Politik & Parlemen

Kemenangan Farage di by-election Clacton dengan 22.239 suara tak hentikan sorotan soal keuangan

×

Kemenangan Farage di by-election Clacton dengan 22.239 suara tak hentikan sorotan soal keuangan

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: Farage's by-election victory won't stop questions about finances

jurnalistik.co.id – Kemenangan Nigel Farage di Clacton memantapkan langkahnya sebagai tokoh utama Reform UK, tetapi sorotan tidak otomatis reda. Di balik angka kemenangan, pertanyaan soal sumber uang partainya serta rangkaian penyelidikan tetap menjadi agenda yang belum selesai.

Farage sendiri tidak datang untuk merayakan kemenangan yang ia picu lewat oleh-elections ini. Ia justru menyampaikan kepada pendukungnya bahwa ia sempat diberi tahu ada “organised campaign to disrupt and degrade the result”, sekaligus ingin menghindari rasa “demeaned and humiliated by nobodies”.

Dalam kesempatan lain, ia juga menggambarkan respons pemilih sebagai “stuck two fingers up at the entire political establishment”.

Hasil resmi datang beberapa jam kemudian dan menegaskan Farage meraih kemenangan yang meyakinkan dengan 22.239 suara. Kontestasi ini berlangsung tanpa kandidat serius dari partai-partai besar lain, karena mereka tidak menurunkan calon.

Sejumlah sekutu Farage menyebut ia semakin didorong oleh kemenangan ini. Mereka menunjuk popularitasnya di Clacton, posisi Reform UK yang memimpin jajak pendapat nasional selama sekitar 18 bulan terakhir, serta capaian mengubah organisasi baru menjadi gerakan keanggotaan massal dengan peluang nyata menembus pemerintahan.

Suasana kontestasi: kandidat terbanyak dan kertas suara sangat panjang

Pengumuman Farage bulan lalu sempat mengejutkan karena ia mengundurkan diri untuk mencalonkan diri pada kursi yang sebelumnya ia wakili. Saat itu ia menyatakan, “the people of Clacton should be the judges of my actions”, lalu menambahkan ingin “fight to continue the political revolution that Reform has started”.

Namun, menurut berbagai pihak, “revolusi” yang ia dorong justru berubah menjadi pertarungan pemilu yang tidak biasa. Perhelatan ini mencatat rekor 34 kandidat, dengan kertas suara sepanjang 90 cm, dan salah satu penantang paling menonjol tampil dengan kostum menyerupai “bin”.

Pihak Partai Buruh menuduh Farage berusaha “dodge scrutiny”, sedangkan Konservatif menilai ia memicu pemilihan karena “hissy fit”. Sekutu Farage berpendapat, justru perlombaan yang keras itu membuatnya semakin “emboldened and re-energised”.

Investigasi donasi dan hadiah £5 juta berlanjut

Hasil pemilihan tidak menghentikan kerja aparat penegak hukum maupun pemeriksaan di parlemen. Metropolitan Police tetap menelusuri donasi untuk Reform UK, sementara penyelidikan parlemen juga berfokus pada alasan mengapa Farage tidak mendaftarkan hadiah senilai £5 juta dari seorang donatur miliarder.

Kontroversi paling mendapat perhatian bermula dari pengungkapan bahwa, tidak lama sebelum pemilu umum 2024, Farage diam-diam menerima £5 juta dari Christopher Harborne. Harborne disebut sebagai kripto-miliarder berbasis di Thailand dan merupakan donatur Reform UK.

Farage menyebut uang itu sebagai “unconditional gift”. Ia kemudian memberi sejumlah penjelasan, termasuk bahwa pemberian tersebut terkait Brexit dan untuk membiayai keamanan personal selama sisa hidupnya.

Gugatan di parlemen mengarah pada kenyataan bahwa hadiah itu tidak terdaftar. Farage menyatakan ia tidak perlu melakukan pendaftaran, menegaskan “has done ‘nothing wrong’”, dan menyebut proses itu “is ‘being used as a political tool’”.

Penyelidikan sempat berhenti setelah Farage mengundurkan diri dari kursinya pada Juli, tetapi dibuka kembali setelah ia terpilih lagi sebagai MP untuk Clacton. Polisi dan parlemen sama-sama diperkirakan masih akan memakan waktu berbulan-bulan sebelum ada kesimpulan.

