Internasional

Gempa Kembar Venezuela menjadi tamparan lanjutan di tengah ketidakpastian

×

Gempa Kembar Venezuela menjadi tamparan lanjutan di tengah ketidakpastian

Sebarkan artikel ini
Quake is devastating blow at time of uncertainty
Ilustrasi: Venezuela earthquake is further blow at time of uncertainty

jurnalistik.co.id – Gempa kembar yang mengguncang Venezuela pada Rabu menjadi pukulan lanjutan di tengah ketidakpastian yang sudah lama membayangi negeri itu. Seiring jumlah korban meninggal akibat dua guncangan kuat terus bertambah, bencana alam ini makin memperlihatkan kerentanan infrastruktur yang selama ini menumpuk.

Peristiwa tersebut terjadi kurang dari enam bulan setelah Nicolás Maduro, pemimpin kiri yang memerintah sejak 2013, disergap pasukan AS dalam penggerebekan dini di kamp presiden di Caracas. Maduro kemudian dibawa ke New York untuk menghadapi persidangan terkait tuduhan perdagangan narkoba.

Setelah pengambilan itu, Venezuela dipimpin oleh Delcy Rodríguez—sekutu Maduro sekaligus mantan wakil presiden. Di tengah perubahan pemerintahan ini, pendukung oposisi sempat berharap pemerintahan Trump akan menempatkan María Corina Machado memimpin negara.

Rodríguez menyampaikan responsnya melalui televisi negara VTV lebih dari dua jam setelah gempa. Ia tampil dengan kondisi yang jelas terlihat terpukul saat berbicara, dan menyebut perlunya persatuan dari rakyat Venezuela, yang selama lebih dari satu dekade terbelah antara mereka yang mendukung Maduro dan juga pendahulunya sekaligus mentor, Hugo Chávez, serta mereka yang menentang.

Transisi politik dan respons di lapangan

Dalam pidatonya, Rodríguez menyatakan dukungan darurat dengan menyerukan “first and foremost” persatuan. Ia juga mendeklarasikan status keadaan darurat dan menunjuk Jenderal Juan Ernesto Sulbarán, komandan Garda Nasional Venezuela, untuk memimpin respons penanganan.

Ia didampingi Jorge, yang menjabat sebagai presiden Majelis Nasional. Jorge bersaksi dengan upacara sumpah jabatan untuk Rodríguez sebagai presiden sementara hanya beberapa hari setelah Maduro disergap. Rodríguez juga hadir bersama Menteri Dalam Negeri Diosdado Cabello, sosok sekutu Maduro lainnya.

Pada tahap awal setelah gempa, informasi resmi yang beredar terbilang sangat minim. Salah satu penyebabnya adalah jalur komunikasi yang terputus untuk sebagian wilayah yang paling parah terdampak. Namun, hambatan informasi juga terkait pembatasan terhadap media independen di bawah pemerintahan Maduro, yang berujung pada penutupan ratusan stasiun radio dan situs berita—kebanyakan berskala lokal—yang sebelumnya berperan penting untuk pembaruan setempat.

Peran militer dalam pemerintahan menjadi latar yang menentukan cara negara merespons krisis. Selama lebih dari seperempat abad masa pemerintahan Chávez dan Maduro, posisi-posisi kunci di pemerintahan banyak dipegang perwira militer berpangkat tinggi. Sejumlah analis juga menilai, salah satu alasan kondisi infrastruktur Venezuela yang semakin menurun adalah minimnya keahlian pada pihak yang memegang kendali.

Perubahan kebijakan, tapi tantangan lama tetap membebani

Di bawah pengawasan pemerintahan Trump, Rodríguez baru-baru ini melakukan penggantian pejabat di kementerian tertentu. Ia mengganti jenderal yang memimpin kementerian perumahan dengan seorang sipil yang memiliki gelar arsitektur. Ia juga mengganti jenderal yang memimpin kementerian kelistrikan dengan seorang insinyur listrik.

Meski ada perombakan, persoalan bertahun-tahun seperti kekurangan pasokan—yang kian diperparah oleh sanksi AS—serta praktik pengelolaan yang buruk membuat banyak aset perumahan publik terus merosot. Kekurangan semen, misalnya, dipicu runtuhnya industri semen milik negara setelah dinasionalisasi pada era Chávez.

Dalam kondisi seperti itu, perbaikan yang sangat dibutuhkan kerap tidak dilakukan pada bangunan dan rumah-rumah. Akibatnya, struktur menjadi lebih rentan dan mudah mengalami kerusakan lebih serius saat gempa terjadi.

Pengaruh militer selama dua dekade terakhir juga tercermin pada prioritas pengadaan perlengkapan. Dikatakan bahwa sering kali ada keutamaan dalam melengkapi militer dibanding memberi satuan perlindungan sipil perangkat modern serta kendaraan yang memadai.

Saat menghadapi kelemahan yang muncul dari berbagai kekurangan tersebut, Rodríguez menyampaikan rasa terima kasih kepada pemerintah-pemerintah asing yang menawarkan bantuan. Ia menyoroti Presiden AS Donald Trump dan pemerintahannya dengan pernyataan bahwa mereka “in constant contact with all our authorities offering support and solidarity”.

Rodríguez juga menyebut telah berbicara dengan para presiden Republik Dominika dan El Salvador. Ia turut mengucapkan terima kasih kepada presiden Chili. Ketiga negara yang disebut itu juga dipimpin pemerintahan sayap kanan, sebagaimana tertulis dalam narasi yang sama.

Penawaran bantuan dari luar memang tidak mengejutkan setelah gempa yang merusak. Namun, fakta bahwa Rodríguez bersedia menerima bantuan itu diposisikan sebagai jeda yang jelas dari kebijakan Maduro. Dalam teks tersebut, Maduro dinyatakan hanya menerima bantuan dari sekutu yang sejalan secara ideologis.

Rodríguez menegaskan bahwa solidaritas di antara sesama warga menjadi kekuatan penting pada momen-momen seperti ini, sebagaimana ia katakan, “The solidarity between our people is a invaluable source of strength in moments like these,”.

Bagi warga Venezuela yang baru saja bangun menghadapi pemandangan kehancuran, dan terutama keluarga mereka yang masih mencari kerabat tertimbun reruntuhan, keterbukaan untuk mengizinkan bantuan kritis dari pihak luar diharapkan memberi secercah harapan. Di tengah duka dan ketidakpastian yang terus berlangsung, setiap bantuan yang masuk menjadi penopang di saat paling genting.