Olahraga

King Charles Bertemu Tim Kriket Perempuan Afghanistan yang Dilarang Bertanding Resmi

×

King Charles Bertemu Tim Kriket Perempuan Afghanistan yang Dilarang Bertanding Resmi

Sebarkan artikel ini
King meets women's cricket team that is not allowed to exist
Ilustrasi: King meets women's cricket team that is not allowed to exist

jurnalistik.co.id – King Charles bertemu tim kriket perempuan Afghanistan di Clarence House sebagai bentuk dukungan simbolis, di tengah larangan rezim Taliban yang membuat tim tersebut kini hidup dalam pengasingan dan tidak diperbolehkan tampil resmi untuk mewakili negaranya.

Menurut keterangan yang disampaikan dalam pertemuan itu, larangan Taliban terhadap olahraga perempuan membuat tim kriket nasional putri Afghanistan kehilangan akses untuk berpartisipasi dalam kompetisi resmi sebagai perwakilan negara.

Di Clarence House pada pagi yang panas menyengat, para pemain menceritakan bagaimana mereka melarikan diri dari Taliban di Afghanistan untuk tetap menjaga mimpi mereka bermain kriket. King Charles kemudian menyapa mereka dengan antusias.

“I’m so glad that you can pursue what you want to do,” kata Raja kepada para pemain kriket perempuan, saat ia memberikan sambutan hangat di kediamannya.

Ekil Latifi, yang tidak pernah melihat keluarganya di Afghanistan selama lima tahun, mengatakan tim tersebut membawa representasi untuk semua perempuan yang dilarang bermain olahraga. “It’s all about the Afghan women back in our country,” ujarnya.

Rombongan ini juga disebut tidak biasa karena tim yang ditemui Raja tidak berstatus resmi dalam konteks keberadaannya sebagai tim yang diizinkan bermain. Penolakan terhadap olahraga perempuan membuat keberangkatan tim untuk pertandingan tidak bisa dilakukan dalam format yang sama seperti tim nasional pada umumnya.

Sebagian besar anggota tim kini telah meninggalkan Afghanistan, dan mayoritas menjadi pengungsi di Australia. Pertemuan King Charles terjadi saat tim tersebut datang untuk memainkan beberapa pertandingan ekshibisi.

Langkah itu berlangsung beriringan dengan perhelatan Piala Dunia T20 putri yang diselenggarakan musim panas ini di Inggris. King menyampaikan dukungan sekaligus candaan kepada para pemain ketika mereka bersiap menghadapi latihan dan pertandingan.

“If you lose, you can blame me for interrupting your training,” kata Raja kepada mereka.

Latifi mengungkapkan bahwa ia meninggalkan negaranya pada 2021, saat berusia 17 tahun, melalui proses evakuasi dari Afghanistan. Ia berharap tim ini bisa menjadi inspirasi bagi perempuan-perempuan yang dibatasi untuk bermain olahraga.

“It’s all about the Afghan women back in our country,” kembali ia tekankan sebagai pesan utama. Ia menambahkan bahwa keberlangsungan tim dan pertemuan kerajaan ini adalah peluang untuk menyuarakan perempuan di Afghanistan sekaligus menunjukkan “all the things that they can’t do there”.

Latifi menyebut kriket kini menjadi bagian penting dalam hidupnya karena ia bekerja sebagai pelatih setelah situasi memaksanya meninggalkan Afghanistan. Ia juga memandang perjalanan ini sebagai pelajaran untuk tidak menyerah.

“In life, you get one chance. In cricket, if you’re a batter, you might just bat once,” katanya.

Ambisi tim kriket perempuan Afghanistan adalah bisa kembali bermain seperti tim putra, berada dalam ekosistem kriket resmi dunia dan tampil di bawah bendera nasional mereka sendiri.

Rekan satu tim Latifi, Shabnam Snahsan, menyatakan kekecewaannya karena tim tidak dapat mengikuti Piala Dunia musim panas ini. Ia menyebutnya “so disappointing,” namun tetap menyampaikan kegembiraannya saat tim bertemu King Charles serta mendapatkan dukungan publik.

Snahsan menegaskan kondisi yang dihadapi perempuan di Afghanistan. “Back in Afghanistan, women don’t have the right to play cricket, even to go out, to study or anything,” katanya.

Ia menjelaskan bahwa bagi mereka, kehadiran di luar negeri bukan semata soal kriket. “We’re here to play cricket – but it’s not just cricket, we’re here to fight for them and this has meant a lot for us.”

Di taman Clarence House, King Charles menerima kemeja resmi bertanda tangan dari tim dan berpose untuk foto bersama. Dalam suasana panas di gelombang cuaca, Raja tetap mengenakan dasi dan setelan.

Para pemain kemudian memasangkan badge “Afghan Women’s XI” pada pakaian musim panas Raja. Dalam kesempatan itu, King juga mengatakan bahwa ia pernah bermain kriket “but not very well”.

King tampak tertarik pada kisah para pemain mengenai bagaimana mereka meninggalkan Afghanistan, termasuk bahasa yang mereka gunakan di rumah. Ia juga menanyakan apakah para pemain menghadapi protes sebagai perempuan yang berprofesi sebagai pemain kriket di Afghanistan.

Mereka menjelaskan bahwa sebelum pengetatan resmi terhadap kriket perempuan, tidak banyak penentangan. Namun setelah itu, mereka menceritakan “terrifying journeys” yang dialami dan bagaimana mereka berhasil melewati titik-titik pemeriksaan Taliban.

Dalam rangkaian tanya jawab, Latifi menyampaikan pertanyaan yang lebih personal. “Can I ask you a question?” dan “Can you say a posh word for me?” katanya, ketika Raja terlihat seperti sedang menghadapi serangan spin yang sulit.

Latifi lalu menyarankan, “A posh word like ‘lavatory’.” Raja sempat mempertimbangkan untuk menjawab, tetapi kemudian tertawa dan mengatakan, “I’d need advance warning of that…”.

Setelah pertemuan, Latifi menyebut ia sedang belajar bahasa Inggris dan ingin mengetahui kata-kata bergaya “posh” untuk digunakan. Ia juga mencontohkan “marvellous” sebagai kata lain yang ia incar untuk dipelajari.

Meski bertemu King yang dianggap cukup “posh,” para pemain dan rekan-rekannya menaruh harapan lebih besar: agar mereka diizinkan bermain olahraga yang mereka cintai, dan melakukannya untuk negara mereka sendiri.