Bisnis & Ekonomi

Prospek Obligasi RI Dinilai Menarik, Investor Masih Tunggu Rupiah Stabil

×

Prospek Obligasi RI Dinilai Menarik, Investor Masih Tunggu Rupiah Stabil

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: Obligasi Indonesia Atraktif, tapi Investor Tunggu Stabilisasi Kurs Rupiah

jurnalistik.co.id – Pasar surat utang atau obligasi di Indonesia dinilai masih menyimpan daya tarik bagi investor. Namun, para pelaku pasar juga menunjukkan sikap wait-and-see dengan menunggu pergerakan rupiah lebih stabil.

Menurut Head of Investment Specialist Manulife Aset Manajemen Indonesia, Freddy Tedja, kondisi tersebut terlihat dari perbandingan imbal hasil instrumen dalam negeri dengan acuan luar negeri. Ia menekankan bahwa dari sisi valuasi, peluang yang ditawarkan saat ini tergolong menggiurkan.

Freddy menyebut, per akhir Juni 2026 selisih imbal hasil Surat Berharga Negara (SBN) dan US Treasury Note (UST) tenor 10 tahun tercatat sebesar 273 basis poin (bps). Angka itu, lanjutnya, lebih lebar dibandingkan rata-rata sepanjang satu tahun yang berada di kisaran 220 bps.

Dalam keterangan tertulisnya pada Jumat (10/7/2026), Freddy mengatakan, “Lebih menarik dibandingkan dengan beberapa negara berkembang lain yang bahkan peringkat kreditnya lebih rendah dari Indonesia.” Pernyataan tersebut menggambarkan bahwa insentif imbal hasil domestik masih cukup kuat untuk menarik minat.

Ia memandang, meski demikian, keputusan investor tidak semata-mata bertumpu pada perbedaan yield. Ada beberapa ketidakpastian yang masih dicari kepastian, terutama stabilitas nilai tukar rupiah.

Freddy menjelaskan, sebagian investor masih menunggu arah Bank Indonesia terkait BI Rate. Selain itu, investor juga memperhatikan konsistensi dan komitmen disiplin fiskal yang dinilai akan memengaruhi persepsi risiko.

Dengan kata lain, pasar tidak hanya membaca angka-angka kupon dan imbal hasil. Pelaku juga mempertimbangkan kondisi makro yang membentuk ekspektasi, termasuk bagaimana kebijakan moneter dan fiskal dijalankan dalam periode berjalan.

Untuk stabilitas rupiah, Freddy menyebut adanya faktor harapan yang dapat mendukung perbaikan kondisi. Ia menilai stabilitas kurs, laju inflasi, serta arah BI Rate dapat tertopang oleh meredanya tensi geopolitik dan normalisasi harga minyak dunia.

Ia menambahkan, “Mengenai disiplin fiskal, ini yang masih harus terus dikomunikasikan dan dibuktikan oleh pemerintah.” Pernyataan itu menegaskan bahwa investor ingin melihat bukan hanya narasi kebijakan, tetapi juga bukti pelaksanaan yang konsisten.

Freddy juga menyoroti bahwa dinamika pasar saat ini masih dipengaruhi fluktuasi yang relatif tinggi. Pasar saham, obligasi, maupun nilai tukar bergerak dengan volatilitas, sejalan dengan kepercayaan investor yang belum pulih sepenuhnya.

Meski demikian, ia menyatakan ada upaya perbaikan kondisi melalui kebijakan yang dinilai lebih ramah pasar. Ia menyebut beberapa langkah dan rekalibrasi yang semakin marak dikomunikasikan sejak bulan Juni.

Langkah-langkah tersebut, menurut Freddy, meliputi penurunan anggaran MBG. Selain itu, target jumlah Koperasi Desa juga disebut mengalami penyesuaian dari 80.000 menjadi 40.000.

Freddy juga menyinggung pembatalan rencana skema bagi hasil minerba. Di bagian lain, ia menyampaikan adanya penegasan fungsi PT Danantara Sumberdaya Indonesia yang dinilai lebih jelas dalam wacana ekspor satu pintu.

Freddy mengaitkan rangkaian kebijakan tersebut dengan upaya menjaga keyakinan pasar agar tetap terarah. Ia menyebut, komunikasi kebijakan yang lebih spesifik dapat membantu investor membaca arah ekonomi secara lebih tegas.

Pada sisi lain, ia mengingatkan bahwa komitmen pemerintah sebelumnya juga telah ditegaskan. Pada Maret lalu, Freddy menyebut pemerintah menegaskan komitmennya untuk menjaga defisit fiskal tetap berada dalam koridor kurang dari 3 persen.

Di bidang moneter, Bank Indonesia dinilai mempertegas fokus pada stabilitas rupiah melalui kenaikan BI Rate. Freddy menyebut kenaikan sebesar 50 bps pada Juni, dengan rincian 25 bps dilakukan pada rapat di luar jadwal biasa.

Ia menilai sinyal kebijakan itu penting bagi kredibilitas serta menegaskan independensi BI. Menurut Freddy, langkah tersebut juga diharapkan meningkatkan daya tarik aset domestik, sehingga investor memiliki basis pertimbangan yang lebih kuat.

Freddy menutup dengan proyeksi yang disampaikan berdasarkan kajian Manulife Aset Manajemen Indonesia. Ia mengatakan, “sinyal ini penting untuk menjaga kredibilitas dan menegaskan independensi BI dan meningkatkan daya tarik aset domestik, dan berdasarkan proyeksi MAMI, BI rate masih mungkin naik lagi sampai akhir tahun ini.”

Jika proyeksi tersebut benar-benar terealisasi, pasar obligasi dapat menerima dorongan melalui ekspektasi imbal hasil yang tetap kompetitif. Namun, untuk mendorong keputusan investor menjadi lebih cepat, stabilisasi rupiah tetap menjadi penentu utama.

Dalam situasi seperti ini, pelaku pasar lazim menyeimbangkan dua pertimbangan besar: peluang dari selisih imbal hasil dengan risiko yang berasal dari pergerakan kurs. Karena itu, meski obligasi dinilai menarik dari sisi valuasi, investor tetap ingin memastikan arah kebijakan moneter dan fiskal berjalan dalam koridor yang terukur.

Ke depan, perhatian investor kemungkinan akan terus tertuju pada perkembangan kurs, inflasi, dan kebijakan BI Rate. Pada saat yang sama, disiplin fiskal yang dikomunikasikan dan dibuktikan pemerintah akan menjadi faktor yang memperkuat keyakinan pasar.

Dengan perbedaan imbal hasil yang masih melebar dan adanya sinyal kebijakan moneter, peluang tetap ada. Namun, kecepatan arus dana ke instrumen surat utang masih akan sangat bergantung pada seberapa cepat ketidakpastian rupiah dapat diredam.