Olahraga

Piala Dunia 2026: Kenali SkyJo, permainan kartu yang dimainkan di kamp Inggris

×

Piala Dunia 2026: Kenali SkyJo, permainan kartu yang dimainkan di kamp Inggris

Sebarkan artikel ini
What is SkyJo? The card game being played in the England camp
Ilustrasi: World Cup 2026: What is SkyJo? The card game being played in the England camp

jurnalistik.co.id – Di Kansas City, skuat Inggris sedang menjalani tahap penting persiapan Piala Dunia 2026: menyetel permainan di lapangan sekaligus menjaga suasana kebersamaan di luar lapangan. Dua pekan sudah mereka menginap di pusat latihan tim, dan mereka baru akan berpindah penuh ke fase berikutnya setelah menyelesaikan rangkaian kegiatan yang membuat para pemain tetap terhubung.

Selama fase grup, perhatian memang banyak tertuju pada laga-laga besar, termasuk melawan Kroasia, Ghana, dan Panama. Namun pada jam-jam luang, waktu istirahat para pemain justru diisi dengan sejumlah permainan, dari Wolf sampai SkyJo dan Imposter, sebagai bagian dari upaya menjaga bonding tim.

Inggris sendiri sudah “membangun ritme” di base camp mereka sejak 1 Juni, lalu bergerak ke kamp utama sekitar dua pekan lalu. Jika mereka mampu melangkah sampai partai final, mereka akan berada di Kansas City setidaknya selama tiga pekan lagi, sehingga penting bagi staf untuk memastikan para pemain tidak hanya fokus latihan, tetapi juga tetap terhibur dan berada dalam kondisi mental yang tepat.

Untuk turnamen terdahulu, tim sudah akrab dengan Wolf, sebuah permainan yang mirip dengan acara BBC The Traitors. Saat Wolf dimainkan dalam periode persiapan menuju final Euro 2024 melawan Spanyol, para pemain bahkan menerima pesan dari Claudia Winkleman, pembawa acara The Traitors. Pada Piala Dunia 2026, Wolf tetap masuk daftar hiburan tim, namun kali ini ada tambahan permainan baru agar waktu luang para pemain tetap bermakna.

Salah satu permainan yang sedang ramai dibicarakan adalah SkyJo. Menurut Morgan Rogers, permainan ini mendapat perhatian setelah Jude Bellingham memperkenalkannya di kamp, lalu banyak pemain lain ikut mencobanya.

Rogers menjelaskan bahwa dirinya dan beberapa rekan sempat bermain saat aktivitas santai di luar camp. Ia mengatakan, “A few of us yesterday when we rode our bikes to a coffee shop, played cards,” Rogers said. “Jude bought it, it’s a bit of a different one. I’ve never seen it before, but we’re addicted at the moment.”

SkyJo sendiri adalah permainan kartu berbasis angka dengan tujuan mencetak skor serendah mungkin. Dalam permainan itu, pemain mengumpulkan dan saling menukar kartu sampai ada yang melampaui 100 poin; pada kondisi itu, pemain dengan skor terendah justru dinyatakan sebagai pemenang.

Rogers, yang merupakan pemain depan Aston Villa, terlihat menikmati suasana permainan bersama rekan-rekannya. Dalam kesempatan itu, ia bermain dengan Bellingham, Jordan Henderson, Dan Burn, Anthony Gordon, dan Elliot Anderson, dan yang menarik, Rogers mengaku ia yang keluar sebagai pemenang.

Pola seperti ini, menurut Rogers, tidak sekadar soal hiburan. Permainan yang dimainkan di luar lapangan dipakai sebagai cara untuk memastikan para pemain berada dalam kondisi mental terbaik ketika menghadapi “urusan serius” mengejar keberhasilan di Piala Dunia.

Di sisi lain, suasana kamar tim juga mendapat sentuhan personal. Staf Inggris menambahkan beberapa elemen khusus di kamar para pemain, termasuk foto anggota keluarga, sekaligus memastikan skuat bisa memaksimalkan waktu non-bola di Amerika Serikat.

Staf juga memperluas bonding tim lewat kegiatan langsung di luar kompleks latihan. Thomas Tuchel bersama kapten Harry Kane, Djed Spence, dan Dan Burn pergi ke Sporting KC, klub bisbol yang stadionnya berada dekat base camp mereka. Selain itu, Burn dan Kane juga sempat menonton penampilan musisi country, Ella Langley, dalam sebuah konser.

Tuchel menekankan pentingnya membangun suasana seperti klub ketika “Three Lions” berkumpul. Jordan Henderson kemudian menambahkan pandangan lain terkait bagaimana para pemain menumbuhkan kedekatan selama perjalanan ke sesi latihan. Ia menyebut mereka turut terlibat dalam sebuah permainan bernama Imposter, di mana setiap orang mendapat kata rahasia melalui sebuah aplikasi, kecuali satu pemain.

Dalam skema tersebut, para pemain lain dituntut untuk menebak siapa yang tidak mengetahui kata rahasia itu. Henderson memandang keterlibatan dalam permainan seperti ini sebagai bagian dari peran untuk meningkatkan moral skuat, sehingga dinamika tim tetap hidup dan saling terhubung.

Rogers juga menggambarkan kedekatan dengan Bellingham di dalam struktur bonding itu. Ia menyatakan bahwa bersama Henderson, ia dan Bellingham membentuk kelompok yang cukup rapat. Dalam kalimatnya, Rogers berkata, “He’s looking after us while me and Jude are squabbling with each other,” Rogers said. “We call him unc [uncle] at the moment, which he’s not happy about at all.”

Nama “unc” yang dimaksud Rogers menjadi sindiran akrab di dalam tim, sekaligus menunjukkan bahwa, meski persaingan posisi tetap terjadi, hubungan personal tetap dijaga. Rogers sendiri kini bersaing untuk memperebutkan tempat awal bernomor 10 yang sejauh ini pernah dipegang Bellingham untuk Inggris di Piala Dunia.

Mereka berdua dikenal sudah saling mengenal sejak kecil, karena sama-sama tumbuh di West Midlands. Ketika ditanya seperti apa rasanya bersaing dengan teman dekatnya demi satu slot di skuat, Rogers menjawab dengan nada jujur namun tetap hangat: “I wish it wasn’t a rivalry, if I’m honest,” Rogers said when asked what it is like battling for a spot in the team with his friend. “Yeah, we’re really close. We spend pretty much all the time together, in the free time and stuff. “And it’s one of those things.

Ia menambahkan bahwa persaingan tidak selalu dipahami sebagai “melawan” satu sama lain secara langsung. Rogers menjelaskan, “I know we play in similar positions. I think we actually can play with each other.” Ia lalu menekankan bahwa situasinya lebih mirip kebutuhan adaptasi taktis daripada pertarungan personal. “So I don’t think it’s necessarily me v him. I think yeah, we play in similar positions, but I thought he can also play in different positions, so can I.”

Rogers akhirnya menegaskan bahwa siapa pun yang tampil nanti akan menyesuaikan peran sesuai kebutuhan tim. “And if and when required, I think we can do that to the best of our ability. So we’ll see how the tournament keeps progressing and developing.”

Di tengah semua dinamika itu, pilihan permainan seperti Wolf, SkyJo, dan Imposter menjadi semacam “jembatan” antara latihan dan pertandingan. Dengan begitu, fokus grup tetap diarahkan pada Kroasia, Ghana, dan Panama, sementara waktu luang justru dipakai untuk memperkuat rasa satu tim—sebuah faktor yang disebut-sebut bisa menentukan sampai sejauh mana langkah Inggris pada turnamen ini berlangsung.