jurnalistik.co.id – Dalam pelaksanaan Sistem Penerimaan Murid Baru (SPMB) Tahun Ajaran 2026, Kota Malang menghadapi persoalan kekurangan peserta didik di sejumlah Sekolah Dasar Negeri (SDN). Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) mencatat sekitar 28 SDN belum memenuhi kuota.
Temuan itu mengacu pada jumlah SDN yang tersebar di Kota Malang, yakni 195 sekolah. Kepala Disdikbud Kota Malang, Suwarjana, menyebut kondisi ini terjadi pada “Ada sekitar 15 persen SDN di Kota Malang yang kekurangan murid. Total keseluruhan SDN ada 195 sekolah,” katanya pada Selasa (14/7/2026).
Suwarjana menjelaskan, sekolah-sekolah yang belum memenuhi kuota umumnya berada di wilayah pinggiran kota. Ia menuturkan area tersebut berbatasan langsung dengan Kabupaten Malang dan Kota Batu.
Menurut Suwarjana, salah satu pemicu berkurangnya calon peserta didik baru adalah turunnya jumlah anak usia sekolah dasar. Ia mengaitkannya dengan keberhasilan program Keluarga Berencana (KB) pada tahun-tahun sebelumnya, sehingga “Anak usia SD sekarang memang berkurang. Salah satu faktornya karena keberhasilan program KB . Sehingga jumlah kelahiran tidak sebanyak dulu,” jelasnya.
Di sisi lain, ia menilai pilihan masyarakat terhadap sekolah negeri masih cukup tinggi. Suwarjana juga menyebut daya tampung sekolah swasta—termasuk sekolah swasta favorit—belum mampu menyerap seluruh calon peserta didik.
Ia menegaskan keberadaan sekolah swasta tidak terlalu berdampak pada berkurangnya murid. “Kalau sekolah swasta favorit paling hanya sekitar seribuan siswa. Selebihnya masyarakat masih banyak yang memilih sekolah negeri,” ujarnya.
Distribusi sekolah yang mengalami kekurangan murid disebutnya tersebar di beberapa kelurahan. Di antaranya Kelurahan Jatimulyo, Tasikmadu, Bandulan, hingga Mulyorejo.
Berita Terkait
Meski demikian, kondisi tersebut dinilai masih relatif aman. Disdikbud menyebut pemenuhan siswa tetap bisa dilakukan melalui penyesuaian jalur penerimaan di sekolah yang membutuhkan tambahan peserta didik.
Hingga saat ini, Disdikbud Kota Malang membuka pendaftaran secara online pada sejumlah sekolah yang kekurangan murid. Suwarjana menyampaikan mekanisme pengisian kuota juga dapat dilakukan secara offline, khususnya untuk calon peserta didik dari luar Kota Malang, “Untuk pemenuhan siswa bisa dilakukan secara offline , karena beberapa siswa di luar Kota Malang bisa masuk melalui jalur offline ,” terangnya.
Lebih lanjut, Kepala Bidang Pendidikan Dasar Disdikbud Kota Malang, Muflikh Adhim, menjelaskan setiap sekolah memiliki pagu penerimaan sebanyak 28 siswa per rombongan belajar. Ia menambahkan bahwa sebagian sekolah yang belum memenuhi kuota rata-rata masih kekurangan lebih dari 10 siswa, “Pagu sekolah 28 siswa. Rata-rata sekolah yang kekurangan murid masih kurang lebih dari 10 siswa,” tutur Adhim.
Sejumlah SDN yang disebut hingga kini belum memenuhi kuota antara lain SDN Gadingkasri, SDN Kiduldalem 1, SDN Kiduldalem 2, SDN Oro-Oro Dowo, serta SDN Sukoharjo 2. Selain itu, Adhim juga menyebut SDN Blimbing 5, SDN Bunulrejo 1 dan 5, serta SDN Polowijen 1 dan 2.
Ia mengatakan masih ada beberapa SDN lain yang mengalami situasi serupa. Dengan adanya kekurangan pada sejumlah sekolah tersebut, Disdikbud berupaya memastikan proses penerimaan tetap berjalan dan kuota dapat dikejar melalui mekanisme yang tersedia.
Disdikbud Kota Malang menilai kekurangan peserta didik pada sejumlah SDN tidak lantas menghentikan pemenuhan kuota. Pengisian tetap dapat dikejar melalui penyesuaian jalur penerimaan di sekolah yang membutuhkan tambahan murid, sekaligus mengatur mekanisme pendaftaran agar calon peserta didik dapat mengikuti proses sesuai ketentuan yang tersedia.
Pada pelaksanaannya, Kepala Bidang Pendidikan Dasar Disdikbud Kota Malang, Muflikh Adhim, menegaskan bahwa tiap sekolah memiliki pagu penerimaan 28 siswa per rombongan belajar. Ia juga menyebut mayoritas SDN yang kekurangan masih berada di kisaran kurang lebih lebih dari 10 siswa. Sekolah yang masuk kategori tersebut antara lain SDN Gadingkasri, SDN Kiduldalem 1, SDN Kiduldalem 2, SDN Oro-Oro Dowo, SDN Sukoharjo 2, serta SDN Blimbing 5, SDN Bunulrejo 1 dan 5, dan SDN Polowijen 1 dan 2.












