Bisnis & Ekonomi

Ryanair Siapkan Skenario Darurat di Tengah Krisis BBM Pesawat

10
×

Ryanair Siapkan Skenario Darurat di Tengah Krisis BBM Pesawat

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: Maskapai Penerbangan Ini Ungkap Skenario 'Kiamat', Beri Warning

jurnalistik.co.id – Ryanair mengatakan sudah menyiapkan langkah darurat untuk menghadapi kemungkinan terburuk di tengah krisis bahan bakar pesawat yang masih bergejolak. Maskapai bertarif rendah asal Eropa itu menyebut skenario ekstrem tersebut tetap ada di atas meja, meski menurut manajemen peluangnya kecil terjadi.

Hal itu disampaikan kepala keuangan Ryanair, Neil Sorahan, dalam wawancara dengan CNBC Internasional. Ia menjelaskan bahwa perusahaan memang memiliki rencana jika situasi memburuk, tetapi tidak melihat kondisi itu akan benar-benar terjadi dalam waktu dekat.

“Apakah kami memiliki rencana untuk semacam situasi kiamat? Tentu saja, kami punya, tetapi saya tidak melihat itu akan terjadi,” tegas Neil Sorahan.

Menurut Sorahan, tekanan terbesar justru bisa dirasakan maskapai-maskapai yang sejak awal sudah lemah. Ia menilai sejumlah perusahaan penerbangan yang sebelumnya sudah kesulitan, bahkan sebelum perang, berisiko tidak mampu bertahan jika musim dingin membawa tekanan tambahan.

“Saya pikir kita akan melihat beberapa maskapai penerbangan yang lebih lemah yang sudah berjuang sebelum perang mungkin akan bangkrut di musim dingin,” tambahnya.

Di tengah ketidakpastian itu, Ryanair mengaku sudah melakukan lindung nilai atau hedging atas 80% kebutuhan bahan bakar musim panasnya di harga US$668 per metrik ton. Langkah itu diambil karena ketidakpastian ekonomi yang dipicu konflik di Timur Tengah serta blokade Selat Hormuz yang masih berlangsung.

Meski begitu, Sorahan menegaskan Ryanair tidak sedang menyiapkan pembatalan penerbangan. Ia tetap melihat perusahaan berada pada posisi yang kuat, terutama karena pasar minyak saat ini bergerak sangat fluktuatif.

“Saat ini kita berada di pasar minyak yang sangat fluktuatif,” ujarnya. “Jika kita kembali beberapa bulan yang lalu, kita mungkin memiliki beberapa kekhawatiran tentang pasokan minyak, tetapi kami semakin yakin bahwa tidak akan ada masalah terkait minyak hingga musim panas ini,” tambahnya.

Ia juga mengatakan Ryanair tidak terlalu khawatir terhadap pasokan bahan bakar jet karena ketergantungan Eropa pada Selat Hormuz menurun. Perusahaan, kata dia, sudah mendapatkan pemasok minyak lain dari negara-negara seperti AS, Venezuela, dan Brasil.

“Meskipun demikian, saya pikir harga akan tetap lebih tinggi untuk waktu yang lebih lama, yang menempatkan Ryanair pada posisi yang sangat kuat, mengingat lindung nilai bahan bakar kami yang kuat,” tambahnya.

Sebelumnya, CEO Ryanair Michael O’Leary juga menyoroti risiko kebangkrutan maskapai lain bila harga bahan bakar jet bertahan tinggi. Ia menyebut sudah ada contoh di Amerika Serikat, ketika Spirit Airlines mengajukan kebangkrutan setelah krisis bahan bakar jet memperparah masalah lama perusahaan itu, termasuk beban utang yang besar dan lonjakan biaya.

“Saya pikir akan ada kegagalan,” kata O’Leary. “Jika harga terus berlanjut di US$150 per barel hingga Juli, Agustus, September, maka Anda akan melihat maskapai penerbangan Eropa gagal dan itu, dalam jangka menengah, mungkin akan baik untuk bisnis Ryanair,” jelasnya.

Di sisi kinerja, Ryanair melaporkan laba setelah pajak naik 40% menjadi hampir 2,3 miliar euro untuk tahun yang berakhir pada bulan Maret. Pada periode yang sama, lalu lintas penumpang tumbuh 4% menjadi 208,4 juta, sementara pendapatan turun 11% menjadi 15,54 miliar euro.

Untuk musim panas, Ryanair awalnya memperkirakan tarif akan sedikit naik. Namun, proyeksi itu kini bergeser menjadi stabil, dengan hasil akhir sangat bergantung pada pemesanan menit terakhir selama periode perjalanan puncak.

Maskapai tersebut mengatakan pemesanan di menit-menit terakhir meningkat dan membuat visibilitas permintaan menjadi lebih terbatas. Analis Citi dalam catatannya pada Senin menyebut Ryanair terpaksa menurunkan harga untuk menarik pelanggan di awal musim panas, namun harga diperkirakan akan terlihat mirip dengan tahun lalu pada kuartal kedua perusahaan.

“Perusahaan mengindikasikan permintaan perjalanan S26 [Musim Panas 2026] ‘kuat’ tetapi pemesanan lebih dekat dari biasanya dan harga telah turun dalam beberapa minggu terakhir karena ketidakpastian ekonomi terkait harga bahan bakar, inflasi, dan kekhawatiran akan kekurangan bahan bakar,” tambah analis Citi.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *