Teknologi

AI Generatif Memicu Lonjakan Ancaman Siber Berbasis Blockchain – Teknologi

×

AI Generatif Memicu Lonjakan Ancaman Siber Berbasis Blockchain – Teknologi

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: Bukti Baru Kemajuan AI Generatif Dorong Ledakan Ancaman Siber - Teknologi

jurnalistik.co.id – Kecerdasan buatan berbasis open source kini disebut mempermudah peretas untuk menyisipkan kode berbahaya ke jaringan berbasis blockchain. Kondisi ini membuka ancaman baru bagi industri kripto yang sebelumnya sudah menghadapi lonjakan kejahatan siber.

Menurut laporan perusahaan analisis blockchain Chainalysis yang diterbitkan Kamis, kasus instruksi malware yang dimasukkan ke transaksi on-chain dan smart contract meningkat 440% dalam waktu kurang dari setahun. Dalam laporan tersebut, rata-rata tercatat 11 kasus per hari.

Chainalysis juga menuliskan bahwa sebelum munculnya open source AI asal China yang sangat kuat pada pertengahan tahun lalu, kejadian serupa terjadi sekitar dua kali sehari. Perbedaan frekuensi ini diletakkan dalam konteks perubahan kemampuan yang tersedia dari perangkat lunak open source.

Serangan malware sendiri bekerja dengan memanfaatkan perangkat berbahaya yang ditanamkan pada komputer atau jaringan. Tujuannya beragam, mulai dari pencurian informasi, kata sandi, hingga pengambilan dana.

Dalam kasus yang didokumentasikan oleh Chainalysis, pelaku memanfaatkan blockchain sebagai media untuk menyimpan instruksi bagi perangkat lunak berbahaya. Instruksi itu dapat memuat detail seperti lokasi server yang mengendalikan malware tersebut.

Teknik pengiriman instruksi melalui blockchain ini dikenal sebagai ā€œblockchain dead dropā€. Dalam laporan tersebut, istilah itu dipakai untuk menggambarkan cara pelaku menempatkan perintah agar kode berbahaya dapat menjalankan langkah selanjutnya.

Dengan pola tersebut, proses serangan menjadi lebih sulit dihentikan karena informasi yang tercatat di blockchain tidak dapat dihapus dengan mudah. Chainalysis menekankan aspek permanensi pencatatan sebagai salah satu faktor yang membuat penanganan menjadi tidak sederhana.

Peningkatan 440% yang tercatat mencerminkan adanya percepatan pada pola penggunaan transaksi dan smart contract sebagai bagian dari rantai serangan. Serangan yang lebih sering ini kemudian mendorong kekhawatiran di ekosistem kripto, terutama pada sisi keamanan sistem berbasis on-chain.

Chainalysis mengaitkan dinamika tersebut dengan ketersediaan open source AI sumber terbuka yang disebut tidak dibatasi dalam menghasilkan kode berbahaya. Dalam narasi laporan, karakter ā€œtanpa batasanā€ dari kemampuan tersebut diposisikan sebagai pemicu yang membuat perancangan dan penyusunan kode berbahaya menjadi lebih mudah.

Di tengah situasi tersebut, blockchain yang semula dipandang sebagai infrastruktur transaksi justru dijadikan tempat ā€œmeninggalkanā€ instruksi. Pelaku bisa memanfaatkan catatan on-chain sebagai referensi operasional, sementara perangkat berbahaya tetap membutuhkan instruksi untuk bergerak.

Rata-rata 11 kasus per hari yang disebut dalam laporan menunjukkan bahwa peristiwa berpotensi berulang dengan pola serupa, bukan kejadian yang terisolasi. Sebelumnya, frekuensi yang kira-kira dua kali sehari menjadi pembanding yang ditekankan dalam laporan yang sama.

Chainalysis juga menempatkan malware yang ditanam pada komputer atau jaringan sebagai komponen inti serangan, di mana informasi, kata sandi, serta dana menjadi sasaran. Dengan demikian, peningkatan kejadian on-chain tidak berdiri sendiri, melainkan terkait dengan tujuan akhir yang ingin dicapai oleh pelaku.

ā€œBlockchain dead dropā€ kemudian berperan sebagai jembatan antara instruksi yang tertulis di blockchain dan eksekusi yang dijalankan oleh malware. Karena instruksi dapat mencantumkan lokasi server pengendali, serangan memperoleh elemen pengaturan yang bisa tetap relevan meski aktivitas di jaringan berlangsung.

Bagi penanganan insiden, sifat catatan blockchain yang sulit dihapus ikut menambah tantangan. Ketika data instruksi sudah terlanjur tercatat, upaya pembersihan tidak bekerja seperti pada sistem yang memungkinkan penghapusan cepat pada tingkat log atau catatan.

Dalam gambaran laporan Chainalysis, kombinasi kemampuan dari open source AI dan teknik penempatan instruksi melalui blockchain menciptakan pola ancaman yang lebih berulang. Dari sisi metrik, laporan menyoroti kenaikan 440% dalam kurang dari setahun serta perubahan frekuensi dari sekitar dua kali sehari menjadi 11 kasus per hari.

Secara keseluruhan, temuan Chainalysis menempatkan blockchain sebagai elemen yang tidak hanya menjadi tempat transaksi, tetapi juga berfungsi sebagai media instruksi bagi malware. Sifat permanen pencatatan on-chain yang sulit dihapus kemudian menjadi titik penting yang membuat tindakan penghentian menjadi lebih kompleks.