt Rocks, kawasan itu dikelola oleh Korea Selatan, sementara Jepang memegang klaim atas wilayah tersebut.
Park kemudian didakwa FIFA, dan beberapa bulan setelahnya ia menerima skorsing dua pertandingan. Skorsing tersebut membuatnya absen pada dua laga kualifikasi Piala Dunia.
Reaksi dari Kepulauan Falkland dan pejabat Inggris
Pemerintah Kepulauan Falkland menyatakan sikapnya atas insiden spanduk tersebut. Mereka menyebut merasa “disappointed” dan berharap FIFA akan “sanction all behaviour of this nature in line with its own rules”. Mereka juga mengatakan: “we do not wish to see politics being brought into sport”.
Milei, menurut laporan dari penyiar Argentina TN, menyatakan sikap yang lebih membela tindakan para pemain. Ia berkata, “perfectly valid and right that the players should want to express themselves and do so”. Namun ia juga menambahkan bahwa hal itu tidak boleh menimbulkan interpretasi yang keliru, dengan menyebut, “bad interpretations,”.
Ia menegaskan: “It’s a game of football, that’s how the team manager and the veterans [in Argentina of the 1982 Falklands War] understood it”.
Di pihak pemerintah Inggris, Peter Kyle, yang menjabat sebagai business and trade secretary, menyatakan pentingnya memisahkan politik dari ajang sepak bola. Ia mengatakan: “I’m really proud of our team, what they achieved, the professionalism they showed, but also the dignity that they showed,”.
Ia menambahkan bahwa sikap tim pada laga itu berbeda dengan apa yang dilihatnya pada pertandingan sebelumnya, dengan kalimat: “And that was in real contrast to what we saw with the Argentine team last night. When it comes to the consequences for their actions, well, that’s for Fifa to do now. And I really do hope that Fifa do a proper investigation into it”.
Senada, Kemi Badenoch selaku pemimpin Partai Konservatif turut mengulang seruan serupa. Ia menyatakan FIFA “absolutely should investigate”.
Dengan berbagai respons itu, FIFA kini berada pada tahap penilaian laporan pertandingan. Keputusan akhir mengenai apakah sanksi akan dijatuhkan kepada Argentina akan mengikuti prosedur disipliner dan mempertimbangkan kondisi yang relevan sesuai kode disiplin FIFA.












