jurnalistik.co.id – Ratusan hewan laut berwarna biru “Velella velella”, yang dikenal sebagai by-the-wind sailors, terlihat terdampar di Pantai St Bees, Cumbria, dalam beberapa pekan terakhir. Fenomena ini menarik perhatian warga dan pengunjung karena tampilannya seperti makhluk laut “menyala” di garis pantai, berukuran kecil, dan datang dalam jumlah besar.
Di lokasi tersebut, seorang warga setempat, Louise Nicholson, pertama kali mengira makhluk itu sebagai sesuatu yang menempel di laut. Ia kemudian mengambil foto-foto setelah menyadari bahwa yang tampak bukan sekadar rumpun laut.
Nicholson sempat mengungkap pengamatannya dengan kalimat yang menggambarkan betapa melimpahnya temuan ini: “There were hundreds of them and there were lots of visitors to the area taking photos.” Ia menyebut ukuran hewan itu tidak terlalu besar, hanya sekitar “2ins (5cm)”, dan tetap memandangnya sebagai momen yang istimewa: “They are absolutely beautiful, only about 2ins (5cm) in size. It was a great find on a beautiful day.”
Meski ukurannya kecil, ciri khas by-the-wind sailors membuatnya mudah dikenali. Namanya sendiri merujuk pada kebiasaannya “menangkap” angin menggunakan sebuah layar kaku berukuran kecil. Dengan layar tersebut, spesies ini bergerak di permukaan laut, terbawa arus dan kondisi cuaca, sehingga bisa menempuh jarak yang jauh dari habitat awalnya.
Bukan ubur-ubur, melainkan koloni hidrozoa
Kepala Bagian Laut di Cumbria Wildlife Trust, Georgia de Jong Cleyndert, menjelaskan bahwa meski bentuknya tampak mirip ubur-ubur bagi sebagian orang, by-the-wind sailors sebenarnya merupakan colonial hydrozoans. Dalam penjelasannya, ia menekankan bahwa setiap “by-the-wind sailor” bukan satu organisme tunggal yang berdiri sendiri, melainkan tersusun dari banyak bagian makhluk kecil yang bekerja bersama sebagai satu koloni mengapung. Ia menyatakan, “Each by-the-wind sailor is made up of hundreds of tiny, specialised animals working together as a single floating colony.”
De Jong Cleyndert juga menegaskan perbedaan penting lain terkait risiko sentuhan. “Although they are not jellyfish, they do have a very mild sting, even after they have washed up so do not touch them.” Pernyataan ini menjadi pengingat bahwa walaupun kelihatannya indah dan tak sedramatis anggapan awal, hewan tersebut tetap berpotensi menyengat dengan tingkat yang ringan.
Berita Terkait
Angin darat yang kuat mendorongnya ke pantai
Menurut de Jong Cleyndert, kemampuan layar biru yang tembus cahaya memungkinkan by-the-wind sailors terbawa melayang di permukaan laut dalam jarak besar. Namun, fenomena terdampar dalam jumlah besar biasanya muncul ketika kondisi tertentu terjadi—terutama setelah periode angin dari laut yang berlangsung terus-menerus mendorong kumpulan hewan ke arah pesisir.
Ia merangkum pola yang sering terjadi pada spesies ini melalui kalimat berikut: “When conditions are right, particularly after periods of persistent onshore winds, thousands can be washed up along our shores,” she said. Dengan kata lain, angin onshore yang kuat menjadi faktor kunci yang menjelaskan mengapa dalam waktu yang relatif berdekatan, banyak individu akhirnya ditemukan di satu wilayah pantai.
Di St Bees, penampakan massal ini kemudian memunculkan respons beragam dari pengunjung. Banyak orang mendatangi area untuk melihat dan mendokumentasikan makhluk biru tersebut, mengikuti apa yang Louise Nicholson temukan pertama kali. Dari situ, laporan lokal membantu memastikan bahwa pengunjung tidak hanya mengagumi bentuknya, tetapi juga memahami karakter biologisnya dan tindakan kehati-hatian yang diperlukan.
Walaupun kemunculan “by-the-wind sailors” tidak berarti adanya bahaya besar secara langsung, pesan paling penting tetap sama: jangan disentuh. De Jong Cleyndert menekankan bahwa sentuhan yang mungkin ditimbulkan memang “very mild”, tetapi tetap ada, bahkan setelah hewan-hewan ini sudah terdampar.
Bagi warga dan wisatawan yang melewati Pantai St Bees, kemunculan ratusan by-the-wind sailors menjadi pengingat bahwa perubahan cuaca dan pola angin dapat membentuk peristiwa alam yang tak terduga di garis pantai. Pada saat yang sama, penjelasan dari Cumbria Wildlife Trust membantu meluruskan miskonsepsi awal, yaitu mengira hewan ini sebagai ubur-ubur, padahal yang terlibat adalah koloni hidrozoa dengan layar biru yang memungkinkan mereka melayang jauh di permukaan laut.
Hingga gelombang terdampar mereda, pengunjung diharapkan tetap menjaga jarak, memberi ruang bagi penanganan dan pemantauan dari pihak terkait, serta menghormati bahwa makhluk laut sekecil 5 cm pun bisa membawa informasi penting tentang dinamika laut—terutama ketika didorong oleh angin onshore yang persisten.








