Bisnis & Ekonomi

Kurs Rupiah Tertekan ke Rp 18.128 per Dolar AS, Bagaimana Proyeksi Akhir Tahun?

×

Kurs Rupiah Tertekan ke Rp 18.128 per Dolar AS, Bagaimana Proyeksi Akhir Tahun?

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: Rupiah Melemah ke Rp 18.128 per Dollar AS, Begini Proyeksi hingga Akhir Tahun

jurnalistik.co.id – Nilai tukar rupiah pada penutupan perdagangan spot sore ini kembali berada di atas level Rp 18.000 per dollar AS. Meski demikian, rupiah masih melemah dibanding sesi sebelumnya.

Rupiah ditutup di level Rp 18.128 per dollar Amerika Serikat (AS), melemah 114 poin atau 0,63 persen. Pergerakan ini menunjukkan bahwa tekanan masih terasa, terutama saat pasar menimbang berbagai faktor global dan domestik.

Dari sisi prospek, Head of Investment Specialist Manulife Aset Manajemen Indonesia Freddy Tedja memproyeksikan pada akhir 2026 nilai tukar rupiah terhadap dollar AS dapat mencapai kisaran Rp 17.500 per dollar. Menurutnya, skenario tersebut bisa terwujud bila indikator bergerak ke arah yang positif.

Freddy menyebut bahwa nilai tukar rupiah sempat lebih stabil pada Juni 2026. Stabilitas ini, ujarnya, turut didukung kebijakan pro stabilitas yang dijalankan Bank Indonesia (BI), serta perubahan nada kebijakan pemerintah yang dinilai lebih mendukung pergerakan pasar.

Selain itu, ada pula faktor musiman yang mulai mereda. Tekanan yang berkaitan dengan periode pembayaran dividen dan waktu pelaksanaan Haji disebut mulai berkurang, sehingga tekanan jangka pendek terhadap kurs berpotensi melonggar.

Namun, Freddy menegaskan bahwa stabilitas rupiah tetap rentan. Pasar, katanya, akan terus memantau perkembangan global, termasuk dinamika geopolitik serta arah suku bunga The Fed.

Ketidakpastian global menjadi variabel yang dapat memengaruhi arus modal dan ekspektasi pelaku pasar. Jika ekspektasi terhadap kebijakan moneter AS berubah, nilai tukar berpeluang ikut bergerak cepat, baik menguat maupun kembali melemah.

Di luar faktor internasional, pasar juga memperhatikan kondisi domestik. Salah satu yang akan dicermati adalah evaluasi S&P Global Ratings pada periode Juli hingga Agustus, sekaligus konsistensi kebijakan pemerintah yang diperkirakan memengaruhi kepercayaan investor.

Sebagai gambaran, pergerakan mata uang di kawasan Asia terlihat bervariasi terhadap dollar AS. Yuan China mencatat penguatan terbesar sebesar 0,15 persen, sementara yen Jepang dan baht Thailand masing-masing menguat 0,14 persen.

Pergerakan lainnya menunjukkan kecenderungan menguat juga pada sejumlah mata uang, meski dengan persentase yang lebih kecil. Rupee India naik 0,11 persen, dollar Singapura menguat 0,05 persen, dan dollar Hong Kong menguat tipis sekitar 0,005 persen.

Pengaruh langkah fiskal semester I 2026 terhadap pasar

Analisis Mata Uang dan Komoditas Ibrahim Assuaibi menyoroti bahwa percepatan realisasi Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) pada semester I 2026 turut menjadi sentimen yang memengaruhi pergerakan pasar, termasuk rupiah.

Walau demikian, Ibrahim menekankan bahwa desain APBN 2026 tetap diarahkan sebagai instrumen utama untuk menjaga stabilitas ekonomi serta mendukung delapan agenda prioritas nasional. Dengan demikian, percepatan pelaksanaan anggaran bisa membawa dampak yang perlu dibaca melalui waktu dan kondisi pasar.

Menurut Ibrahim, pelaksanaan APBN yang berlangsung lebih cepat pada paruh pertama tahun 2026 menjadi sentimen negatif bagi pasar. Pernyataan ini menggambarkan bahwa respons investor tidak selalu sejalan dengan niat kebijakan, karena pasar sering merespons sinyal dengan mempertimbangkan likuiditas, ekspektasi, dan kebutuhan pembiayaan.

Dalam konteks nilai tukar, berbagai sentimen tersebut dapat saling berinteraksi dalam waktu yang relatif berdekatan. Kurs rupiah pada akhirnya akan ditentukan oleh kombinasi antara dukungan kebijakan domestik dan seberapa jauh faktor eksternal memberi tekanan.

Dengan kurs yang ditutup di Rp 18.128 per dollar AS, pasar masih berada dalam fase pengamatan ketat. Ke depan, perubahan arah suku bunga The Fed, perkembangan geopolitik, serta hasil evaluasi lembaga pemeringkat menjadi penentu penting bagi pergerakan rupiah hingga mendekati akhir 2026.

Jika kondisi positif terus muncul dan stabilitas kebijakan berhasil menjaga ekspektasi investor, potensi penguatan ke kisaran Rp 17.500 per dollar AS sebagaimana proyeksi Freddy dapat menjadi arah yang mungkin. Namun, karena stabilitas rupiah masih disebut rentan, skenario tersebut tetap bergantung pada kelanjutan sinyal pasar di periode-periode kunci berikutnya.