jurnalistik.co.id – Kekalahan 2-1 Inggris atas Argentina pada semifinal Piala Dunia 2026 di Atlanta pada Rabu menjadi bahan perbincangan hangat di dalam skuad. Di saat beberapa pemain menilai strategi bertahan saat tim unggul tampak masuk akal, ada pula yang merasa pilihan taktik Tuchel tidak berjalan sesuai harapan di fase akhir laga.
Dengan sisa 35 menit pertandingan pada fase reguler, Inggris sempat memimpin 1-0 dan terlihat berada di jalur untuk mencapai final Piala Dunia putra pertamanya sejak 1966. Namun, dinamika berubah dengan cepat ketika Argentina mulai meningkatkan intensitas dan menekan terus-menerus.
Menurut penuturan beberapa pihak kepada BBC Sport, sejumlah pemain kunci justru kecewa dengan cara tim mendekati menit-menit terakhir. Kekecewaan itu muncul bukan hanya karena hasil akhir, melainkan juga karena bagaimana ritme permainan Inggris beralih setelah momentum mulai condong ke Argentina.
Tuchel menyiapkan tim dengan formasi “back-five” untuk mengunci keunggulan. Tetapi, skema tersebut akhirnya tergerus ketika tekanan Argentina berlapis dan Inggris harus menghadapi serangan yang datang berulang-ulang di fase penutup.
Wayne Rooney, yang menjadi pundit, menilai kekalahan ini berawal dari pilihan manajer. Ia menyatakan kekalahan tersebut “started from the manager and the decisions he made”.
Antara menahan lawan dan memberi ruang untuk menekan balik
Di sisi lain, ada pengakuan di dalam skuad bahwa saat tim memimpin, memberi sebagian penguasaan bola kepada lawan adalah naluri yang wajar. Pemain-pemain memahami bahwa bertahan untuk melindungi keunggulan adalah bagian dari pekerjaan mereka pada momen-momen krusial.
Meski begitu, terdapat konsensus di kalangan sebagian pemain bahwa pergantian taktik dan keputusan pergantian pemain Tuchel ikut memperparah kemunduran defensif Inggris. Mereka meyakini langkah-langkah yang diambil di fase akhir membuat jarak antarlini semakin melebar sehingga Argentina lebih mudah membangun serangan.
Beberapa pemain beranggapan bahwa Inggris seharusnya memiliki lebih banyak “licence” untuk menekan bola pada menit-menit akhir. Tujuannya bukan semata-mata memaksa serangan tanpa rencana, melainkan memberi sedikit jeda bagi para bek melalui usaha mengusik progres lawan dari dekat.
Namun, yang terjadi justru sebaliknya. Sebagian pemain melihat Inggris lebih sering memilih untuk mengamankan situasi dengan membuang bola dan merapikan bentuk pertahanan. Mereka memandang pendekatan tersebut sebagai jalan yang diambil tim untuk bertahan, tetapi tidak semua setuju dengan efektivitasnya dalam tekanan berkelanjutan Argentina.
Dari penilaian internal, ada kesan bahwa Inggris bisa tampil lebih berani dan lebih tegas di bagian akhir pertandingan. Keberanian itu tidak selalu dimaknai harus “habis-habisan” mengejar gol kedua, melainkan menjaga keseimbangan antara bertahan menghadapi tekanan Argentina dan tetap menciptakan gangguan agar lawan tidak sepenuhnya nyaman membangun serangan.
Berita Terkait
Salah satu sumber juga menyebut, “They went too deep too early.” Kalimat tersebut menggambarkan persepsi bahwa Inggris terlalu cepat masuk ke kedalaman defensif, sehingga ruang gerak untuk mengontrol permainan jadi semakin terbatas.
Gaya pemain menjalankan instruksi, tetapi ketidaksetujuan tetap terasa
Pertentangan atau ketidakselarasan antara pemain dan manajer tidak selalu hal yang jarang dalam sepak bola profesional. Pemain terbiasa melaksanakan instruksi, bahkan ketika mereka memiliki pandangan berbeda mengenai arah permainan yang dipilih.
Namun, dalam kasus ini ada pengakuan adanya kegelisahan yang cukup nyata terhadap bagaimana Inggris menuntaskan pertandingan. Setidaknya tiga pemain senior disebut mengeluhkan pendekatan tim secara privat, khususnya terkait fase penutup ketika Argentina mulai menguasai jalannya laga.
Situasi itu lantas membentuk gambaran yang menarik menjelang periode berikutnya kepemimpinan Tuchel. Penilaian para pemain terhadap keputusan taktik di Atlanta dipandang akan menjadi elemen penting dalam dinamika pemain-manajer ke depan.
Tuchel sendiri datang dengan keyakinan bahwa ia adalah sosok yang mampu membawa Inggris “over the line”. Dalam era Gareth Southgate, Inggris mencapai satu semifinal Piala Dunia dan dua final Kejuaraan Eropa, tetapi Tuchel dinilai memiliki kecerdasan taktik yang dibutuhkan untuk mengubah tim yang selama ini kerap disebut “hampir” menjadi tim yang benar-benar menang.
Sejumlah pemain yang merasa Tuchel melakukan kesalahan di Atlanta menghadirkan potensi interaksi yang lebih kompleks antara manajer dan skuad. Hal ini diproyeksikan akan menjadi sorotan ketika Inggris memasuki kampanye kualifikasi Piala Eropa.
Posisi FA dan evaluasi setelah laga perebutan peringkat
Meski Tuchel disebut masih memperoleh dukungan penuh dari CEO FA, Mark Bullingham, kritik yang muncul setelah kekalahan dari Argentina dipastikan tidak akan luput dari perhatian. Seperti tradisi evaluasi turnamen, FA akan meninjau performa Inggris begitu tim kembali ke rumah setelah laga perebutan medali perunggu pada Sabtu melawan Prancis.
Pihak FA tetap memandang pencapaian Inggris hingga semifinal sebagai sesuatu yang pantas diapresiasi. Namun, jelas masih ada banyak yang perlu ditelusuri terkait keadaan-keadaan yang melatarbelakangi kekalahan Inggris dari Argentina.
Bagi skuad, perdebatan soal strategi defensif Tuchel bukan sekadar diskusi sesaat setelah pertandingan berakhir. Bahan-bahan itu kini menjadi bagian dari pembelajaran tim dan kemungkinan akan memengaruhi cara Inggris menata langkah pada pertandingan-pertandingan berikutnya, terutama ketika menghadapi tekanan dari lawan yang berani mengejar ketertinggalan.












