jurnalistik.co.id – Reca, putri dari komedian Simson Rarameha Ngadang atau Temon, menuturkan kenangan tentang sang ayah yang kerap mengisi keseharian keluarga dengan tingkah usil, namun tetap terasa dekat dan hangat.
Ia menyampaikan hal itu saat ditemui di Taman Pemakaman Umum (TPU) Tanah Kusir, Jakarta Selatan, Senin (13/7/2026). Dalam suasana duka, Reca menggambarkan Temon sebagai sosok yang gemar mengobrol dan tak sungkan “mengganggu” waktu istirahat anak-anaknya.
Menurut Reca, kebiasaan Temon sering muncul ketika anak-anak sedang tidur. Ia mengatakan sang ayah akan membangunkan mereka lalu menyusun alasan yang terdengar seolah penting, padahal tujuan utamanya adalah tetap mengajak berbincang bersama.
Kebiasaan mengajak ngobrol meski anak masih tidur
Reca menceritakan, “Ya paling kalau kita lagi tidur aja sih, dibangunin, bilangnya ini bilangnya itu padahal mah enggak, cuma minta ditemenin aja, kan dia pengennya tuh diajak ngobrol,” kata Reca. Dari penuturan itu, terlihat bahwa usilan Temon tidak diarahkan untuk menjauhkan, melainkan untuk melibatkan anak-anaknya dalam obrolan.
Reca juga menyebut sifat jahil tersebut hampir setiap hari terjadi. Ia menuturkan, “Biasanya emang setiap hari nyamperin aku, biasanya ngisengin aja sih, emang suka jail aja Papa tuh,” ujarnya.
Ia menggambarkan bagaimana Temon biasanya datang dengan cara yang membuat anak-anak terpaksa menanggapi, meski pada awalnya mereka mungkin belum benar-benar siap berinteraksi. Namun, dalam cara yang khas, Temon menghadirkan suasana obrolan sebagai bentuk perhatian.
Usil saat anak istirahat, lalu kembali tidur
Hal serupa disampaikan Rico, putra Temon. Ia mengatakan Temon sering mengganggu anak-anak ketika mereka hendak beristirahat agar suasana rumah tetap ditemani bincang-bincang.
Berita Terkait
Rico menuturkan, “Emang suka usil sih. Kadang kalau nih kita kayak dia lagi istirahat, yaudah kita diemin istirahat. Giliran kalau kita lagi istirahat diusilin sama dia, digangguin, disuruh bangun, diajak ngobrol,” tutur Rico. Ia menegaskan bahwa ritme usil dan “saling ganggu” itu menjadi bagian yang akrab dalam keseharian.
Setelah usilan terjadi dan obrolan berlangsung, Rico merinci bahwa Temon tidak lantas menahan anak-anak untuk terus terjaga. Ia bercerita, “Udah habis itu ditinggal aja sama dia tidur. Tapi kita cuman nemenin dia doang,” katanya.
Dengan demikian, usil yang dimaksud Rico tidak berujung pada pertentangan berkepanjangan. Justru, momen singkat untuk berbincang dan menemani diposisikan sebagai cara Temon menjaga kedekatan dengan keluarganya.
Jarang marah, kemarahan pun tak bertahan lama
Walau dikenal usil, anak-anak menilai Temon jarang menunjukkan kemarahan. Rico menekankan bahwa intensitas marah bukan hal yang menetap dalam hubungan mereka sebagai ayah dan anak.
Rico mengatakan, sang ayah bahkan tidak pernah marah dalam waktu yang lama, dan ia menambahkan, “Sehari doang juga kalau marah, enggak pernah lama,” ujarnya. Bagi Rico, gambaran tersebut melengkapi sosok Temon yang tetap berada dalam karakter bersahabat, meski sesekali mengusili.
Di balik cerita tentang kebiasaan dan gaya “menyapa” anak-anak, keluarga juga menghadapi kenyataan bahwa Temon telah berpulang. Sebelumnya, komedian sekaligus aktor Simson Rarameha Ngadang meninggal dunia pada Minggu (12/7/2026) pagi, pada usia 59 tahun.
Temon dikenal luas lewat sinetron komedi “Abdel dan Temon”. Kepergiannya meninggalkan kesedihan mendalam, tidak hanya bagi keluarga, tetapi juga sahabat dan rekan-rekannya di dunia hiburan.
Menurut kabar yang beredar, kabar berpulangnya Temon terasa mendadak. Almarhum disebut tidak pernah menunjukkan tanda-tanda sakit parah, sehingga suasana duka datang secara tiba-tiba bagi banyak orang yang mengenal kariernya maupun kehidupan pribadinya.
Dalam masa berkabung, ingatan tentang Temon tetap hidup lewat cerita sederhana yang diulang oleh anak-anaknya: dibangunkan saat tidur untuk diajak ngobrol, diusili ketika anak sedang istirahat, lalu ditemani dalam waktu yang tidak lama. Dari detail-detail kecil itulah sosok sang ayah dipahami—sekaligus menjadi penguat bahwa kedekatan, candaan, dan komunikasi justru menjadi bagian penting dari cara Temon menyayangi keluarga.











