jurnalistik.co.id – MI5 memperingatkan universitas dan para akademisi di Inggris agar meninjau ulang kerja sama mereka dengan China General Technology Research Institute (CGTRI), yang menurut layanan keamanan itu memiliki keterkaitan kuat dengan aparat spionase Beijing.
Dalam peringatan publik yang digambarkan MI5 sebagai langkah luar biasa, organisasi tersebut menyatakan bahwa hubungan lanjutan dengan CGTRI berpotensi berujung pada konsekuensi pidana bagi pihak yang membantu kepentingan negara asing.
MI5 juga menyebut adanya upaya badan intelijen China memanfaatkan riset yang dihasilkan lembaga akademik di Inggris untuk kepentingan keamanan nasional. Menteri Keamanan Dan Jarvis mengatakan ia telah menulis kepada seluruh rektor (vice-chancellors) universitas untuk menghentikan hubungan dengan organisasi tersebut.
Jarvis menekankan bahwa peringatan ini menyingkap upaya intelijen China untuk mengalirkan manfaat melalui penelitian kampus, sehingga menimbulkan risiko terhadap keamanan nasional Inggris.
Menurut MI5, CGTRI—yang kadang diterjemahkan sebagai China Academy of General Technology (CAGT)—memiliki “very strong ties” dengan Kementerian State Security (MSS) China.
Layanan keamanan itu menyatakan bahwa “MI5 has identified that the primary purpose of CGTRI is to fund academic research that directly improves MSS technical capability for espionage,” dan menambahkan bahwa pendanaan tersebut diarahkan untuk meningkatkan kemampuan teknis MSS dalam aktivitas spionase.
MI5 juga menyebut angka yang signifikan: “More than 100 UK-linked academics have contributed to projects funded by MSS via CGTRI,” sembari menyampaikan bahwa dalam beberapa kasus para peneliti tidak menyadari peran perusahaan perantara sebagai “front company” dalam proyek yang mereka jalankan.
Dalam konteks topik yang disebut MI5, riset yang didanai CGTRI meliputi bidang seperti kecerdasan buatan (AI), keamanan siber, sistem komunikasi yang bersifat rahasia, serta steganografi.
Steganografi, menurut penjelasan MI5, adalah cara menyembunyikan pesan rahasia atau file di dalam pesan atau objek yang tampak biasa, sehingga dapat mengaburkan tujuan sesungguhnya dari sebuah pertukaran informasi.
MI5 menegaskan bahwa “This activity supports Ministry of State Security espionage, which poses a threat to UK national security,” seraya mengaitkan aktivitas tersebut dengan ancaman terhadap keamanan Inggris.
Berita Terkait
Selain memaparkan hubungan CGTRI dan MSS, MI5 juga menyatakan bahwa banyak institusi akademik dan individu mungkin telah terlibat dengan “in good faith”. Alasannya, keterkaitan balik ke keamanan negara China disebut “obfuscated”, atau dibuat sulit terlihat bagi pihak yang berpartisipasi.
Karena itu, MI5 menyampaikan arahan agar tindakan segera dilakukan. Layanan keamanan menyatakan: “UK academic institutions are strongly advised to immediately review any ongoing or planned collaboration with CGTRI. This is to ensure MSS derives no further benefit from UK universities or research institutions.”
Peringatan itu juga membuka kemungkinan konsekuensi hukum bagi akademisi yang tidak merespons seruan tersebut. MI5 menyoroti bahwa National Security Act—sebuah regulasi yang disahkan pada 2023 untuk menghadapi spionase negara—menciptakan tindak pidana baru.
Ketentuan yang disebut MI5 mengatur bahwa seseorang dapat dipersalahkan membantu layanan intelijen asing apabila ia seharusnya secara wajar mengetahui apa yang sedang ia lakukan.
Dan Jarvis menyatakan peringatan ini menyoroti upaya intelijen China untuk memperoleh manfaat secara terselubung dari keahlian serta hasil riset akademisi, yang pada akhirnya dapat melemahkan keamanan nasional Inggris maupun negara sekutu.
Jarvis mengutip: “This alert exposes attempts by Chinese intelligence to covertly benefit from the expertise and research of our academics, undermining our national security, and that of our allies.”
MI5 juga mengingatkan bahwa pada Juni sebelumnya, MI5 bersama mitra terdekatnya di Amerika Serikat, Kanada, Australia, dan Selandia Baru telah mengeluarkan peringatan bersama. Peringatan tersebut menyoroti bahwa layanan intelijen militer China menargetkan situs jejaring profesional serta platform pencarian kerja secara daring.
Menurut MI5, peringatan terbaru kali ini bergerak lebih jauh dengan mengungkap apa yang mereka anggap sebagai ancaman yang terus berkembang di lingkungan institusi akademik Inggris.
Bagi MI5, inti masalahnya adalah bagaimana dana dan skema kerja sama dapat digunakan untuk memperkuat kemampuan teknis MSS melalui riset universitas, termasuk riset yang berada pada wilayah teknologi sensitif.
Dengan demikian, layanan keamanan mendorong institusi pendidikan tinggi untuk melakukan penelaahan menyeluruh atas kerja sama yang sedang berjalan maupun rencana kolaborasi di masa depan, guna memastikan tidak ada manfaat lanjutan yang mengalir ke MSS lewat lembaga akademik Inggris.
Dalam suasana tersebut, pesan MI5 relatif tegas: keterlibatan yang awalnya tampak sah bagi akademisi tidak menghapus risiko bahwa aktivitas mereka pada akhirnya dapat dikategorikan sebagai dukungan yang berpotensi melanggar hukum, apabila keterkaitan sebenarnya tidak dikenali sejak awal.












