jurnalistik.co.id – Jepang mencatat capaian baru dalam pengembangan teknologi roket yang bisa digunakan kembali setelah roket eksperimental mereka menyelesaikan uji penerbangan perdananya dengan lepas landas dan pendaratan yang berjalan mulus. Prototipe tersebut dilaporkan berhasil menjalani serangkaian manuver sebelum kembali mendarat dengan selamat pada Sabtu (11/7/2026).
Keberhasilan uji coba ini dipandang sebagai langkah penting untuk mengejar ketertinggalan pada aspek teknologi kunci yang dinilai mampu menekan biaya peluncuran secara drastis. Dengan target tersebut, Jepang berupaya meningkatkan posisi industrinya di pasar kedirgantaraan global yang beberapa tahun terakhir sangat dominan oleh SpaceX milik Elon Musk.
Uji terbang pertama RV-X di Noshiro
Dalam rangkaian pengujian yang berlangsung kurang dari satu menit, roket prototipe bernama RV-X melakukan lepas landas secara vertikal. Setelah tahap awal itu, roket melayang di udara dan kemudian melakukan manuver pergerakan horizontal sebelum akhirnya kembali mendarat.
Seluruh tahap uji terbang dijalankan di Pusat Pengujian Noshiro milik JAXA, Badan Eksplorasi Ruang Angkasa Jepang. Penerbangan perdana ini menjadi tolok ukur awal sekaligus bukti bahwa konsep roket yang dapat dipakai kembali dapat diuji dalam konfigurasi yang dirancang untuk kembali ke permukaan.
Capaian tersebut juga disebut sebagai lompatan besar bagi Jepang dalam menguasai teknologi mutakhir yang dibutuhkan untuk mengembangkan generasi penerus roket andalan mereka saat ini. Saat ini, roket utama Jepang masih mengandalkan seri H3 yang masih bersifat sekali pakai.
Saingan biaya: dari H3 dan target efisiensi
Jepang menyatakan bahwa kemampuan transportasi yang stabil serta daya saing komersial menjadi poin penting bagi program luar angkasa sekaligus keamanan nasional negara tersebut. Karena itu, proyek roket yang dapat digunakan kembali diarahkan untuk memangkas pengeluaran peluncuran, bukan sekadar menambah kemampuan teknis.
Dalam konteks itu, RV-X dirancang untuk mendukung kebutuhan pengembangan roket masa depan yang lebih ekonomis. Jepang menilai bahwa untuk bersaing di pasar global, diperlukan pengurangan biaya lanjutan meski roket mereka saat ini sudah mengusung efisiensi.
Berita Terkait
Roket H3 disebut dirancang lebih hemat biaya dibanding pendahulunya, seri H-2A, yang dilaporkan memiliki rekor keberhasilan hampir sempurna. Namun, tantangan yang dihadapi Jepang adalah menurunkan biaya lebih jauh agar bisa bersaing lebih kuat dalam lanskap komersial penerbangan luar angkasa yang kian ketat.
Kolaborasi pengembangan dan detail teknis RV-X
RV-X dikembangkan bersama JAXA dan Mitsubishi Heavy Industries. Roket ini berdiameter 1,8 meter dan memiliki panjang 7,3 meter, serta dilengkapi mesin dengan daya tahan yang lebih baik dibanding desain sebelumnya menurut keterangan yang disampaikan.
Roket ini juga dipersiapkan dengan empat roda pendaratan yang berfungsi meredam kejut saat proses kembali ke permukaan. Perangkat tersebut menjadi bagian dari strategi keselamatan pendaratan, khususnya dalam tahapan uji yang menekankan kemampuan kembali dengan mulus.
JAXA juga disebut mengembangkan teknologi roket yang dapat digunakan kembali bersama Perancis dan Jerman. Dengan kerja sama itu, Jepang berupaya menyusun landasan teknis yang lebih matang sebelum penerapan skala yang lebih besar pada program penerbangan berikutnya.
Untuk rencana pengujian ke depan, JAXA menyebut RV-X akan diarahkan untuk dikirim ke ketinggian sekitar 100 meter dalam penerbangan uji coba berikutnya. Langkah tersebut diharapkan menjadi tahapan lanjutan untuk memperluas rentang pengujian setelah percobaan pertama yang menitikberatkan pada validasi prosedur dasar lepas landas, manuver, dan pendaratan.
Berlangsung berdekatan dengan klaim Jepang dan China
Upaya Jepang ini dilaporkan terjadi hanya selang satu hari setelah media pemerintah China merilis laporan serupa mengenai keberhasilan uji coba roket mereka. Beijing dalam laporan tersebut mengklaim keberhasilan melakukan pendaratan kembali tahap pertama roket sesaat setelah lepas landas untuk pertama kalinya.
Dengan kemunculan dua kabar uji coba yang berdekatan, fokus industri antariksa global terus bergerak ke kemampuan pemulihan kembali bagian roket sebagai cara menekan biaya. Bagi Jepang, keberhasilan uji RV-X menjadi sinyal bahwa rencana penggunaan kembali roket dapat diwujudkan lewat tahapan pengujian yang terukur.
Secara keseluruhan, uji perdananya RV-X menempatkan Jepang pada jalur yang lebih cepat menuju teknologi yang diperlukan untuk memutakhirkan roket mereka. Bila tahapan uji berikutnya berjalan sesuai harapan, Jepang memiliki peluang untuk memperkuat posisi kompetitifnya sekaligus membuka jalan bagi sistem peluncuran yang lebih ekonomis di masa mendatang.












