jurnalistik.co.id – Persahabatan Rob Marshall dengan Bonnie Tyler berawal dari sebuah ketukan pintu saat usianya masih 15 tahun. Ia datang dengan satu tujuan sederhana: meminta tanda tangan, lalu mendapati dirinya terseret ke tradisi Natal yang berlangsung hampir tiga dekade. Marshall berasal dari Mumbles, Swansea. Ia mengingat masa remajanya ketika menonton penampilan Tyler di acara televisi anak-anak Swap Shop. Ketika ia menjadi penggemar kaset, ia membeli album Tyler dalam format tersebut, lalu membawanya langsung ke rumah sang penyanyi untuk diminta menandatangani. “Awalnya saya mengetuk pintu,” kenang Marshall. Namun ia sempat salah rumah, hingga akhirnya bertemu di sebuah rumah tiga kamar tidur yang saat itu memang milik Tyler. Dalam pertemuan awal itu, pembicaraan berkembang tanpa terasa—karena Marshall juga seorang musikus klasik. Ia menuturkan Tyler memberi waktu besar untuk orang-orang, tidak hanya sebatas bertukar basa-basi. Kunjungan berikutnya pun mengikuti pola serupa. Marshall menceritakan bahwa saat ia datang lagi—untuk tanda tangan, atau untuk keperluan lain seperti tanda tangan sebuah rilisan—Tyler menyambutnya dengan ajakan masuk, “silakan, masuk, masukkan ketel, dan kita minum teh.” Menurutnya, Tyler bahkan terbiasa datang melihat penampilannya, mulai dari konser sekolah ketika Marshall masih belajar, hingga acara-acara profesional setelah ia berkembang sebagai pemain. Ada momen lain yang makin menguatkan kedekatan mereka. Ketika Marshall menempuh pendidikan di Royal Welsh College of Music di Cardiff, Tyler sedang bernyanyi di St David’s Hall. Marshall lalu mendatangi lokasi konser yang berlangsung saat perayaan St David’s Day, namun petugas keamanan sempat menyepelekan permintaannya. Ia tetap meninggalkan catatan, lalu kembali kemudian. Ia akhirnya mendapat kabar bahwa Tyler mengundangnya untuk turun dan minum teh. Marshall membawa seorang teman kuliah dalam kunjungan itu. Ia mengatakan semua orang terkejut karena teman-teman yang hadir mendengar bahwa ia memang mengenal Bonnie Tyler. Dari situ, hubungan mereka terasa makin menjadi sesuatu yang personal, bukan sekadar relasi penggemar dan idola. Pada kesempatan lain, undangan Natal justru berawal dari pertemuan tak terduga. Marshall menyebut ia sempat bertemu Tyler di sebuah pub pada malam Natal saat usianya sekitar 20 tahun. Dari pertemuan itu, ia menerima ajakan untuk ikut acara Natal yang kemudian menjadi agenda tahunan di rumah Tyler. Marshall lalu menghadiri pertemuan Natal itu selama 29 tahun berikutnya. Ia juga mengingat tahun-tahun terakhir yang terasa sangat berarti. Marshall mengatakan bahwa pertemuan Natal itu berlangsung sampai yang terakhir Tyler adakan bersama suaminya, Robert Sullivan, pada 2019. Setelah ibunda Marshall meninggal, sang ayah ikut hadir menyusul selama beberapa waktu setelah itu, seolah tradisi kebersamaan tersebut berlanjut lintas generasi dalam keluarga Marshall. Dalam rangkaian perayaan itu, Marshall menggambarkan suasanannya seperti rumah terbuka. Ia menyebut “banyak sampanye mengalir sepanjang hari,” buffet yang berlimpah, serta kesempatan bertemu berbagai figur terkenal. Ia juga menyebut beberapa nama yang ia jumpai dalam lingkaran tersebut, termasuk Catherine Zeta