jurnalistik.co.id – Kementerian Perdagangan (Kemendag) menyatakan pihaknya mengubah arah strategi ekspor nasional dengan menitikberatkan pada produk bernilai tambah tinggi. Langkah itu diharapkan tidak hanya mendorong pertumbuhan ekonomi, tetapi juga memperkuat daya saing Indonesia di pasar global.
Direktur Jenderal Pengembangan Ekspor Nasional Kemendag, Fajarini Puntodewi, menegaskan strategi tersebut menjadi penanda pergeseran dari ketergantungan pada komoditas primer menuju ekspor produk manufaktur sekaligus jasa. Menurutnya, prioritas pemerintah dalam beberapa tahun ke depan adalah mendorong ekspor bernilai tambah lebih tinggi agar mampu berkontribusi lebih besar bagi pertumbuhan ekonomi nasional.
Pergeseran ini, kata Puntodewi, merupakan bagian dari upaya meningkatkan nilai yang dihasilkan dari aktivitas perdagangan luar negeri. Dengan pendekatan tersebut, pemerintah menargetkan ekspor memberi dampak yang lebih luas bagi kinerja sektor produktif.
Pergeseran dari komoditas primer menuju nilai tambah
Pemerintah menilai peningkatan ekspor harus sejalan dengan peningkatan kualitas nilai yang terbentuk di sepanjang proses produksi. Karena itu, fokus diarahkan pada produk yang membawa nilai tambah lebih besar dibanding komoditas mentah.
Puntodewi menyebut ekspor yang diprioritaskan tidak semata-mata mengejar angka nilai ekspor, melainkan diarahkan agar mampu memperkuat posisi Indonesia dalam persaingan internasional. Ia menuturkan hal tersebut disampaikan dalam konteks kebijakan yang dijalankan pada Rabu (9/7/2026).
Secara praktis, perubahan arah strategi terlihat dari pemilihan sektor yang diproyeksikan berpotensi menghasilkan produk olahan dan manufaktur dengan kompetensi industri yang terus ditingkatkan. Pendekatan ini juga membuka ruang untuk mengembangkan layanan yang relevan dengan kebutuhan ekonomi global.
Produk olahan dan sektor manufaktur yang dipacu
Beberapa sektor yang menjadi fokus pengembangan meliputi produk pertanian, perkebunan, dan perikanan yang diarahkan ke bentuk pengolahan. Pemerintah juga menempatkan perhatian pada makanan olahan sebagai bagian dari penguatan nilai tambah.
Di sisi lain, Kemendag menyoroti sektor manufaktur seperti elektronik, otomotif, alas kaki, serta tekstil. Selain itu, industri besi dan baja serta furnitur juga masuk dalam sektor yang dikembangkan untuk mendukung ekspor produk bernilai tambah tinggi.
Pemerintah memperluas fokus pada berbagai lini produksi yang dinilai memiliki kapasitas untuk ditingkatkan. Dengan penguatan tersebut, ekspor diharapkan makin berdaya saing karena nilai yang dihasilkan tidak hanya bergantung pada bahan baku.
Ekspansi ke pasar jasa dan ekonomi digital
Selain produk, Kemendag juga memperkuat pengembangan ekspor melalui sektor jasa. Puntodewi menyebut beberapa di antaranya adalah gim, animasi, perdagangan elektronik atau e-commerce, MICE, serta hotel, restoran, dan katering.
Penekanan pada jasa, khususnya yang terkait dengan perkembangan ekonomi digital, dipandang sejalan dengan prospek pasar yang terus berkembang. Kemendag menilai sektor-sektor tersebut dapat memberi tambahan kontribusi dari aktivitas jasa yang memiliki nilai tambah tinggi.
Dalam peta pengembangan, eksportasi jasa juga diposisikan sebagai bagian dari upaya menumbuhkan sektor ekonomi kreatif. Pemerintah memandang jasa sebagai kanal yang dapat memperluas ruang kompetisi Indonesia di pasar luar negeri.
Berita Terkait
Target pasar utama dan negara nontradisional
Untuk memperluas jangkauan, pemerintah tetap memprioritaskan pasar ekspor utama. Kemendag menyebut sejumlah negara sasaran seperti China, Amerika Serikat, India, Jepang, Malaysia, Filipina, Vietnam, Korea Selatan, Singapura, dan Taiwan.
Selain pasar utama, pemerintah juga membidik pasar nontradisional yang dianggap memiliki peluang. Negara yang ditargetkan mencakup Uni Emirat Arab, Arab Saudi, Belanda, Rusia, Kanada, Kazakhstan, Peru, Pakistan, dan Kenya.
Pola pembukaan pasar itu, menurut Puntodewi, didukung pemanfaatan berbagai perjanjian perdagangan internasional yang telah dimiliki Indonesia. Dengan kerangka tersebut, Kemendag berupaya memperluas akses sehingga produk dan jasa Indonesia lebih mudah masuk ke pasar tujuan.
Program promosi dagang Kemendag sepanjang 2026
Untuk memperkuat akses pasar, Direktorat Jenderal Pengembangan Ekspor Nasional akan menggelar 178 kegiatan promosi dagang internasional sepanjang tahun 2026. Kegiatan tersebut mencakup promosi melalui 48 Perwakilan Perdagangan RI di luar negeri.
Selain itu, program promosi juga meliputi pameran internasional, penjajakan bisnis, misi dagang, hingga Trade Expo Indonesia. Rangkaian kegiatan tersebut diarahkan untuk memperluas pangsa pasar sekaligus meningkatkan nilai tambah produk Indonesia.
Pendekatan promosi yang beragam juga dimaksudkan untuk mempertemukan pelaku usaha dengan peluang pasar. Dengan demikian, penguatan ekspor diharapkan tidak berhenti pada penyampaian informasi, tetapi berlanjut pada aktivitas bisnis yang nyata.
Memperluas jumlah eksportir dan masuk rantai pasok global
Kemendag menyebut strategi juga diperkuat dengan peningkatan jumlah eksportir baru serta perluasan pasar. Pemerintah mendorong agar produk Indonesia dapat masuk ke rantai pasok global melalui kapasitas industri yang terus ditingkatkan.
Sejumlah sektor industri menjadi prioritas untuk didorong, termasuk industri suku cadang, elektronik, alas kaki, serta pakaian jadi. Penekanan pada sektor tersebut dimaksudkan untuk menambah daya saing melalui produk yang lebih siap bersaing di pasar internasional.
Di ranah jasa dan ekonomi kreatif, sektor yang turut menjadi perhatian meliputi animasi, gim, arsitektur dan desain, konten digital, fesyen, serta jasa konsultasi. Puntodewi menekankan bahwa fokus pemerintah bukan hanya mengejar peningkatan nilai ekspor, tetapi juga memastikan pertumbuhan ekspor yang berkualitas, berkelanjutan, dan bernilai tambah lebih tinggi.
Dampak berganda bagi perekonomian nasional
Peningkatan ekspor, menurut Puntodewi, tidak hanya berkaitan dengan tambahan devisa. Pemerintah menilai kenaikan ekspor juga mendorong produksi industri, meningkatkan utilisasi kapasitas, sekaligus membuka lapangan kerja.
Lebih jauh, strategi tersebut diharapkan turut memperkuat investasi sehingga memberi efek berganda bagi perekonomian nasional. Dengan mengarahkan ekspor ke produk bernilai tambah dan jasa, pemerintah berupaya memastikan manfaatnya terasa tidak hanya di angka perdagangan, tetapi juga pada aktivitas ekonomi di dalam negeri.












