jurnalistik.co.id – Kabar meninggalnya Nasirun, seniman asal Cilacap, Jawa Tengah, membuat orang-orang terdekatnya merasa kaget. Di Yogyakarta, duka itu langsung terasa karena Nasirun selama ini dikenal dekat dengan rekan-rekan sesama pelaku seni.
Jumadil Alvi adalah salah satu yang sempat berinteraksi dengan Nasirun saat masih menjalani hari-harinya. Ia bahkan bertetangga dengan Nasirun di Perumahan Bayeman Permai.
Alvi mengingat pertemuan yang terjadi pada Jumat (31/7/2026). Saat itu, ia sempat melihat Nasirun sedang melakukan aktivitas di depan rumah.
“Masih. Di sini, di rumahnya. Saya lewat sini dia lagi nyapu. Masih kegiatan,” kata Alvi ditemui di rumah duka, Sabtu (1/8/2026).
Alvi juga bercerita bahwa dua hari sebelum kejadian, ia dan Nasirun masih bisa datang menonton pameran bersama. Saat menonton, Nasirun terlihat mengenakan jaket yang tebal, seolah mengikuti suasana yang dingin.
“Cuaca Jogja kan memang lagi dingin. Wis koyo ngono krukupan , jaketan , syal ya biasa bercanda-bercanda aja. Nah kemarin sore juga kayak gitu dia itu. Saya sendiri pas dikasih tau tadi pagi langsung kaget sekali karena enggak nyangka baru kemarin kita ngobrol-ngobrol itu. Jadi prosesnya cepat sekali,” ujar dia.
Menurut informasi dari keluarga, beberapa hari terakhir Nasirun sempat merasakan sesak napas. Namun keluhan itu tidak selalu menetap; rasa sesak tersebut muncul dan hilang.
“Jadi memang kalau sesaknya itu kata keluarga tiga hari ini udah sesak cuman kan hilang timbul hilang timbul dan memang beliau itu kan orang yang agak takut kalau periksa-periksa ke dokter, biasa lah seniman,” ucap dia.
Pada Sabtu (1/8/2026) pukul 02.00 WIB dini hari, kondisi yang semula berfluktuasi dirasakan semakin parah. Nasirun kemudian dilarikan ke rumah sakit.
“Saya langsung ke sini nyiapin di sini jadi anak-anak ke sana (rumah sakit) saya ke sini karena kan enggak ada orang di sini,” ujarnya.
Sekitar pukul 05.00 WIB, Nasirun meninggal dunia. Bagi rekan sesama seniman, peristiwa itu terasa sebagai perpisahan yang datang cepat setelah perbincangan dan pertemuan sehari-hari.
Berita Terkait
Dalam ingatan Alvi, sosok Nasirun menonjol bukan hanya dari karya, tetapi juga cara ia memperlakukan sesama. Ia dikenal tidak membeda-bedakan seniman senior maupun seniman junior.
“Dengan seniman-seniman muda Jogja sangat perhatian. Dia tidak membedakan antar seniman. Makanya kadang-kadang kan saya bercanda sama dia, ‘Sosok kayak kamu itu udah pameran internasional di mana-mana, tapi pameran RT antar gang aja dia tetap mau’. Tetap datang,” katanya.
Kenangan-kenangan semacam itu kini menjadi bagian dari cara Alvi dan rekan-rekan memaknai kepergian Nasirun. Kehadiran Nasirun selama ini terasa seperti penyangga bagi banyak ruang pertemuan seni.
Perjalanan keyakinan dalam dunia kesenian
Selain sesama seniman, duka juga disampaikan oleh Mikke Susanto, dosen FSRD ISI Yogyakarta. Ia mengenal Nasirun sebagai figur yang memberi terang dalam cara memandang hidup di bidang seni.
Menurut Mikke, Nasirun meyakinkan bahwa dunia seni bisa dijadikan mata pencaharian utama. Ucapan dan keyakinan tersebut membentuk cara pandangnya sendiri terhadap profesi kesenian.
“Saya mengenal Nasirun sebagai orang yang secara singkat adalah orang yang mampu membuat saya percaya diri hidup di dunia kesenian. Kadang-kadang ada keluarga yang masih belum yakin bahwa anaknya yang di kesenian itu bisa hidup,” ujar Mikke.
Mikke menyebut pernah beberapa kali bekerja sama dengan Nasirun. Salah satu kolaborasi yang ia anggap penting terjadi ketika Nasirun dan Sujiwo Tejo membuat pergelaran bersama saat masa pandemi Covid-19.
“Salah satu yang mungkin bisa disebut menarik itu ketika kolaborasi antara Nasirun dan Sujiwo Tejo di sini, 24 jam performance ,” kata Mikke.
Dalam pengalamannya, momen tersebut tidak hanya bernilai sebagai aktivitas artistik, tetapi juga mengajak publik memikirkan kebutuhan yang lebih luas. Ia menilai kerja bersama mereka menghadirkan ruang agar penonton menangkap hikmat dari kehidupan.
“Di situ banyak sekali hal-hal yang menarik untuk kita sadari sebagai bagian dari kebutuhan publik, bukan hanya sebagai seniman tetapi bagaimana seniman itu mampu mengambil hikmat-hikmat kehidupan untuk masyarakat secara luas,” katanya.
Melalui kesaksian Alvi dan Mikke, Nasirun tampak sebagai sosok yang menjaga hubungan antargenerasi di dunia seni. Di tengah berita duka ini, kenangan tentang kepedulian, kedekatan, dan keyakinan terhadap kesenian terus bertahan dalam ingatan orang-orang yang pernah berada di dekatnya.










