jurnalistik.co.id – PT Bursa Efek Indonesia (BEI) menilai kondisi pasar modal sepanjang 2026 yang diwarnai koreksi Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) justru membuat valuasi saham menjadi lebih terjangkau. Menurut otoritas bursa, situasi ini dapat menciptakan daya tarik bagi investor yang menargetkan horizon investasi jangka panjang.
BEI menyebut Indonesia tetap memiliki potensi sebagai tujuan investasi jangka panjang. Kepercayaan tersebut, menurut keterangan pers, ditopang oleh kekuatan fundamental ekonomi, besarnya pasar domestik, serta reformasi pasar modal yang terus berjalan.
Meskipun IHSG mengalami koreksi beberapa kali sepanjang 2026, aktivitas perdagangan di bursa dinilai menunjukkan adanya ketahanan. Dalam pandangan BEI, koreksi tersebut membuat harga saham relatif lebih kompetitif sehingga peluang bagi investor berbasis analisis fundamental menjadi lebih luas.
Indikator valuasi yang lebih “murah”
BEI mengukur perkembangan pasar melalui indikator valuasi. Per 8 Juni 2026, IHSG diperdagangkan pada Price Earnings Ratio (PER) sekitar 12,85 kali.
Selain PER, otoritas bursa juga menyoroti distribusi valuasi berdasarkan Price to Book Value (PBV). Disebutkan terdapat 434 saham yang tercatat memiliki PBV di bawah satu kali, yang menjadi sinyal adanya ruang penilaian lebih menarik untuk investasi jangka panjang.
Dengan kombinasi dua indikator tersebut, BEI memandang kondisi pasar memberi peluang bagi investor yang berorientasi pada penguatan posisi secara bertahap. Investor juga didorong untuk mengedepankan penilaian fundamental dibanding sekadar merespons pergerakan jangka pendek.
Kinerja emiten dan sinyal fundamental
BEI menyatakan fundamental pasar modal juga tercermin dari kinerja perusahaan tercatat. Dari 810 emiten yang telah menyampaikan laporan keuangan per 31 Maret 2026, sebanyak 595 perusahaan atau sekitar 73,46 persen membukukan laba bersih.
Berita Terkait
Data lain yang disebut BEI adalah kemampuan perusahaan dalam membagikan hasil kepada pemegang saham. Tercatat 221 perusahaan membagikan dividen tunai sepanjang tahun ini, yang menurut BEI menunjukkan adanya kemampuan korporasi menghasilkan nilai.
Dalam konteks tersebut, koreksi IHSG tidak diposisikan sebagai sinyal melemahnya seluruh kondisi, melainkan sebagai bagian dari dinamika pasar yang perlu dibaca bersama kinerja fundamental. BEI menilai investor perlu melihat pasar secara menyeluruh, mulai dari kondisi ekonomi nasional hingga performa perusahaan tercatat.
Langkah reformasi regulator dan SRO
Direktur Utama BEI, Jeffrey Hendrik, mengatakan bahwa kondisi pasar saat ini perlu dipandang dengan mempertimbangkan fundamental ekonomi nasional, kinerja perusahaan tercatat, serta reformasi yang sedang dijalankan oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan Self Regulatory Organizations (SRO). Pernyataan tersebut disampaikan Jeffrey Hendrik melalui keterangan pers pada Jumat (10/7/2026).
Jeffry menambahkan, “Berbagai langkah reformasi yang dilakukan regulator dan SRO merupakan bagian dari komitmen untuk meningkatkan transparansi, memperkuat tata kelola, dan membangun pasar modal yang semakin kredibel.” Pernyataan itu kemudian menegaskan keyakinan BEI terhadap arah pasar yang lebih dipercaya oleh pelaku industri.
Ia juga menegaskan bahwa fundamental ekonomi dan korporasi yang tetap kuat menjadi dasar optimisme BEI. BEI, seperti yang disampaikan, optimistis pasar modal Indonesia akan terus menjadi pilihan investasi yang menarik bagi investor domestik maupun global dalam jangka panjang.
Partisipasi investor domestik
Optimisme tersebut, menurut keterangan BEI, terlihat dari meningkatnya partisipasi investor domestik. Berdasarkan data Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) per 30 Juni 2026, jumlah investor pasar modal mencapai 28,9 juta Single Investor Identification (SID).
Angka ini menunjukkan bahwa minat pelaku lokal terhadap aktivitas pasar tetap terjaga di tengah volatilitas yang muncul selama periode koreksi. BEI memandang peningkatan partisipasi sebagai sinyal bahwa investor masih melihat pasar sebagai tempat untuk membangun posisi yang lebih terukur.
Secara keseluruhan, rangkaian data valuasi, kinerja emiten, serta indikator partisipasi investor menjadi landasan BEI dalam menilai koreksi IHSG 2026. BEI percaya, ketika valuasi menjadi lebih kompetitif dan fundamental perusahaan tetap terjaga, pasar modal dapat menawarkan peluang yang lebih sesuai bagi investasi jangka panjang.












