Olahraga

Thomas Tuchel Diminta Benahi Inggris Seusai Tersingkir di Piala Dunia 2026 Menuju Euro 2028

×

Thomas Tuchel Diminta Benahi Inggris Seusai Tersingkir di Piala Dunia 2026 Menuju Euro 2028

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: World Cup 2026: How does Thomas Tuchel fix England for Euro 2028?

jurnalistik.co.id – Kepulangan Inggris dari Piala Dunia 2026 dinilai terlalu lemah untuk ukuran tim yang mengincar masa depan. Kini Thomas Tuchel diminta membenahi fondasi skuad dan pendekatan permainannya agar siap menatap kualifikasi Euro 2028.

Langkah Inggris sebenarnya sempat mengarah pada skenario yang menguntungkan. Mereka memegang keunggulan, lalu justru kemasukan saat momen-momen akhir berjalan, hingga kalah 2-1 dari Argentina dan gagal melaju ke partai puncak.

Setelah jeda turnamen, Inggris tetap akan segera memasuki rangkaian pertandingan berikutnya. Mereka akan bertemu Spanyol di Stadion Wembley pada 26 September dalam ajang Nations League.

Kompetisi yang sama juga akan membawa Inggris menghadapi Republik Ceko serta dua pertemuan melawan rival lama, Kroasia. Dari sana, fokus berikutnya bergeser ke program kualifikasi Euro 2028, yang dijalani Inggris meski berstatus tuan rumah bersama.

Kontrak Tuchel sendiri sudah diperpanjang. Meski begitu, jeda yang tersisa tidak terlalu panjang untuk menutup berbagai pertanyaan besar yang muncul setelah turnamen berakhir.

Rencana cadangan di lini depan: tugas utama setelah Kane

Salah satu pertanyaan kunci adalah apakah Inggris memiliki opsi yang cukup sebagai alternatif di belakang Harry Kane. Di usia 33 tahun pada 28 Juli, Kane masih menjadi poros, tetapi menuntut ritme beban yang berat jika tidak disuplai pemain lain yang setara.

Kane datang dari musim yang sangat produktif di Bundesliga, dengan mencetak 61 gol di semua kompetisi. Namun, jelang Euro 2028 masalah “plan B” justru dianggap belum sepenuhnya siap jika Kane tidak tersedia atau tidak bisa dimainkan penuh.

Walau menjadi kapten dan mencetak enam gol di Piala Dunia, Kane menilai obrolan soal final 2030 masih terlalu cepat. Setelah kekalahan dari Argentina, ia menyatakan “too early” untuk membicarakan tampil di final 2030.

Tuchel perlu merancang pola yang tetap tajam tanpa bergantung pada satu nama. Dalam beberapa kesempatan, kesempatan untuk memainkan opsi lain memang ada, tetapi belum berkembang menjadi solusi permanen.

Phil Foden pernah dicoba sebagai “false nine” saat melawan Uruguay pada Maret. Ia dinilai kurang tampil meyakinkan hingga tidak mendapat tempat pada Piala Dunia.

Tuchel juga membawa dua penyerang tengah, Ollie Watkins dan Ivan Toney, tetapi keduanya hanya diberi porsi terbatas. Watkins, pencetak gol terbanyak Inggris pada musim Premier League lalu dengan 16 gol, hanya bermain enam menit saat menggantikan Kane saat menghadapi Panama.

Kane sendiri memainkan hampir seluruh menit kecuali saat pergantian terjadi. Misalnya, melawan Meksiko, Kane bermain dengan jeda hingga ada momen ketika Morgan Rogers menggantikannya pada tambahan waktu.

Sementara itu, Toney yang juga berusia 30 tahun hanya mendapat waktu menjelang akhir, tepatnya di fase tambahan waktu saat melawan Argentina. Pola pemakaian itu memperkuat kesan bahwa Inggris terlalu bergantung pada Kane.

Dalam 12 bulan terakhir, nama lain yang dipakai sebagai striker antara lain Dominic Solanke (28) dan Dominic Calvert-Lewin (29). Namun, usia dari hampir seluruh opsi penyerang tidak lagi berada pada fase ideal untuk regenerasi cepat menjelang Euro 2028.

