jurnalistik.co.id – BMKG memprediksi puncak musim kemarau di sebagian besar wilayah Jawa Tengah akan terjadi pada Agustus 2026. Dalam rilis prediksinya, BMKG menyebut 83,3 persen wilayah Jateng masuk fase puncak kemarau di bulan tersebut.
Prediksi ini penting untuk menjadi perhatian warga yang akan bepergian, beraktivitas di luar ruangan, hingga yang bergantung pada kegiatan pertanian dan berkebun. Kondisi cuaca pada fase puncak umumnya memengaruhi pola aktivitas harian serta pengelolaan kebutuhan air.
BMKG juga menggambarkan bahwa puncak musim kemarau mulai meluas sejak Juli 2026. Pada bulan itu, tercatat 14,8 persen zona musim (ZOM) di Jawa Tengah telah mengalami kondisi yang mengarah ke puncak kemarau.
Selanjutnya, cakupan wilayah yang memasuki puncak kemarau bertambah pada Agustus hingga mencapai 83,3 persen ZOM. Memasuki periode akhir musim kemarau, BMKG memperkirakan prosesnya terjadi pada September 2026 dengan cakupan 1,9 persen ZOM.
Untuk wilayah yang diprediksi mengalami puncak kemarau pada Agustus 2026, BMKG menyebut sejumlah kota dan kabupaten. Daerah tersebut meliputi Kota Tegal, Kota Pekalongan, Kota Semarang, Kota Salatiga, dan Kota Magelang.
BMKG juga memaparkan kabupaten yang masuk puncak kemarau, yaitu Kabupaten Brebes, Kabupaten Tegal, Kabupaten Kendal, Kabupaten Semarang, Kabupaten Magelang, Kabupaten Temanggung, Kabupaten Wonosobo, Kabupaten Purworejo, Kabupaten Kebumen, Kabupaten Banjarnegara, Kabupaten Purbalingga, Kabupaten Banyumas, serta Kabupaten Cilacap.
Selain itu, beberapa wilayah lain diprediksi masuk puncak kemarau dengan keterangan “sebagian besar” dan “sebagian kecil”. Kabupaten Pemalang (sebagian besar), Kabupaten Pekalongan (sebagian besar), Kabupaten Batang (sebagian besar), Kabupaten Pati (sebagian besar), Kabupaten Rembang (sebagian besar), Kabupaten Grobogan (sebagian besar), Kabupaten Boyolali (sebagian besar), Kabupaten Sukoharjo (sebagian besar), dan Kabupaten Wonogiri (sebagian besar) termasuk dalam daftar tersebut.
Berita Terkait
BMKG mencantumkan pula Kabupaten Demak (sebagian wilayah), Kabupaten Sragen (sebagian wilayah), Kabupaten Karanganyar (sebagian wilayah), Kabupaten Kudus (sebagian kecil), dan Kabupaten Blora (sebagian kecil). Rincian pembagian area ini menunjukkan bahwa intensitas fase puncak kemarau tidak merata di seluruh ZOM, melainkan mengikuti cakupan yang ditetapkan dalam prediksi.
Di sisi waktu awal musim kemarau 2026, BMKG menyampaikan bahwa secara umum awal kemarau diperkirakan terjadi pada Mei 2026. Namun, ada wilayah yang sudah memasuki musim kemarau sejak April, khususnya April Dasarian I, sementara wilayah lain diperkirakan mulai mengalami awal musim kemarau pada Juni Dasarian II.
Rincian jumlah ZOM untuk awal musim kemarau adalah 11 ZOM atau 20,4 persen wilayah yang memasuki musim kemarau pada April 2026. Pada Mei 2026, BMKG memperkirakan sebanyak 36 ZOM atau 66,7 persen wilayah mulai mengalami musim kemarau, sedangkan pada Juni 2026 tercatat 7 ZOM atau 12,9 persen wilayah.
Dari sisi sifat hujan, musim kemarau 2026 di Jawa Tengah diprediksi berada pada kategori bawah normal hingga normal. Sebanyak 50 ZOM atau 92,6 persen wilayah diperkirakan mengalami sifat hujan bawah normal, sementara 4 ZOM atau 7,4 persen wilayah berada pada kategori normal.
Jika dibandingkan dengan kondisi rata-rata, BMKG menyebut awal musim kemarau 2026 di Jawa Tengah umumnya datang lebih awal hingga sama dengan kondisi normal. Sebanyak 28 ZOM atau 51,8 persen wilayah mengalami awal musim kemarau lebih maju, 1 ZOM atau 1,9 persen lebih lambat, dan 25 ZOM atau 46,3 persen sesuai rata-rata.
Untuk fase puncak, BMKG menegaskan bahwa bulan dengan kemunculan puncak kemarau paling banyak diprediksi terjadi pada Agustus. Dalam prediksi tersebut, Agustus menjadi periode dengan jumlah 45 ZOM atau 83,3 persen.
Dengan gambaran waktu dan cakupan yang dipaparkan BMKG, persiapan dapat disesuaikan sejak awal bulan. Bagi warga yang memiliki rencana perjalanan maupun aktivitas di luar ruangan pada Agustus 2026, informasi prediksi puncak kemarau ini menjadi acuan agar kegiatan tetap berjalan dengan pertimbangan kondisi cuaca yang lebih kering dan berpotensi memerlukan penyesuaian.












