Teknologi

Tak Diunggulkan Lebih Dulu, Tim Robotik Unej Singkirkan Unair dan Raih Peringkat 3

×

Tak Diunggulkan Lebih Dulu, Tim Robotik Unej Singkirkan Unair dan Raih Peringkat 3

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: Tak Diunggulkan Sejak Awal, Tim Robotik Unej Justru Kalahkan Unair, Sabet Peringkat 3

jurnalistik.co.id – Robot Lahbako-San dari Universitas Jember (Unej) mengukir prestasi pada Kontes Robot ABU Indonesia (KRAI) 2026 dengan meraih peringkat tiga. Keberhasilan itu sekaligus menjadi penanda bahwa tim Unej mampu bersaing ketat di level nasional.

Dalam ajang yang diikuti 28 tim terbaik dari berbagai perguruan tinggi di Indonesia, Lahbako-San dibangun dengan pendekatan kolaborasi robot manual dan robot otonom untuk menyelesaikan misi berjudul “Kungfu Quest”. Pola kerja semacam ini membantu tim menjaga stabilitas performa dari babak awal hingga masuk empat besar.

Pada laga penentuan posisi ketiga yang berlangsung di Auditorium Universitas Jember pada Minggu (12/7/2026), Lahbako-San akhirnya mengunci kemenangan atas Brido WCT milik Universitas Airlangga (Unair), Surabaya. Tim Unej menang dengan skor 100-50, memastikan satu tempat di podium nasional.

Capaiannya terasa spesial bagi Unej karena kompetisi final KRAI digelar di kampusnya untuk pertama kalinya. Namun, perjalanan ke podium tidak datang sebagai hasil “bagus dari awal”, melainkan melalui rangkaian pertandingan yang menuntut ketepatan strategi di setiap fase.

Sebelum sampai ke perebutan peringkat tiga, tim Lahbako-San menunjukkan konsistensi ketika menghadapi turnamen gugur. Di babak gugur, Unej memulai dengan kemenangan telak 130-0 atas Universitas Pendidikan Indonesia (UPI).

Langkah itu berlanjut pada perempat final. Pada fase tersebut, Lahbako-San mengalahkan Universitas Jenderal Soedirman dengan skor 130-10. Hasilnya menegaskan bahwa sistem kontrol dan eksekusi misi yang dibawa tim Unej tetap berjalan efektif meski lawan mulai meningkat kualitasnya.

Meski tampil meyakinkan, laju Unej terhenti di semifinal saat menghadapi ITS Surabaya. Dalam pertandingan yang berlangsung ketat, Lahbako-San harus mengakui keunggulan robot Richie dengan skor 70-130.

Semifinal tersebut juga memunculkan momen yang jarang terjadi sepanjang kompetisi. Ketika memperebutkan area peletakan balok, robot Lahbako-San sempat beradu posisi dengan robot Richie hingga terjadi insiden saling dorong. Catatan dalam laporan pertandingan menyebut peristiwa itu menjadi satu-satunya momen saling dorong antarrobo yang muncul selama kompetisi.

Setelah gagal melaju ke partai puncak, tim Unej tidak terjebak pada kekecewaan. Mereka merespons dengan menyusun ulang fokus menghadapi laga perebutan tempat ketiga. Pada akhirnya, Lahbako-San mampu tampil lebih efektif untuk menjatuhkan Brido WCT milik Unair dan mempertahankan target masuk tiga besar.

Pencapaian tersebut melampaui ekspektasi awal tim sejak kompetisi dimulai. Wakil Rektor III Unej, Fendi Setyawan, menyampaikan rasa bangganya atas perjuangan mahasiswa Fakultas Teknik Unej yang menjalani setiap tahapan dengan tekad kuat.

Fendi menyatakan, “Saya bangga dengan perjuangan anak-anak Fakultas Teknik Unej. Awalnya tidak ada yang menduga kami akan melaju sejauh ini. Walaupun belum menjadi juara pertama, target masuk semifinal sudah tercapai. Semoga di ajang selanjutnya akan lebih sukses.”

Keberhasilan Lahbako-San menembus tiga besar dinilai sebagai hasil dari proses pengembangan yang berlangsung hampir satu tahun. Dengan struktur kolaborasi robot manual dan otonom, serta kemampuan beradaptasi terhadap strategi lawan dari babak penyisihan hingga gugur, Unej menegaskan kapasitas timnya di kancah nasional.

Rangkaian laga di KRAI 2026 memperlihatkan bagaimana tim Lahbako-San harus menjaga ritme permainan ketika menghadapi level lawan yang terus naik. Dari kemenangan telak pada fase gugur, performa tetap diuji saat masuk perempat dan semifinal, sebelum akhirnya dituntut tampil presisi pada pertandingan perebutan posisi ketiga.

Catatan insiden saat perebutan area peletakan balok juga menjadi bagian penting dari dinamika kompetisi. Ketika robot sempat beradu posisi dengan Richie, tim Unej pada akhirnya memperoleh gambaran nyata tentang situasi di lapangan dan kebutuhan pengaturan strategi agar eksekusi misi tidak terganggu pada fase-fase krusial.

Setelah hasil semifinal yang tidak sesuai harapan, Lahbako-San memilih mengubah fokus menjadi lebih terarah untuk laga melawan Brido WCT dari Unair. Keputusan itu sejalan dengan proses pengembangan yang berjalan hampir satu tahun, sehingga kombinasi pendekatan manual dan otonom dapat diterapkan lebih matang saat menghadapi penentu podium di kampusnya sendiri.