jurnalistik.co.id – Hari pembuka Tes putri di Lord’s berjalan sebagai tonggak baru, sekaligus panggung yang menghubungkan masa lalu dan masa depan kriket putri. Pada pertandingan Inggris vs India, Sophie Ecclestone menjadi sorotan utama setelah mencatat capaian yang membuatnya menempati posisi puncak di papan perolehan wicket untuk Inggris di seluruh format, sembari perayaan juga memberi ruang bagi para pelopor yang dulu merintis jalan.
Dalam lansekap hari “pertama”, angka 336 akhirnya muncul sebagai semacam penanda momen. Ecclestone butuh waktu untuk benar-benar menorehkan jejak, namun semuanya berubah ketika wicket Sayali Satghare jatuh pada over ke-73.
Peristiwa itu membawa Ecclestone melampaui Katherine Sciver-Brunt yang sebelumnya memegang angka 335. Ia pun merangsek ke posisi teratas dalam daftar perolehan wicket untuk Inggris di tiga format sekaligus, sebuah pencapaian yang langsung menempatkannya dalam sejarah baru kompetisi putri.
Selain mengunci rekor lintas format, Ecclestone juga menutup hari dengan angka bowling 3-68. Di daftar peringkat sepanjang masa di antara seluruh negara, ia menempati urutan ketiga, berada di belakang Deepti Sharma—yang turut bermain pada laga ini—dan rekan senegaranya Jhulan Goswami.
Keberhasilan Inggris tidak berhenti di catatan individu. Tim tuan rumah berhasil membatasi India hingga tersingkir seluruhnya dengan skor 285, sebelum dalam balasan Inggris kehilangan Tammy Beaumont dan menutup hari pada 21-1.
Namun, hari itu tidak hanya berbicara soal rekor. ECB memanfaatkan kesempatan pada Tes putri yang berlangsung di venue bersejarah tersebut untuk menghormati mereka yang meniti era amatir, bahkan sebelum perempuan diizinkan menjadi anggota MCC atau sekadar membayangkan bermain di lapangan kebanggaan dengan seragam putih.
Di antara wajah-wajah yang hadir, Enid Bakewell—dinobatkan pada 2014 sebagai salah satu pemain putri terhebat sepanjang masa versi Wisden—serta bowler peraih Piala Dunia Anya Shrubsole turut ikut dalam prosesi perayaan. Mereka menyampaikan momen emosional dengan membunyikan bel di area outfield sebelum pertandingan dimulai.
Alex Hartley, yang juga merupakan pemenang Piala Dunia, menggambarkan suasana sebagai sesuatu yang “wholesome”. Ia menekankan betapa bermaknanya menyaksikan pemain-pemain dari masa lalu hadir langsung, sekaligus memuji ECB yang memberi pengakuan kepada para pendahulu yang telah membuka jalan.
Dengan konteks itu, wajar jika sorotan akhirnya tertuju pada Ecclestone. Ia digambarkan sebagai sosok muda yang sejak lama menunjukkan sikap profesional dalam kariernya, dan justru karena terlalu sering terlihat “memutar” spin lengan kiri dengan ritme yang konsisten, publik kerap lupa bahwa ia baru berusia 27 tahun.
Berita Terkait
Di sisi lain, Deepti juga masih berusia 28 tahun. Keduanya terasa seperti berada dalam persaingan rapat menuju target besar: menjadi perempuan pertama yang mencatat 400 penampilan internasional di seluruh format.
Ecclestone sendiri menuturkan bahwa hari tersebut sangat istimewa. Ia menyebut sepuluh tahun terakhir terasa besar, menandai debutnya pada 2016, dan mengaku tidak pernah membayangkan bisa mengalami momen seperti ini. Ia juga menyinggung pengalaman berjalan keluar dari Long Room bersama para mantan pemain yang hadir, menyebutnya sebagai hari yang terjadi sekali seumur hidup.
Persiapan jelang Tes juga memiliki nuansa tersendiri. Pertandingan berlangsung lima hari setelah Inggris kalah dari Australia pada final Women’s T20 World Cup, sehingga rangkaian ini terasa berbeda dari pola umum yang biasanya menempatkan Tes putri dalam konteks rangkaian multi-format.
Bagi seorang seamer seperti Issy Wong, format Tes yang berdiri sendiri justru tetap membawa arti. Ia tidak ikut bermain dalam perjalanan Inggris di Piala Dunia, namun situasi itu memberinya peluang untuk mengasah kemampuan menggunakan bola merah. Wong menyebut hari tersebut terasa spesial karena adanya para mantan pemain, dan ia mengaku sempat sangat emosional saat lagu kebangsaan berkumandang.
Wong juga bercerita bahwa latihan bola merahnya sempat terbatas, hanya empat bola yang ia bawa di tas pelatih. Meski demikian, ia menggambarkan momen membungkuk dan melakukan bowling dengan bola merah sebagai sesuatu yang menyenangkan, sekaligus menandai kembalinya ritme yang lama ia rindukan.
Dalam jalannya hari, Wong sempat memulai dengan kurang tajam. Ia harus melewati over pembuka yang terasa “karat” setelah lebih dari sebulan menjadi pembawa minuman selama masa tertentu. Namun, ia kemudian bangkit dan mengambil dua wicket besar: Jemimah Rodrigues serta Smriti Mandhana, tepat ketika keduanya mengancam mengubah arah permainan.
Perkembangan itu sejalan dengan pola Inggris pada sesi pagi. Meski hanya menemukan garis dan panjang yang baik pada 18% dari total lemparan dalam 80 menit awal—angka yang dicatat sebagai rekor terendah untuk Tes putri—Inggris tetap mampu menambah tiga wicket di periode tersebut dan memperbaiki kualitas sepanjang hari.
Bagi Wong, kebanggaan tidak hanya berada pada angka-angka. Ia juga dipandang sebagai figur yang sempat menjadi “poster girl” kriket putri Inggris sejak meledak pada 2022, sebelum mengalami jeda singkat dalam kariernya dan kini kembali merasakan momentum. Karena Tes putri jarang digelar, bahkan cap Tes tidak ada di perlengkapan Wong, sehingga ayahnya harus menyerahkan cap tersebut tepat pada momen terakhir.
Di balik semua rekor dan hasil, yang paling tampak adalah gairah para pemain untuk format terpanjang. Keinginan untuk memainkan lebih banyak pertandingan Tes, menurut narasi hari itu, menjadi hadiah terbesar bagi para pendahulu yang menyaksikan dari tribun, menegaskan bahwa jalan yang mereka buka kini benar-benar dibawa ke panggung yang lebih besar.












