Peristiwa

Sudaryono Ungkap Dugaan Sementara Keracunan di SMKN 6 Semarang, Diduga Terkait Waktu Masak Lebih Awal

×

Sudaryono Ungkap Dugaan Sementara Keracunan di SMKN 6 Semarang, Diduga Terkait Waktu Masak Lebih Awal

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: BGN Ungkap Dugaan Sementara Keracunan di SMKN 6 Semarang: Waktu Masak Lebih Awal

jurnalistik.co.id – Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Sudaryono mengungkapkan dugaan sementara terkait kasus keracunan di SMK Negeri 6 Semarang, Jawa Tengah. Menurutnya, investigasi awal mengarah pada kombinasi jenis bahan makanan dan cara pengolahan yang dilakukan lebih awal sebelum distribusi.

Sudaryono menyebut BGN sedang menelusuri kemungkinan pemicu dari beberapa bahan yang masuk menu. Berdasarkan temuan investigasi awal, bahan-bahan tersebut mencakup daun singkong hingga bumbu rendang.

“Sejauh ini investigasi yang kami terima adalah ada beberapa bahan, ya ada daun singkong, ada bumbu rendang dan lain-lain. Tapi, sejauh ini, investigasi kita sejauh ini adalah dari bahan-bahan itu dan diduga memasaknya jauh lebih awal,” kata Sudaryono dalam akun TikTok pribadinya yang dibagikan kepada Kompas.com pada Minggu (2/7/2026).

Dalam keterangannya, Sudaryono menegaskan bahwa dugaan utamanya bukan hanya pada jenis bahan. Waktu memasak yang terlalu dini sebelum makanan didistribusikan juga menjadi faktor yang sedang diperiksa.

Ia menilai kesimpulan itu terlihat dari perbandingan dengan sekolah lain yang memperoleh menu dari SPPG yang sama. Jika sekolah-sekolah tersebut tidak mengalami dugaan keracunan, maka BGN menganggap ada perbedaan pada proses pelaksanaan yang perlu ditelusuri lebih lanjut.

Sudaryono menjelaskan alur waktu proses memasak hingga pemberian makanan. Ia menyampaikan bahwa kegiatan memasak sudah dimulai sejak pukul 9 malam.

“Jadi, dari mulai jam 9 (malam) sudah mulai masak. Itu kemudian diberikan sekitar jam 9 atau jam 10 (pagi). Jadi, ini cukup lama, karena yang dikasih makan bukan hanya SMK Negeri 6 tapi juga beberapa sekolah yang lain. Nah, sekolah yang lain itu dikasikannya lebih pagi,” beber dia.

Dengan rentang waktu tersebut, BGN memandang proses penyajian yang berlangsung relatif panjang dapat menjadi variabel yang berpengaruh. Pihaknya kemudian menunggu hasil pengujian untuk memastikan arah dugaan sementara yang telah dihimpun.

Sudaryono mengatakan hasil pemeriksaan laboratorium baru akan keluar dalam kurun waktu 5 sampai 7 hari ke depan. Sambil menunggu, BGN mengambil langkah penanganan pada rantai layanan yang terkait dengan proses memasak dan distribusi.

BGN memutuskan untuk membekukan sementara layanan SPPG Karangturi. Tindakan tersebut dilakukan sebagai bagian dari proses investigasi dan pengamanan penyaluran program.

“Jadi dapurnya di-suspend (sambil) menunggu (hasil) investigasi. Jadi kemudian SPPG-nya juga kita beri surat peringatan. Jadi di-suspend ini kan ada mitra, ada yayasan, ada SPPG, ada yang di situ kita beri sanksi termasuk Korcam dan ke atas ini kami beri peringatan,” tutur Sudaryono.

Ia juga mengingatkan bahwa pihak pengelola wajib mengikuti standar operasional prosedur (SOP) yang telah diatur. Menurutnya, kepatuhan SOP menjadi kunci untuk mencegah terulangnya masalah serupa.

“Saya paham Anda punya chef, Anda punya pengawas gizi, Anda punya orang-orang yang kerja di situ. Barangkali mungkin ada satu dua yang ada yang ngeyelan, lah, harus ada leadership di situ. Karena nyawa, kesehatan dan nyawa seseorang itu sangat berarti,” ujar Sudaryono.

Selain memberi penekanan pada aspek kepemimpinan dan pengawasan, BGN juga meminta kepala SPPG untuk bertindak tegas terhadap berbagai bentuk penyimpangan. Tindakan itu ditujukan agar setiap ketidakpatuhan terhadap SOP tidak dibiarkan berlangsung.

Sebelumnya diberitakan, sebanyak 707 orang mengalami gejala setelah menyantap Makanan Bergizi Gratis (MBG) di SMK Negeri 6 Kota Semarang, Jawa Tengah pada Jumat (31/7/2026). Rinciannya terdiri atas 693 siswa dan 14 guru.

Dari total tersebut, 698 orang mendapatkan penanganan langsung di lokasi kejadian. Sementara 9 orang lainnya dirujuk ke Puskesmas Halmahera, RSUD KRMT Wongsonegoro, RST Bhakti Wira Tamtama, serta Puskesmas Bangetayu untuk menjalani observasi lebih lanjut.

Dengan langkah suspend sementara terhadap SPPG Karangturi dan surat peringatan yang menyasar pihak terkait, BGN menempatkan investigasi sebagai dasar tindak lanjut. Seluruh proses pemeriksaan tetap menunggu keluarnya hasil laboratorium untuk memastikan dugaan penyebab yang saat ini masih bersifat sementara.