jurnalistik.co.id – Menyambut Tahun Baru Islam 1 Muharam 1446 Hijriah, warga di Kota Malang menggelar tradisi Mbabar Bubur Suro di Kompleks Pemakaman Ki Ageng Gribig. Kegiatan ini berlangsung pada Selasa (16/6/2026) di area pemakaman tersebut.
Pelaksanaan tradisi dilakukan oleh Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Kampung Gribig Religi (KGR). Tradisi Mbabar Bubur Suro menjadi bagian dari upaya pelestarian budaya sekaligus sarana mempererat kebersamaan warga di Kelurahan Madyopuro, Kecamatan Kedungkandang, Kota Malang.
Ketua Pokdarwis Kompleks Ki Ageng Gribig, Devi Arif Nurhadiyanto, menjelaskan bahwa kegiatan ini sudah menjadi rutinitas menjelang Tahun Baru Islam. Ia menyebut Mbabar Suro telah digelar setiap kali peringatan 1 Muharam, dengan pelaksanaan tahun ini sebagai tahun keenam sejak kelompok sadar wisata terbentuk.
Dalam keterangannya, Devi mengatakan, “Di kompleks makam Ki Ageng Gribig ini memang punya tradisi rutin jelang tahun baru Islam. Kami selalu membuat jenang suro atau bubur suro yang sering kami sebut Mbabar Suro . Ini menjadi tahun keenam setelah berdirinya Pokdarwis,” ujar Devi, Selasa (16/6/2026).
Bubur suro yang disiapkan berbahan dasar beras dan santan. Devi menuturkan tradisi ini memiliki makna filosofis dalam kebiasaan masyarakat Jawa, karena bubur dipandang sebagai makanan yang sederhana dan mudah diterima semua kalangan.
Devi menyampaikan, “Konsep bubur itu makanan yang fleksibel . Harapannya kami bisa lebih mudah berlapang dada dan legawa . Bubur putih dari beras melambangkan awal tahun yang baik, bersih, dan suci. Semoga masyarakat diberi kesehatan, kesegaran, kebugaran, dan hidup rukun,” tuturnya.
Untuk kegiatan kali ini, panitia memasak sekitar 8 kilogram beras. Dari jumlah tersebut, bubur suro diolah menjadi sekitar 100 porsi yang selanjutnya dibagikan kepada warga serta para peziarah.
Proses memasaknya menggunakan tungku. Bubur kemudian diaduk bersama-sama secara gotong royong selama kurang lebih satu jam.
Komposisi bahan yang digunakan juga disebut sederhana. Bubur suro dibuat dari beras dan santan kental, dengan tambahan aromatik seperti daun serai, daun jeruk, dan daun salam, serta penyedap rasa.
Devi menjelaskan mekanisme penyelenggaraan kegiatan melalui gotong royong warga, “Kami masak bersama-sama warga, semua dilakukan secara swadaya oleh warga dan ada donatur setiap kali ada acara di Pokdarwis. Kami mengusung konsep kebersamaan, guyub rukun ,” jelasnya.
Tanpa kirab budaya
Berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya, peringatan kali ini tidak disertai kirab budaya atau arak-arakan. Pokdarwis memilih menggelar rangkaian acara secara sederhana di dalam kompleks pesarean bersama warga, peziarah, dan pengunjung.
Devi menegaskan pilihan tersebut dengan menyatakan, “Kami memilih fokus di dalam kompleks pesarean saja, memasak bersama warga, pengunjung, dan peziarah yang datang ke makam Ki Ageng Gribig,” ungkap Devi.
Di sisi lain, Lurah Madyopuro, Fredy Johari Andiansyah, menyampaikan apresiasi atas konsistensi masyarakat dalam menjaga tradisi yang dinilai menjadi bagian dari identitas budaya setempat. Ia menilai kegiatan ini juga menjadi momentum refleksi diri dan doa bersama menyambut tahun baru Islam.
Fredy mengatakan, “Tradisi bubur suro khususnya di wilayah Kelurahan Madyopuro selalu rutin dilaksanakan setiap penanda pergantian tahun 1 Muharam. Kami mendukung penuh kegiatan yang digawangi Pokdarwis Ki Ageng Gribig Religi ini,” kata Fredy.
Melalui rangkaian memasak bersama dan pembagian bubur suro, tradisi Mbabar Bubur Suro di Kompleks Makam Ki Ageng Gribig pada Selasa (16/6/2026) menjadi pertemuan warga dan peziarah dalam merawat kebersamaan sekaligus menghadirkan doa menjelang pergantian tahun baru Islam.









