Bisnis & Ekonomi

Survei: 4 dari 10 Baby Boomer Kaya di Asia Tak Punya Rencana Suksesi

0
×

Survei: 4 dari 10 Baby Boomer Kaya di Asia Tak Punya Rencana Suksesi

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: Survei: 4 dari 10 Baby Boomer Kaya Asia Tak Punya Rencana Suksesi - Gaya Hidup

jurnalistik.co.id – Generasi baby boomer kaya di Asia ternyata masih tertinggal dalam urusan suksesi kekayaan. Meski banyak di antara mereka ingin menjaga harta tetap bertahan lintas generasi, survei terbaru menunjukkan pembahasan soal pengalihan kekayaan kepada keluarga belum menjadi kebiasaan yang mapan, apalagi dibarengi struktur tata kelola formal yang jelas.

Temuan itu datang dari survei sebuah bank swasta berbasis di Jenewa, Banque Lombard Odier & Cie SA. Dalam studi tersebut, hanya 26,9% individu kaya yang disurvei di seluruh Asia-Pasifik mengatakan mereka sudah memiliki rencana suksesi lengkap. Di sisi lain, 39,4% mengaku sama sekali belum memiliki perencanaan suksesi.

Baby boomer sendiri adalah kelompok individu yang lahir pada periode 1946 sampai 1964. Dalam konteks survei ini, kelompok tersebut digambarkan sebagai generasi yang masih memegang kendali besar atas keputusan investasi. Namun, kendali yang kuat itu ternyata tidak selalu diikuti kesiapan untuk menyerahkan peran tersebut secara bertahap kepada generasi berikutnya.

Belum jadi prioritas utama

Survei tersebut memperlihatkan adanya jarak antara keinginan dan tindakan. Banyak responden memang ingin mempertahankan kekayaan lintas generasi, tetapi belum semua membicarakan pengalihan kesejahteraan dengan anggota keluarga. Belum semua pula membangun struktur tata kelola formal yang bisa menjadi dasar bagi proses suksesi yang lebih tertata.

Kondisi ini membuat perencanaan suksesi tampak belum mendapat perhatian yang seharusnya, terutama di kalangan keluarga kaya di Asia. Padahal, untuk kekayaan yang ingin dijaga tetap utuh dari satu generasi ke generasi berikutnya, pembahasan sejak dini biasanya menjadi langkah penting. Namun, hasil survei menunjukkan langkah itu belum dijalankan secara merata.

Laporan tersebut juga menyebut bahwa temuan ini mencerminkan sesuatu yang disebut sebagai “tingkat kepuasan diri” dalam perencanaan suksesi. Istilah itu menggambarkan keadaan ketika seseorang merasa cukup dengan kondisi yang ada, meski rencana formal untuk melanjutkan pengelolaan kekayaan masih belum disiapkan secara lengkap.

Dengan kata lain, kendali atas investasi masih berada di tangan generasi yang lebih tua, sementara pembicaraan mengenai penerus, pembagian peran, dan tata kelola keluarga belum sepenuhnya bergerak ke tahap yang lebih konkret. Dalam laporan itu, situasi tersebut menjadi tanda bahwa kesiapan untuk suksesi belum sejalan dengan besarnya keinginan menjaga kekayaan tetap ada di keluarga.

Gambaran dari Asia-Pasifik

Survei Banque Lombard Odier & Cie SA ini memberikan gambaran yang cukup jelas tentang bagaimana sebagian keluarga kaya di Asia-Pasifik masih berada di fase menunda. Hasil 26,9% yang sudah punya rencana suksesi lengkap menunjukkan jumlah yang belum dominan. Sementara itu, porsi 39,4% yang belum memiliki perencanaan sama sekali menunjukkan bahwa persoalan ini masih jauh dari selesai.

Di tengah kondisi tersebut, generasi baby boomer tetap menjadi pemegang pengaruh utama dalam keputusan investasi. Tetapi tanpa pembahasan yang lebih terbuka dengan keluarga dan tanpa struktur tata kelola formal, proses pelimpahan aset berisiko berlangsung tanpa arah yang terencana. Itulah sebabnya survei ini menyoroti kesenjangan antara keinginan menjaga warisan dan kesiapan menata warisan itu sendiri.

Temuan ini pada akhirnya menegaskan bahwa suksesi kekayaan bukan hanya soal niat, melainkan juga soal kesiapan berbagi keputusan, menyusun aturan, dan menyiapkan penerus. Dalam kasus baby boomer kaya di Asia, survei tersebut menunjukkan banyak yang masih belum sampai pada tahap itu, meskipun mereka menyadari pentingnya menjaga kekayaan lintas generasi.

Dalam situasi seperti itu, masalah utamanya bukan semata-mata kurangnya niat untuk menyiapkan warisan, melainkan belum adanya kebiasaan untuk menjadikannya agenda keluarga yang dibahas secara terbuka dan terstruktur. Selama pembicaraan masih tertahan di level wacana, suksesi kekayaan akan tetap bergantung pada keputusan individu, bukan pada sistem yang bisa berjalan lebih rapi saat peralihan generasi tiba.

Karena itu, hasil survei ini menempatkan keluarga kaya di Asia-Pasifik pada persimpangan yang cukup jelas: mempertahankan kontrol investasi memang penting, tetapi menunda persiapan suksesi justru membuat proses pewarisan menjadi lebih rentan tidak terarah. Tanpa rencana yang lengkap dan tata kelola yang formal, keinginan menjaga kekayaan lintas generasi berisiko berhenti sebagai harapan, bukan menjadi praktik yang benar-benar siap dijalankan.