jurnalistik.co.id – Tim Montgomerie, komentator politik yang kini menjadi anggota Reform UK namun sedang berstatus skorsing, menyatakan bahwa ia akan melawan keputusan tersebut dengan tekad untuk tetap berada di partai.
Dalam wawancara dengan Newsnight, ia mengatakan skorsingnya muncul setelah ia mengkritik figur-figur senior di internal Reform UK lewat wawancara media. Montgomerie menyebut bandingnya sebagai “uji kasus” untuk melihat apakah partai bisa menerima kebebasan berbicara sekaligus ruang bagi perbedaan pendapat.
Ia menegaskan akan memperjuangkan posisinya: “I am going to fight this suspension. I want to stay in Reform.” Menurutnya, ia tidak meninggalkan Partai Konservatif “lightly” atau tanpa pertimbangan besar.
Montgomerie juga menyampaikan bahwa, pada pandangannya, Reform mempunyai peluang menjangkau bagian-bagian wilayah di Inggris yang tidak dapat ditembus oleh Partai Konservatif. Ia lantas menyatakan niatnya untuk menjadikan proses banding ini sebagai tolok ukur apakah Reform sanggup menoleransi pidato yang kritis dan dissent.
Ia menambahkan bahwa Reform, setidaknya menurut penilaiannya, membawa kebijakan yang sejalan dengan sikapnya terkait isu imigrasi dan kesejahteraan. Meski demikian, ia mengakui adanya ketegangan internal yang selama ini tampak dalam dinamika partai.
Sejumlah langkah komunikasi politiknya juga memperlihatkan arah sikap kritis tersebut. Pada hari Jumat, Montgomerie menyampaikan kepada BBC bahwa ia merasa terganggu oleh nada pemimpin Reform, Nigel Farage, yang disebutnya “aggrieved tone” setelah pemilihan sela Clacton yang berlangsung pekan lalu.
Kemudian, pada Selasa, Montgomerie berbicara dalam sebuah podcast bersama The Spectator. Dalam kesempatan itu, ia menilai bahwa Zia Yusuf perlu menjadi “team player” dan tidak boleh bersikap “like a child” dalam politik.
Menurut pemahaman yang disampaikan dalam laporan tersebut, skorsing Montgomerie diduga datang setelah sesi podcast tersebut direkam, tetapi sebelum episode itu dirilis ke publik.
Berita Terkait
Sementara itu, Reform UK menyatakan skorsing tersebut diambil sesuai aturan partai setelah kritik publik yang dilakukan Montgomerie. Ia disebut sebagai figur yang pada awalnya diposisikan sebagai sahabat kritis kepemimpinan—namun kini, setidaknya dari sudut pandang partai, ia dianggap lebih sebagai pengkritik ketimbang “critical friend”.
Montgomerie dikenal sebagai komentator politik berhaluan kanan tengah yang pindah dari Partai Konservatif ke Reform UK pada 2024. Ia menggambarkan dirinya telah mencoba membangun konstribusi melalui kritik, bukan sekadar berseberangan.
Setelah kabar skorsingnya muncul, Montgomerie juga merilis pernyataan dalam sebuah video di X. Video itu dipublikasikan setelah kabar tersebut diangkat di situs Guido Fawkes. Dalam pernyataannya, ia menyebut bahwa ia hanya berupaya membuat partai “better and stronger” melalui kritik publik yang ia sampaikan.
Ia kemudian menambahkan rincian yang ia anggap penting: Farage, menurut Montgomerie, tidak mengetahui keputusan untuk menskorsing dirinya. Ia mengatakan telah memperingatkan Farage sejak ia bergabung bahwa pada waktu-waktu tertentu ia akan tetap bersikap kritis.
Montgomerie membandingkan sikap tersebut dengan pengalamannya saat menjadi pengelola ConservativeHome, ketika ia juga kerap mengkritik kepemimpinan Partai Konservatif. Ia menempatkan kritik sebagai bagian dari kebebasan berbicara yang, menurutnya, seharusnya dapat diterima dalam proses politik.
Dalam konteks yang lebih luas, keputusan Reform UK untuk menskorsing keanggotaannya menjadi persoalan yang tidak hanya menyangkut individu, tetapi juga memperlihatkan bagaimana partai mengelola kritik dari dalam.
Karena itu, ia menilai bandingnya layak diperlakukan sebagai indikator. Apakah Reform UK sanggup menoleransi dissent—ketika kritik tidak selalu datang dalam nada dukungan penuh—atau justru memilih langkah disipliner ketika kritik diarahkan pada figur senior.
Saat ini, kepemimpinan Reform UK menghadapi pilihan strategis: apakah lebih sulit untuk mencabut skorsing dan mengembalikan keanggotaan Montgomerie, atau justru mempertahankan keputusan tersebut. Bagi Montgomerie, jawaban dari pertarungan ini akan menjadi penentu apakah partai bersedia memberi ruang pada kebebasan berbicara di tengah perbedaan pandangan.












