Teknologi

Desain dengan Canva AI: Siapa Pemilik Hak Cipta Konten?

×

Desain dengan Canva AI: Siapa Pemilik Hak Cipta Konten?

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: Mendesain dengan Bantuan Canva AI, Siapa Pemilik Hak Ciptanya? - Teknologi

jurnalistik.co.id – Perkembangan kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) menghadirkan pertanyaan lanjutan soal hak cipta, terutama ketika gambar, video, dan berbagai konten bisa dibuat hanya melalui perintah atau prompt.

Co-founder dan Chief Product Officer Canva, Cameron Adams, membahas bagaimana perubahan ini memengaruhi cara orang berkreasi sekaligus bagaimana platform desain itu memposisikan proses kreatif.

Dalam wawancara dengan Bloomberg Technoz, Adams menekankan bahwa Canva memilih pendekatan yang menempatkan manusia sebagai unsur utama dalam proses kreatif.

Manusia sebagai pusat kreasi berbasis AI

Menurut Adams, AI seharusnya tidak menggantikan kreativitas manusia, tetapi justru memperkuatnya. Ia menyatakan, “AI seharusnya meningkatkan kreativitas manusia, dengan manusia tetap berada di pusat proses kreatif dan membawa ide, penilaian, dan arahan kreatif mereka sendiri ke dalam apa yang mereka hasilkan,” kata Adams kepada Bloomberg Technoz, Jumat (4/9/2026).

Dengan posisi tersebut, Adams menggambarkan bahwa keputusan kreatif—mulai dari arahan hingga penilaian—tetap berada pada kreator yang menggunakan platform.

Ia juga mengaitkan perubahan tersebut dengan lahirnya pertanyaan yang lebih luas mengenai siapa pemilik hak cipta saat proses pembuatan konten melibatkan AI.

Canva Shield untuk kepercayaan, keamanan, dan privasi

Adams menambahkan bahwa Canva memperkenalkan Canva Shield, sebuah rangkaian perlindungan yang ditujukan untuk kepercayaan, keamanan, dan privasi dalam kreasi berbasis AI.

Ia tidak merinci poin teknis satu per satu dalam cuplikan wawancara tersebut, namun menegaskan bahwa fitur ini dirancang sebagai dukungan kebijakan dan perlindungan di ekosistem Canva.

Ganti rugi untuk pelanggan bisnis yang memenuhi syarat

Selain langkah perlindungan tersebut, Canva juga memberikan ganti rugi tambahan bagi pelanggan bisnis yang memenuhi syarat yang menggunakan konten yang dihasilkan AI.

Pendekatan ini, sebagaimana disampaikan Adams, merupakan bagian dari upaya platform untuk menjawab kekhawatiran yang muncul seiring makin meluasnya penggunaan AI dalam proses desain.

Perbincangan mengenai hak cipta makin relevan karena kemampuan AI dalam merakit konten berbasis prompt mempercepat proses produksi. Dalam konteks itu, pertanyaan “siapa pemilik hak cipta” menjadi salah satu isu yang ikut mengemuka ketika hasil kreatif berasal dari kolaborasi manusia dan sistem AI.

Adams memandang bahwa arah pengembangan Canva perlu selaras dengan gagasan bahwa manusia tetap memegang kendali kreatif. Ia merangkai pandangannya melalui dua elemen yang disebutkan dalam wawancara: penempatan manusia di pusat proses kreatif serta penerapan Canva Shield berikut dukungan berupa ganti rugi bagi pelanggan bisnis yang memenuhi syarat.

Dengan latar tersebut, penjelasan Cameron Adams pada Jumat (4/9/2026) di Jakarta menjadi sorotan mengenai bagaimana perusahaan platform desain merespons pergeseran praktik kreatif akibat AI. Bagi pengguna yang membuat gambar, video, dan berbagai konten lewat perintah atau prompt, isu hak cipta tidak berhenti pada teknik pembuatan, tetapi juga menyangkut kerangka perlindungan yang menyertai prosesnya.

Adams menggambarkan bahwa penggunaan AI dalam desain seharusnya dilihat sebagai alat bantu yang mempercepat dan memperluas pilihan kreator, bukan sebagai pengganti peran manusia. Menurutnya, titik penentunya tetap ada pada ide yang dibawa pengguna, cara mereka menyusun arahan, serta pertimbangan kreatif saat mengevaluasi keluaran yang dihasilkan.

Dalam paparan yang sama, ia menempatkan diskusi hak cipta sebagai bagian yang tak terpisahkan dari perubahan cara orang bekerja dengan konten berbasis prompt. Ketika proses produksi melibatkan kolaborasi antara kreator dan sistem AI, pertanyaan mengenai kepemilikan dan tanggung jawab menjadi semakin sering dibahas, sehingga platform perlu memberi kerangka yang dapat membangun rasa percaya pengguna.

Adams juga menekankan bahwa Canva Shield hadir untuk menjawab kebutuhan tersebut lewat pendekatan perlindungan yang mencakup aspek kepercayaan, keamanan, dan privasi. Ia menambahkan bahwa kebijakan perlindungan tidak berhenti pada satu lapis fitur, karena Canva turut menyediakan ganti rugi bagi pelanggan bisnis yang memenuhi syarat—sebagai bentuk dukungan ketika konten berbasis AI digunakan dalam praktik desain.