jurnalistik.co.id – Nilai tukar rupiah kembali mengalami tekanan pada awal pekan, seiring penguatan dolar Amerika Serikat yang ikut membayangi perdagangan pasar modal domestik.
Pada perdagangan Senin (13/7/2026), rupiah di pasar spot dibuka lebih rendah. Mata uang Garuda terdepresiasi 59 poin atau 0,33 persen ke level Rp18.124 per dollar AS.
Pergerakan tersebut kontras dengan penutupan perdagangan Jumat (10/7/2026) yang masih menunjukkan penguatan. Saat itu rupiah naik 63 poin atau 0,35 persen menjadi Rp18.065 per dollar AS.
Tekanan pada rupiah pagi ini terjadi ketika indeks dolar AS (DXY) menguat. DXY, yang mengukur kekuatan greenback terhadap enam mata uang utama dunia, pada pukul 09.00 WIB terpantau naik 0,22 persen menjadi 101,178.
Dampak ke IHSG dipandang berawal dari kenaikan persepsi risiko
Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas, Nafan Aji Gusta, menilai pelemahan rupiah hingga menembus area Rp18.000 per dollar AS menjadi sinyal yang cenderung negatif bagi Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG), terutama dalam jangka pendek.
Menurut Nafan, depresiasi rupiah dapat mendorong peningkatan persepsi risiko (risk premium) terhadap aset Indonesia. Kondisi itu berpotensi membuat investor asing menyesuaikan eksposurnya pada pasar saham domestik.
“Pelemahan rupiah hingga menembus Rp 18.000 per dollar AS merupakan sentimen negatif bagi IHSG, terutama dalam jangka pendek. Depresiasi tersebut meningkatkan persepsi risiko ( risk premium ) aset Indonesia, sehingga dapat mendorong investor asing mengurangi eksposur terhadap pasar saham domestik,” ujar Nafan saat dihubungi Kompas.com, Minggu malam (12/7/2026).
Dalam skenario tersebut, fokus investor biasanya bergeser dari faktor fundamental internal ke sensitivitas terhadap kondisi eksternal. Karena itu, pergerakan nilai tukar kerap ikut menentukan arah sentimen di lantai bursa pada periode awal.
Berita Terkait
Prospek jangka menengah bergantung pada penyebab utama pelemahan
Nafan menambahkan bahwa dampak pelemahan rupiah pada IHSG tidak selalu bersifat seragam dari waktu ke waktu. Pada horizon yang lebih panjang, arah indeks dinilai akan sangat bergantung pada penyebab utama pelemahan yang sedang terjadi.
Apabila pelemahan rupiah lebih dominan bersifat sementara, dipicu oleh sentimen global, IHSG masih memiliki peluang untuk pulih. Namun, jika pelemahan mencerminkan memburuknya fundamental eksternal, tekanannya bisa bertahan lebih lama.
Ia juga menyinggung pengaruh arus modal. Apabila pelemahan diiringi arus modal keluar yang berkepanjangan, tekanan terhadap IHSG diperkirakan tidak cepat mereda.
Dalam konteks itu, risiko nilai tukar (currency risk) disebut ikut meningkat. Risiko yang membesar dapat mendorong investor asing mengurangi kepemilikan pada aset negara berkembang, termasuk Indonesia.
Selain berdampak pada pasar saham, perpindahan posisi dana juga dapat mengarah pada instrumen yang dianggap lebih aman. Secara umum, dana asing—khususnya yang bersifat jangka pendek (hot money) di pasar saham dan Surat Berharga Negara (SBN)—berpeluang berpindah ke instrumen safe haven.
Instrumen yang dimaksud antara lain obligasi pemerintah Amerika Serikat (US Treasury) maupun aset yang berdenominasi dollar AS. Perpindahan tersebut dapat menambah tekanan pada pasar keuangan domestik, baik lewat pelemahan nilai tukar rupiah maupun meningkatnya tekanan jual di pasar saham dan obligasi.
“Jika level Rp 18.000 ditembus tanpa adanya intervensi agresif dari Bank Indonesia atau perbaikan dari sisi neraca pembayaran, dana asing (terutama hot money di pasar reguler saham dan SBN) akan terus keluar mencari perlindungan di aset safe haven seperti US Treasury atau mata uang dollar AS,” paparnya.
Dengan demikian, kunci yang perlu dicermati bukan hanya besarnya pelemahan rupiah, tetapi juga respons kebijakan serta perbaikan indikator eksternal yang dapat menopang kondisi neraca pembayaran. Jika faktor penahan tidak hadir, pelemahan berpotensi berlanjut dan ikut memengaruhi arah sentimen di IHSG.












