jurnalistik.co.id – PT Rans Entertainment Indonesia Tbk resmi mencatatkan saham perdananya di Bursa Efek Indonesia (BEI) pada Jumat (10/7/2026).
Langkah ini menjadikan perusahaan yang sebelumnya melekat pada nama pendirinya masuk ke fase sebagai emiten publik, sekaligus menguatkan rencana pengembangan berbasis aset intelektual (intellectual property/IP).
Dalam konferensi pers seusai IPO di gedung BEI, Raffi Ahmad menyampaikan bahwa RANS ingin tumbuh menjadi perusahaan yang mengusung model bisnis terinspirasi dari The Walt Disney Company.
Ia bahkan menyebut ada ambisi untuk membangun “Disneyland” versi Indonesia.
Raffi mengaitkan gagasan tersebut dengan sosok Walt Disney, pendiri The Walt Disney Company yang juga dikenal sebagai animator dan produser film asal Amerika Serikat, serta pencipta karakter ikonik dunia seperti Mickey Mouse.
Menurut Raffi, ia memposisikan dirinya bersama Nagita Slavina sebagai “Walt Disney”, sementara RANS diposisikan sebagai “Disneyland”.
“Sekarang sudah menjelma menjadi, ya ada Cipungland , ada FMCG , ada juga FNB , ada juga yang lain-lain. Jadi nanti RANS itu, saya suka tantangan di mana ini harus berubah, berevolusi,” ujar Raffi saat konferensi pers usai IPO RANS di gedung BEI.
Raffi menilai transformasi itu membuat RANS tidak lagi berhenti sebagai identitas yang hanya dikenal melalui dirinya dan Nagita Slavina, melainkan berkembang menjadi entitas bisnis dengan beberapa lini usaha.
Dalam pandangan Raffi, perubahan dan evolusi tersebut penting agar perusahaan dapat bertahan dalam jangka panjang.
Ia menyatakan ketertarikan pada visi jangka panjang dalam membangun bisnis, sekaligus menempatkan dinamika sebagai bagian dari proses perusahaan untuk terus beradaptasi.
“Kalau boleh saya sebutkan, saya terinspirasi dengan Walt Disney. Pemiliknya bernama Walt Disney, tetapi dia memiliki Disneyland. Anggap saja Walt Disney itu adalah Raffi Ahmad dan Nagita Slavina, sedangkan Disneyland adalah RANS,” paparnya.
Berita Terkait
Ia lalu memperluas penjelasan dengan analogi bahwa Disneyland dikenal memiliki beragam karakter yang terus menjadi bagian dari ekosistemnya.
Raffi menjelaskan bahwa di dalam ekosistem RANS juga ada “karakter-karakter” yang dapat terus dikembangkan sebagai IP baru.
“Disneyland itu punya Mickey Mouse , Rafathar punya FMCG dan lain-lain menjadi IP , punya Rayanza punya Cipungland, jadi IP lagi. Kita punya banyak yang sebenarnya,” pungkas dia.
Dengan cara pandang tersebut, Raffi menegaskan RANS berupaya membangun warisan yang dapat hidup lintas generasi, bukan sekadar merek yang bergantung pada popularitas figur tertentu.
Ia menempatkan profesionalisme sebagai kunci agar nama besar yang dibangun dapat berubah menjadi perusahaan dengan legacy yang berkelanjutan.
Raffi berharap RANS terus memberikan manfaat bagi banyak orang, sekaligus tetap hadir sebagai perusahaan yang berkembang dari generasi ke generasi.
“Bisa dilanjutkan dengan profesional, RANS tetap ada, menjadi legacy , terus generasi itu generasi dia tetap ada, Rans tetap menjadi berkah untuk banyak orang,” katanya.
Dalam konteks IPO yang baru saja berlangsung, visi IP yang disebut Raffi menjadi penegasan arah bisnis yang ingin dijalankan perseroan ke depan, termasuk penguatan lini yang telah disebutkan seperti Cipungland, FMCG, dan FNB.
Secara keseluruhan, langkah RANS melantai di BEI pada 10 Juli 2026 ditutup dengan penekanan bahwa perusahaan ingin terus berevolusi, mengembangkan aset-aset intelektual, dan menjaga kesinambungan usahanya agar tetap relevan pada periode berikutnya.
Usai IPO tersebut, arah cerita perusahaan tidak berhenti pada momen pencatatan saham semata, melainkan diarahkan pada cara RANS memandang merek dan kreativitas sebagai fondasi yang bisa diperluas. Kerangka itu ditunjukkan melalui gagasan model bisnis berbasis ekosistem, tempat berbagai lini dapat saling melengkapi dan terus tumbuh.
Raffi juga menekankan bahwa pengembangan karakter-karakter di dalam lingkungan RANS diharapkan tidak hanya menjadi identitas sesaat, melainkan dapat dirumuskan ulang sebagai aset intelektual yang bernilai jangka panjang. Dengan pendekatan ini, perusahaan ingin memastikan setiap lini yang sudah disebutkan—termasuk Cipungland, FMCG, dan FNB—tetap punya ruang evolusi sekaligus memperkuat kesinambungan usahanya dari waktu ke waktu.