Watkins mencatat angka tertinggi di kelompoknya, begitu pula Calvert-Lewin dengan 14 gol dan Danny Welbeck yang membukukan 13 gol untuk Brighton. Masalah berikutnya adalah ketersediaan pemain muda yang mampu mengisi ruang tersebut masih belum jelas dari proyeksi yang ada.

Eddie Nketiah sempat diharapkan menjadi penerus karena rekor golnya di level Inggris U-21. Akan tetapi, ia mencatat hanya lima gol Premier League dalam dua musim bersama Crystal Palace.

Nama lain yang mulai dipantau adalah Liam Delap yang saat ini masih berusia 23 tahun dan mencetak 12 gol Premier League untuk Ipswich Town pada 2024-25. Pertanyaannya adalah apakah ia akan menemukan bentuknya bersama Chelsea, atau bersama klub barunya.

Minimnya kepercayaan pada Mainoo di tengah

Selain lini depan, turnamen ini juga menonjolkan tema lain: kurangnya kepercayaan Tuchel terhadap Kobbie Mainoo. Di fase tengah lapangan, Tuchel memang melakukan perubahan, tetapi tidak memilih membawa Mainoo masuk sebagai opsi.

Mainoo kembali ke Old Trafford sebagai satu-satunya pemain lapangan dari skuad awal 26 orang yang tidak bermain satu menit pun di Piala Dunia. Jika Tuchel tidak menggunakan Mainoo sebagai deputi saat diperlukan, muncul pertanyaan mengapa pemain itu ada dalam rencana sejak awal turnamen.

Dalam beberapa momen, posisi gelandang bertahan yang seharusnya memberi ruang untuk Mainoo justru diisi oleh Reece James atau Nico O’Reilly. Sementara Mainoo tidak mendapat waktu bermain, keputusan itu menjadi sorotan karena bertabrakan dengan kebutuhan rotasi.

Namun, Inggris tetap bisa berharap masalah ini bersifat jangka pendek. Mainoo baru berusia 21 tahun dan masih punya waktu untuk berkembang, sejalan dengan opsi lain yang tersedia di area yang sama.

Adam Wharton dari Crystal Palace berusia 22 tahun dan sudah mengumpulkan empat caps. Ia juga disebut sial karena gagal masuk skuad Piala Dunia akibat kalah bersaing dengan Mainoo.

Alex Scott dari Bournemouth juga berusia 22 tahun. Ia sempat diundang mengikuti kamp pelatihan pramusim di Florida, tetapi masih menunggu debut pada panggung turnamen besar.

Bagi Tuchel, kebutuhan paling mendesak adalah menemukan pemain yang ia yakini untuk memberi rotasi di basis lini tengah. Jika tidak, dalam dua tahun ke depan Inggris berisiko kembali menempelkan solusi darurat dari lini belakang.

Prioritas jangka panjang: penerus Pickford dan sinyal kegagalan bertahan

Jika bicara penjaga gawang, isu untuk saat ini tidak dianggap terlalu mengkhawatirkan. Jordan Pickford akan berusia 34 tahun ketika Euro 2028 berlangsung, tetapi setelah itu muncul kebutuhan nyata untuk menyiapkan penerus.

Nama yang disebut sebagai suksesor jangka panjang adalah James Trafford. Ia dinilai perlu mulai bermain reguler setelah menjalani satu tahun sebagai pemain cadangan di Manchester City.

Sementara itu, persoalan lain menyangkut cara Inggris bertahan juga kerap dikaitkan dengan fase “pasif” yang berkembang setelah Inggris unggul. Laporan pertandingan menunjukkan perubahan tajam dibanding penampilan yang disebut sebagai salah satu momen terbaik mereka di turnamen.

Inggris pernah menjalani babak yang dominan saat melawan Kroasia dalam fase grup. Saat jeda setelah kemenangan 4-2 atas Kroasia, Tuchel menyampaikan, “even if we lose, let’s do it our way”.