Di sisi kepolisian, penyelidikan donasi besar untuk Reform UK telah berjalan lebih dari setahun. Met Police mengonfirmasi dua orang telah diwawancarai dan tidak ada penangkapan, terkait dugaan upaya menyembunyikan atau menyamarkan donasi dari donor “impermissible” atau penggunaan informasi “false” soal donasi.

Sumber-sumber di Reform UK menyebut tidak ada pejabat partai yang diwawancarai kepolisian. Baik investigasi kepolisian maupun pemeriksaan parlemen diproyeksikan berlanjut tanpa tenggat cepat.

Dukungan keamanan: George Cottrell dan “Posh George”

Sorotan lain datang dari dukungan finansial untuk keamanan dan staf media sosial Farage yang melibatkan George Cottrell. Cottrell, yang oleh kolega dikenal sebagai “Posh George”, telah divonis atas perkara penipuan.

Ia berusia 32 tahun dan ditangkap di bandara di Amerika Serikat saat bepergian bersama Farage. Cottrell mengaku bersalah atas satu dakwaan wire fraud di AS pada 2017.

Sunday Times sebelumnya mengungkap keterlibatan Cottrell, termasuk informasi bahwa dukungan itu juga memuat penggunaan apartemen mewah dekat Buckingham Palace. Pengawas standar di parlemen belum memastikan apakah isu tersebut tengah diteliti, tetapi Farage mengatakan tidak ada pelanggaran, bahwa ia “followed the rules”, dan sedang mempertimbangkan langkah hukum terhadap surat kabar tersebut.

Biaya pemilu dan dampak politik setelah kemenangan

Meski perebutan kursi selesai, persoalan biaya justru menambah lapisan lain pada perdebatan. Dewan setempat memperkirakan pembayar pajak perlu menanggung £250.000 untuk penyelenggaraan oleh-elections ini, khususnya karena Clacton berada dalam salah satu lingkungan yang paling tidak beruntung di Inggris.

Reform UK sempat menawarkan untuk membiayai proses tersebut, tetapi tawaran itu tidak bisa diterima karena bertabrakan dengan aturan hukum pemilu. Setelah pemungutan suara selesai, Farage kemungkinan akan menghadapi pertanyaan baru soal urusan keuangan yang masih belum tuntas.

Apabila Farage dinilai melanggar aturan parlemen, sanksi yang mungkin diberikan bisa membuka kemungkinan oleh-elections kedua. Bila skenario itu terjadi, partai menyatakan percaya diri untuk menang lagi.

Selain dorongan personal, kampanye ini disebut memberi manfaat strategis karena membuka peluang membangun basis data pemilih lokal. Data itu diharapkan bernilai jika investigasi keuangan parlemen kelak memicu oleh-elections lanjutan yang kali ini benar-benar diikuti partai-partai besar.

Tetapi tantangan terbesar Reform UK berada pada gambaran nasional. Pollster Luke Tryl dari More in Common mengingatkan, “This time last year Farage had the highest approval of the main party leaders”, lalu “Yet earlier this month he fell to his worst score since the general election”.

Tryl menilai kekhawatiran bagi Farage bukan hanya kenaikan penilaian negatif yang bisa menandakan pemilih makin bersedia memilih secara taktis melawannya. Yang juga dipersoalkan adalah berkurangnya jumlah orang yang memberikan penilaian positif sehingga basis dukungan menyusut.

Riset More in Common menyebut sekitar 80% pemilih mengetahui pertanyaan tentang keuangan Nigel Farage, namun responsnya tidak seragam. Pendukung terkuat kerap melihatnya sebagai “an ‘establishment stitch up’”, sementara lawan memandang isu itu sebagai alasan tambahan untuk tidak menyukai Farage.

Dalam karier panjangnya memimpin partai, Farage dipandang berhasil memprofesionalkan Reform UK, mengamankan pendanaan yang signifikan, serta mendatangkan figur seperti Robert Jenrick dan Zia Yusuf agar partai yang ia pimpin tampak lebih dari sekadar gerakan seorang tokoh.

Di tengah kemenangan yang bisa membuatnya lebih percaya diri, para rival membingkai peristiwa ini sebagai pemborosan uang dan memalukan secara personal. Pada akhirnya, apakah oleh-elections ini menandai penurunan citra Farage atau justru menjadi batu loncatan menuju Downing Street akan ditentukan oleh pemilih di seluruh negeri.