Jones dan Sir Gareth Edwards. Selain bersosialisasi, Marshall dan Tyler juga punya ritual musik setiap tahun. Ia mengatakan mereka akan “menampilkan bagian kecil” bersama, memainkan lagu-lagu Natal sekaligus menyisipkan beberapa hit terbesar Tyler, termasuk Total Eclipse of the Heart dan Holding Out For a Hero. Pada satu kesempatan, mereka bernyanyi bersama Lorraine Crosby selama “10 menit penuh” untuk Bat Out Of Hell—Crosby dikenal sebagai vokalis perempuan dalam lagu Meat Loaf tahun 1993 berjudul I’d Do Anything for Love. Marshall menautkan semuanya ke momen awal yang menjadi pemantik. Lagu yang ia sebut memulai semuanya adalah If You Were a Woman (And I Was a Man), yang pernah tampil di Swap Shop. Lagu itu ditulis oleh Desmond Child, seorang penulis lagu dan produser yang pernah meraih pengakuan Grammy sebanyak empat kali. Child juga menulis dan memproduseri banyak lagu untuk Tyler, selain karyanya untuk sejumlah musisi besar. Kabar duka itu kemudian datang dari lingkaran terdekat. Dalam pernyataan di situs web Bonnie Tyler pada Kamis pagi, keluarganya mengonfirmasi bahwa Tyler meninggal pada Rabu di Portugal setelah menjalani penyakit yang berlangsung lama. Tyler adalah Gaynor Hopkins, dan meskipun ia menggunakan nama panggung Bonnie Tyler, ia tetap dipanggil Gaynor oleh orang-orang terdekatnya. Ia meninggalkan suami Robert Sullivan, yang telah menjadi pendampingnya selama lebih dari 50 tahun. Desmond Child juga menyampaikan ia mengetahui kematian Tyler dari suaminya. Ia mengatakan ia benar-benar terpukul karena mereka sangat dekat. Child menggambarkan Tyler memiliki sisi yang terasa megah sekaligus tetap rendah hati, dengan energi yang besar dan kemampuan tertawa yang kerap mewarnai pertemuan. Ia menambahkan bahwa suara Tyler adalah harta global, namun Tyler tetap bahagia bernyanyi di ruang publik seperti pub. Marshall menilai sikap Tyler dalam bermusik tidak dibuat-buat. Baginya, Tyler tidak rewel soal tempat ataupun waktu bernyanyi. Ia bahkan bersedia naik panggung saat Marshall tampil bersama band teman, dan selalu antusias ketika kesempatan karaoke datang. Ia juga menjelaskan adanya dua cara orang memanggil pasangan itu. Marshall menyebut bahwa ada kelompok yang mengenal Bonnie dan Robert, sementara ada pula yang mengenal Bobby dan Gaynor. Dalam kesehariannya, ia sendiri mengaku tidak pernah memanggil Tyler dengan sebutan Bonnie; baginya, itu hanya Gaynor dan Love. Marshall mengatakan ia memiliki banyak kenangan bahagia yang akan dirindukan bersama-sama. Ia juga mengungkap rencananya untuk menyalakan lilin di gereja setempat sebagai penghormatan. Bagi Marshall, Tyler adalah sosok yang unik—jauh lebih berbakat daripada yang mungkin orang lain ketahui, penyanyi yang menyentuh emosi, sekaligus pribadi yang tetap normal, baik minum, dan hangat. Ketika ia berjalan di Mumbles pada hari setelah kabar itu beredar, ia merasa suasananya seperti tertutup kabut tipis, seolah kenangan-kenangan mereka masih menyelimuti tempat itu.
Beranda
Entertainment
Penggemar Bonnie Tyler di Mumbles: Ketuk Pintu Saat Usia 15, Lalu Ikuti Natal Bersama Hampir 30 Tahun
Penggemar Bonnie Tyler di Mumbles: Ketuk Pintu Saat Usia 15, Lalu Ikuti Natal Bersama Hampir 30 Tahun
Redaksi5 min baca