Gaya dan intensitas itu seolah berbeda total ketika bersua Argentina. Hal yang menyusul setelah gol, menurut keterangan pemain, mengarah pada mentalitas untuk mundur dan menjaga jarak.

Marc Guehi mengatakan, “We should have carried on pushing.” Ia menambahkan bahwa setelah tercipta gol, situasi terasa berubah, dengan mentalitas “go back, defend”.

Ukuran penguasaan bola juga menjadi indikasi. Setelah Inggris mengambil keunggulan, mereka hanya mencatat kepemilikan 12%.

Dalam rentang 18 menit 37 detik sampai tepat sebelum Argentina menyamakan kedudukan, Inggris hanya menyelesaikan tiga umpan. Bahkan, di antara momen itu, hanya ada tiga operan yang tercatat terjadi antara Jordan Pickford dan John Stones, sementara lima upaya umpan lainnya semuanya gagal.

Tuchel memang menanggung kritik untuk pendekatan taktisnya. Namun, Inggris juga dinilai tidak bisa semata-mata dipersalahkan pada satu pihak, karena tidak ada dari 11 pemain yang bermain yang mampu memberi dampak saat tekanan serangan Argentina meningkat.

Dalam konteks itu, disebut juga bahwa hasil mungkin berbeda bila Tuchel memilih mengandalkan Mainoo atau memperkenalkan Marcus Rashford sebagai opsi keluar dari tekanan. Tetap saja, wave serangan Argentina terus bertambah, dan Inggris tidak berhasil memutus ritme tersebut.

Kontrak Tuchel dan pertarungan narasi: dari kemenangan sempurna hingga kritik

Inggris memperpanjang kontrak Tuchel dua tahun hanya beberapa jam sebelum drawing Nations League pada Februari. Alasan FA dinilai sederhana: mereka ingin mengamankan pelatih kelas elit untuk menjaga fokus menjelang Euro 2028 di kandang.

Selain itu, perpanjangan kontrak dinilai sekaligus mencegah spekulasi tanpa ujung mengenai masa depan Tuchel sebelum maupun selama Piala Dunia. Di sisi lain, ada pula argumen kontra bahwa pencapaian Tuchel tidak berarti besar jika ditilik dari lawan di babak kualifikasi.

Tuchel memang membawa Inggris lolos ke Piala Dunia dengan rekor sempurna: delapan pertandingan, delapan kemenangan, dan tanpa kebobolan. Namun, kontra yang muncul menyebut bahwa grup yang dihadapi mencakup Andorra, Albania, Latvia, dan Serbia sehingga hasil itu dipandang seperti formalitas belaka.

Dalam satu-satunya kesempatan menghadapi negara peringkat FIFA dunia top 20, Inggris justru kalah dari Senegal pada laga uji coba di City Ground. Karena itu, FA sebelumnya menilai Tuchel bisa menghindari “tactical naivety” yang sempat melekat pada pendekatan Gareth Southgate, tetapi pola tersebut diyakini terulang—kali ini bahkan dengan dampak yang lebih merusak melawan Argentina.

Tuchel pada akhirnya tetap mendapat dukungan dari FA. Namun, ada kemungkinan sebagian pendukung sudah kehilangan keyakinan, dan ia harus siap menelan kritik yang muncul.

Isu “mentality” juga dibahas ketika Inggris menang 2-1 atas Norwegia di perempat final. Tuchel menjawab pertanyaan dengan nada kesal, “Mentality? Mentality? This is pure mentality,” dan menegaskan bahwa mental tidak menjadi masalah utama.

Menjelang laga semifinal, ada pembahasan bahwa tim ini tidak terbelenggu oleh kekalahan-kekalahan sebelumnya. Tetapi dalam versi kritik, perjalanannya kali ini tidak lagi berbentuk kegagalan yang mulia, melainkan seperti “surrender”.

Dari rangkaian itu, Tuchel kini berhadapan dengan pekerjaan yang tidak hanya taktis, tetapi juga budaya tim. Perombakan solusi di depan, pilihan rotasi di tengah, dan cara menjaga ritme ketika memegang keunggulan menjadi PR utama sebelum Inggris mulai berburu poin di kualifikasi Euro 2028.