jurnalistik.co.id – Hari pertama Test Wanita satu-satunya di Lord’s menghadirkan momen bersejarah sekaligus drama yang mengubah ritme pertandingan, saat Inggris bangkit setelah fase awal yang terasa berat. India menutup 74,5 overs dengan 285 semua out, sedangkan tuan rumah masih harus mengejar 264 angka ketika laga memasuki 11 overs terakhir hari itu.
Di tengah kondisi panas yang menguji daya tahan, Sophie Ecclestone tampil menjadi pusat perhatian. Ia menorehkan 3-68, membawa Inggris menekan India di fase akhir inning dan mengantar tuan rumah menutup hari dengan skor 21-1.
Mandhana menjadi penopang utama India dengan 83, sementara Harmanpreet Kaur dan Deepti Sharma sama-sama menorehkan half-century. Namun, India justru kehilangan momentum setelah jendela waktu ketika mereka seharusnya bisa memperlebar jarak, terutama saat inning memasuki bagian akhir setelah makan siang.
Ecclestone melampaui rekor pemetik gawang Inggris
Ecclestone mencatatkan capaian yang tidak hanya berdampak pada angka, tetapi juga pada sejarah statistik. Ia memecahkan rekor pemetik gawang terbanyak sepanjang masa Inggris di semua format, melewati Katherine Sciver-Brunt, dengan total 338 wickets.
Kontribusi itu datang di momen yang tepat: ketika India sudah melemah, Ecclestone mengambil tiga wicket terakhir untuk menutup perlawanan tuan rumah dari sisi pertahanan. Dari sana, Inggris mendapat bahan yang cukup untuk mengamankan sesi penutup agar tidak terjebak dalam ketertinggalan yang lebih dalam.
Inggris ditahan, lalu pulih setelah jeda
Perubahan paling terasa terjadi setelah makan siang. Mandhana sempat terlihat nyaman di awal, tetapi kemudian kecepatannya melambat, dan India mulai kehilangan ritme. Ketika strategi India terganggu, tuan rumah mampu menyusun tekanan yang membuat posisi mereka membaik dengan cepat.
Transisi itu ditandai dengan momen ketika Amy Jones melakukan tangkapan cemerlang dari belakang stumps. Ia berdiri untuk mengamankan tangkapan pada Issy Wong, yang menjadi pemicu kemerosotan India setelah sebelumnya berada di 190-3.
Tak hanya Mandhana yang berperan besar, India sempat membangun kemitraan penting sebelum perlahan runtuh. Ecclestone dan rekan-rekannya memanfaatkan ketidakteraturan yang muncul di bagian inning, ketika bola-bola yang keluar terlalu longgar memberi ruang bagi India untuk mengumpulkan angka. Namun, ketika permainan mulai bergeser, India tidak mampu mempertahankan keunggulan itu sampai akhir.
Sebelum Ecclestone menyelesaikan pekerjaan di ujung, debutan Mady Villiers lebih dulu menghentikan perlawanan Harmanpreet Kaur di angka 58. Villiers kemudian menambah peran sebagai pengubah momentum, dengan hasil akhir 2-79 di hari pertama.
Berita Terkait
Babak pembuka yang rapuh dan faktor kelelahan
Inggris datang dengan bekal yang tidak sepenuhnya ideal di awal pertandingan. Mereka baru saja melewati turnamen besar, dengan jeda yang singkat setelah T20 World Cup final di venue yang sama pada Minggu sebelumnya. Akibatnya, para bowler terlihat seperti masih beradaptasi, sehingga penampilan mereka pada pembuka terasa kurang tajam.
Di sisi lain, pemilihan Nat Sciver-Brunt untuk bowling lebih dulu juga menjadi latar penting: ia memilih untuk memulai dari sisi pertahanan setelah kondisi panas menyulitkan, dan langkah itu justru membuka peluang bagi Inggris untuk mengontrol sisa inning. Meski begitu, fase awal menunjukkan tanda-tanda ketidakrataan, dengan beberapa bowler seperti Lauren Bell, Lauren Filer, dan Issy Wong yang terlihat sering melebar di kedua sisi wicket.
Lauren Bell, yang memainkan setiap laga hingga final Piala Dunia T20, tampil dengan jejak kelelahan. Filer dan Wong yang berada di luar lapangan pada fase tertentu juga terlihat masih mencari ritme, namun kemudian proses penyelamatan momentum mulai berjalan saat Villiers dan Ecclestone mengambil porsi tanggung jawab yang lebih tegas.
Wicket-wicket kunci dan sisa 11 overs
Di tengah dinamika tersebut, Lauren Filer mencatat tonggak historis saat mengalahkan Shafali Verma untuk bebek kosong. Ia menjadi wanita pertama yang mengambil wicket dalam Test di Lord’s. Setelah itu, Lauren Bell juga menambahkan kontribusi dengan menggagalkan Yastika Bhatia lewat pengiriman yang disebut beauty.
Walau begitu, Mandhana mampu merespons cepat dan memanfaatkan ruang yang tercipta. Ia sempat membangun kemitraan dengan Jemimah Rodrigues dan kemudian dengan Harmanpreet Kaur, masing-masing menghasilkan kemitraan 64 dan 89 runs. Namun, begitu perubahan terjadi setelah makan siang, India tidak sanggup mempertahankan konstruksi angka itu hingga akhir.
Di akhir hari, Inggris harus menghadapi 11 overs terakhir. Mereka menutup permainan dengan skor 21-1, dengan Tammy Beaumont menjadi korban yang jatuh untuk dua angka. Kehadiran Beaumont menjadi sorotan karena ini adalah penampilannya yang terakhir sebagai pemain internasional.
Secara keseluruhan, situasi pertandingan masih terasa seimbang ketika hari pertama berakhir: Inggris hanya tertinggal 264 angka dari India. Meski begitu, hasil hari ini memperlihatkan bahwa Inggris tidak menyerah pada tekanan awal, dan momentum beralih saat Ecclestone serta Villiers menekan di fase paling menentukan.
Hari itu juga memiliki nuansa emosional. Banyak mantan pemain kriket putri Inggris hadir berkumpul di outfield Lord’s untuk membunyikan bel sebelum pertandingan dimulai. Kehangatan suasana itu muncul meski jadwalnya terasa unik, yakni hanya lima hari setelah Inggris kalah di final T20 World Cup oleh Australia.
Dengan dua hari berikutnya masih menyimpan tantangan serupa, lapangan pun memberi sinyal bahwa pemukul perlu waspada. Secara prakiraan, masih ada tiga hari ke depan dengan suhu tinggi, sehingga rotasi bowler dan ketepatan eksekusi akan menjadi penentu siapa yang mampu memegang kendali. Pada hari pertama ini, Inggris menunjukkan tanda kebangkitan—dan Ecclestone menjadi penanda utama perubahan itu.












