jurnalistik.co.id – Wakil Presiden AS JD Vance turun langsung ke panggung kampanye Senat Michigan, menyerang kandidat dari Partai Demokrat Abdul El-Sayed dengan label “evil”. Dalam adu yang makin panas, Vance juga mengingatkan El-Sayed agar tidak menyebut keluarganya—di tengah kampanye yang diwarnai serangan pribadi dan saling tuding soal kebijakan.
Ajakan Vance datang saat ia mendukung sekutu politik Trump, Mike Rogers, pada sebuah acara dukungan di wilayah pinggiran Detroit pada Senin malam. Di sana, Vance berulang kali menyinggung El-Sayed—yang beragama Muslim—sebagai sosok pemecah belah.
Vance menyebut El-Sayed sebagai “very, very evil”, menyatakan bahwa ada sesuatu pada diri El-Sayed yang “on the rise” di Amerika Serikat saat ini. Ia juga menegaskan tujuannya adalah “destroy” negara.
Serangan Vance tidak berhenti pada penilaian moral. Ia juga mengaitkan El-Sayed dengan narasi yang lebih luas soal keterhubungan dengan kelompok yang dinilainya ekstrem, termasuk pernyataan bahwa kandidat tersebut bisa “pal around with terrorist sympathisers”. Vance mengungkapkan pesan yang menurutnya menggambarkan posisi El-Sayed, dengan menyebut “America deserved 9/11” serta menilai Empati El-Sayed diarahkan bukan kepada anak-anak yang menjadi sasaran di Temple Israel, melainkan kepada pihak penyerang.
Dalam momen lain, Vance menyinggung kontroversi yang lebih personal. Ia memperingatkan El-Sayed untuk “keep my wife’s name the hell out of your mouth”, setelah muncul pandangan dari kandidat itu yang menyiratkan bahwa kakek dari keluarga Vance tidak akan menerima Second Lady Usha Vance yang beragama Hindu.
Menanggapi serangan tersebut, Abdul El-Sayed membalas pada Senin yang sama. Ia menuduh pemerintahan Trump mendorong kebijakan bertema “evil” serta, dalam bahasa balasannya, “starting wars abroad when there’s peace”. El-Sayed menggambarkan perdebatan sebagai benturan visi, bukan sekadar debat politik elektoral.
Berita Terkait
El-Sayed juga merinci kritiknya melalui wawancara dengan CNN. Ia menegaskan bahwa “Evil is ripping healthcare away from working people in exchange for tax breaks for billionaires,” lalu melanjutkan bahwa “Evil is making people pay more for groceries and gas while pushing for trade wars and actual war.” Ia menambah bahwa “Evil is dividing people for your own gain,” serta menyatakan bahwa “Evil is selling out your morals for a little bit of power.”
Dalam kesempatan itu, El-Sayed berupaya meluruskan komentar sebelumnya yang menyangkut keluarga Vance dan Second Lady Usha Vance. Ia mengatakan bahwa tujuannya adalah menunjukkan bahwa Vance “believes in a political philosophy that says that some people are somehow more American than others”.
Rangkaian serangan di antara dua kubu juga berhubungan dengan jejak kampanye El-Sayed pada fase sebelumnya. Saat pencalonannya, El-Sayed disebut berkampanye bersama sosok beraliran kiri yang kontroversial, sekaligus influencer dan streamer Twitch, Hasan Piker. Dalam materi kampanye yang dikutip, Piker pernah menyatakan bahwa AS “deserved” serangan di New York dan Washington. Meskipun El-Sayed tidak pernah mengucapkan kata-kata tersebut dan kemudian menjauh dari Piker, Vance mengulang keterkaitan itu berulang kali dalam pidatonya.
Konstelasi elektoral memperlihatkan persaingan ketat. Survei yang dirilis sebelumnya pekan ini oleh firma Epic-MRA menyebut El-Sayed memiliki keunggulan tipis empat poin atas Rogers, di negara bagian yang menjadi medan perebutan suara penting. Michigan juga dikenal sebagai salah satu negara bagian kunci dalam pemilu paruh waktu yang akan datang.
Dalam konteks politik yang lebih besar, perlombaan Senat Michigan termasuk yang paling banyak mendapat perhatian. Michigan pernah dimenangkan Joe Biden pada 2020, sementara Donald Trump meraih kemenangan di negara bagian itu pada 2024. Karena itu, setiap serangan—baik yang menargetkan kebijakan maupun yang melebar ke urusan pribadi—langsung memantul ke strategi kampanye kedua pihak.
Dengan persaingan yang rapat, perdebatan kini bergeser menjadi pertarungan narasi: kubu Rogers dan sekutunya menilai El-Sayed membawa perpecahan, sedangkan El-Sayed membalas dengan menuduh kubu pemerintahan Trump menjalankan kebijakan “evil”. Pada saat yang sama, survei yang menunjukkan keunggulan tipis mempertegas bahwa hasilnya masih terbuka—dan kampanye kemungkinan akan terus disetir oleh eskalasi retorika hingga hari pemungutan suara.












