jurnalistik.co.id – Mojtaba Khamenei menyampaikan seruan balas dendam menyusul pemakaman ayahnya, Ayatollah Ali Khamenei. Pernyataan itu dibacakan melalui televisi pemerintah dan menjadi pesan publik pertamanya sejak rangkaian upacara pemakaman dimulai pekan ini.
Ali Khamenei tewas dalam serangan udara pada 28 Februari, yang disebut sebagai hari pertama konflik bersenjata antara Amerika Serikat dan Israel melawan Iran. Sejak itu, suasana pemakaman di kota-kota di Iran diwarnai berbagai bentuk dukungan dan tuntutan pembalasan.
Sejumlah warga yang mengikuti prosesi pemakaman beberapa hari terakhir membawa spanduk yang menyerukan pembunuhan Presiden Amerika Serikat, Donald Trump. Trump sendiri memperingatkan bahwa jika ada rencana seperti itu, Amerika Serikat akan “melumpuhkan dan menghancurkan semua area” Iran sebagai respons.
Dalam pernyataannya, Mojtaba menyatakan bahwa balas dendam adalah “kehendak bangsa”. Ia juga menekankan bahwa isi pesan tersebut tidak bergantung pada keberadaannya maupun keberadaan pejabat lain.
Dikutip dalam pernyataan tertulis yang dibacakan di layar, Mojtaba mengatakan, “Kami berjanji untuk membalas darah pemimpin syahid yang telah gugur dan seluruh para syahid dari dua perang ini dari tangan para pembunuh yang kriminal dan mempermalukan.” Ia menambahkan, “Masalah ini tidak bergantung pada keberadaan pribadi saya maupun keberadaan pejabat lainnya. Apakah kami hadir atau tidak, semuanya akan terjadi.”
Ali Khamenei dimakamkan di kota asalnya, Mashhad, pada Jumat. Putranya, Mojtaba, disebut belum terlihat di ruang publik sejak sebelum perang dimulai pada Februari, serta beredar rumor bahwa ia mengalami perubahan fisik setelah serangan yang merenggut nyawa ayahnya.
Konteks eskalasi dan isu rencana pembunuhan
Pernyataan Mojtaba muncul ketika perang di antara AS, Israel, dan Iran terus dibayangi eskalasi dan upaya perundingan. Sepekan terakhir, The Wall Street Journal dan sejumlah media AS melaporkan bahwa Israel telah berbagi informasi intelijen dengan Washington mengenai dugaan rencana Iran untuk membunuh Presiden AS secara terencana.
Laporan tersebut menyebut bahwa rencana itu baru disusun belakangan. Namun, Donald Trump membantah bahwa Teheran membuat rencana baru ataupun bahwa Israel adalah sumber intelijen tersebut.
Berita Terkait
Trump mengatakan dalam sebuah wawancara kepada New York Post bahwa ia sudah menjadi target utama sejak lama. Ia menyatakan, “Tidak. 1 [dalam daftar pembunuhan Iran] untuk waktu yang lama.” Penyangkalan ini sekaligus membantah narasi bahwa ada rencana pembunuhan yang lebih segar dari sebelumnya.
Perang, gencatan senjata, dan insiden kapal tanker
Perang bermula dari serangan AS dan Israel pada 28 Februari. Setelah serangan itu, Iran menyerang Israel, target milik Amerika Serikat, serta sekutu-sekutunya di kawasan Teluk.
Pada Juni, AS dan Iran menandatangani kesepakatan gencatan senjata yang dimaksudkan untuk memfasilitasi pembicaraan guna mengakhiri konflik. Meski demikian, ketegangan kembali meningkat setelah serangkaian insiden di jalur maritim.
Awal pekan ini, tiga kapal tanker komersial diserang saat berupaya melintas melalui rute yang disarankan AS melalui perairan Oman. Iran berulang kali menyatakan bahwa satu-satunya rute “aman” adalah rute terpisah yang melalui wilayah perairannya sendiri.
Insiden tersebut berujung pada rangkaian serangan AS yang, menurut pejabat Iran, menewaskan 17 orang dan melukai 115 orang. Iran kemudian membalas dengan serangan terhadap sekutu AS di kawasan Teluk.
Pertukaran serangan ini menaikkan tensi hubungan dan mendorong Trump menyatakan bahwa gencatan senjata telah berakhir. Meski begitu, Trump juga menyatakan bahwa pembicaraan akan tetap berlangsung, sementara para mediator berupaya menghidupkan kembali proses negosiasi.
Menurut pejabat AS, melalui mediator, pihak Amerika telah menyampaikan permintaan agar Iran secara terbuka menyatakan Selat Hormuz—jalur pelayaran internasional yang vital—dalam kondisi terbuka. AS juga menyampaikan bahwa Iran diminta berjanji untuk menghentikan penembakan terhadap kapal-kapal komersial.
Sejalan dengan itu, menurut pemberitaan media AS, Iran menyampaikan kepada pejabat Amerika bahwa serangan terhadap kapal tanker merupakan kesalahan. Iran juga mengaitkan kejadian tersebut kepada kelompok internal yang bertindak menyimpang.












