Bisnis & Ekonomi

Rupiah Menguat Tipis, IMF Tahan Proyeksi Pertumbuhan RI 5 Persen

×

Rupiah Menguat Tipis, IMF Tahan Proyeksi Pertumbuhan RI 5 Persen

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: Rupiah Menguat Tipis, Usai IMF Pertahankan Proyeksi Pertumbuhan Ekonomi RI 5 Persen

jurnalistik.co.id – Rupiah menguat tipis pada perdagangan Jumat (10/7/2026), menyusul respons pelaku pasar terhadap keputusan International Monetary Fund (IMF) yang mempertahankan proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia. Di sisi lain, sejumlah sentimen eksternal turut memberi warna pada pergerakan mata uang.

Pada penutupan perdagangan spot lanjut, mata uang Garuda terapresiasi 63 poin atau 0,35 persen menjadi Rp 18.065 per dollar Amerika Serikat (AS). Sehari sebelumnya, kurs ditutup di level yang lebih tinggi, sedangkan pembukaan akhir pekan ini terjadi di zona hijau.

Berdasarkan pergerakan awal perdagangan, rupiah dibuka di kisaran Rp 18.090 per dollar AS. Angka tersebut menggambarkan jarak tipis dari posisi penutupan hari sebelumnya sebelum transaksi berkembang sepanjang sesi.

Dalam penilaian Analis Mata Uang dan Komoditas Ibrahim Assuaibi, pasar merespons positif keputusan IMF yang mempertahankan proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia di angka 5,0 persen untuk 2026. IMF juga memperkirakan produk domestik bruto (PDB) Indonesia akan tumbuh 5,1 persen pada 2027.

Proyeksi tersebut berada di atas rata-rata pertumbuhan kelompok negara berkembang di kawasan Asia, atau Emerging and Developing Asia, yang diproyeksikan melambat ke 4,8 persen pada 2026. Dengan demikian, proyeksi IMF dinilai memberi sinyal bahwa momentum ekonomi Indonesia tetap terjaga.

Selain IMF, Ibrahim juga menyinggung proyeksi Asian Development Bank (ADB). ADB memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Indonesia sebesar 5,2 persen pada 2026 dan 2027, serta menilai prospek perekonomian Indonesia tetap stabil.

Menurut ADB, proyeksi 5,2 persen untuk tahun 2026 tidak mengalami perubahan dibandingkan laporan Asian Development Outlook (ADO) yang dirilis pada April lalu. Kendati begitu, proyeksi pertumbuhan di kisaran sekitar 5 persen masih dipandang belum sepenuhnya menyamai target pemerintah.

โ€œDalam APBN 2026, pemerintah bersama DPR menetapkan target pertumbuhan ekonomi sebesar 5,4 persen,โ€ ujar Ibrahim kepada wartawan pada Jumat sore. Pernyataan itu menegaskan adanya selisih antara proyeksi lembaga internasional dan target kebijakan nasional.

Sinyal pemulihan konsumsi masih bertahap

Di luar proyeksi makro, Ibrahim menilai kenaikan penjualan mobil nasional sepanjang semester I-2026 belum dapat dijadikan bukti bahwa daya beli masyarakat sudah pulih sepenuhnya. Pemulihan konsumsi rumah tangga, menurutnya, berjalan secara bertahap meskipun indikator transaksi menunjukkan tren menguat.

Ia merujuk data Gaikindo terkait penjualan wholesales atau distribusi kendaraan dari pabrikan ke dealer. Pada Juni 2026, penjualan wholesales tercatat 77.550 unit, naik 12 persen dibanding periode yang sama tahun lalu.

Kenaikan tersebut melanjutkan pertumbuhan yang terjadi pada Mei 2026 sebesar 14 persen. Dengan demikian, penjualan mobil mengalami pertumbuhan secara tahunan untuk bulan ketiga berturut-turut.

Secara kumulatif, penjualan mobil baru selama semester I-2026 mencapai 436.564 unit atau meningkat 15,9 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Ibrahim menilai capaian itu masih mencerminkan permintaan konsumen yang relatif kuat.

Meski demikian, permintaan tersebut beroperasi di tengah tekanan inflasi dan kenaikan harga bahan bakar nonsubsidi. Kombinasi faktor internal ini membuat pemulihan belanja tidak selalu berjalan lurus, melainkan menyesuaikan dengan ritme konsumsi masyarakat.

Adapun dari faktor eksternal, dinamika geopolitik turut memengaruhi sentimen pasar. Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyatakan gencatan senjata dengan Iran telah berakhir dan memerintahkan serangan lanjutan terhadap negara tersebut, yang kemudian memicu aksi balasan dari Teheran.

Laporan Axios menyebut mediator regional tengah berupaya menyelamatkan nota kesepahaman terbaru antara Amerika Serikat dan Iran. Namun, prospek perdamaian di Timur Tengah dinilai masih sangat tidak pasti, sejalan dengan berlanjutnya eskalasi.

Perang yang kembali pecah itu terjadi bersamaan dengan prosesi pemakaman Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei yang telah meninggal dunia. Pemakaman tersebut menjadi puncak rangkaian upacara dan demonstrasi massal selama sepekan.

Di pasar domestik, peluang kenaikan suku bunga pada pertemuan September diperkirakan berada di 63 persen. Dengan kombinasi dukungan dari proyeksi lembaga internasional dan ketidakpastian faktor eksternal, pergerakan rupiah pada akhirnya tampak bergerak dengan kenaikan yang terbatas namun tetap terarah.