jurnalistik.co.id – Adobe menunjuk Anil Chakravarthy sebagai chief executive officer (CEO) baru, efektif mulai 1 Desember. Langkah ini dilakukan di tengah persaingan industri yang makin menekan perusahaan perangkat lunak, khususnya pada era kecerdasan buatan (AI).
Dalam pengumumannya, Adobe menyatakan Shantanu Narayen akan bergeser perannya menjadi executive chair. Narayen telah memimpin perusahaan sejak 2007, sebelum kemudian menyerahkan posisi CEO kepada Chakravarthy.
Anil Chakravarthy sebelumnya tercatat memegang jabatan pemimpin divisi pemasaran dan analitik di Adobe. Penunjukan tersebut menempatkannya sebagai wajah manajemen yang akan mengarahkan perusahaan pada fase berikutnya.
Chakravarthy juga disebut bergabung dengan Adobe pada Januari 2020. Dengan demikian, ia telah berada dalam organisasi selama beberapa tahun sebelum dinyatakan siap menjalankan peran CEO mulai awal Desember.
Adobe juga mengumumkan perubahan pada jajaran internal lainnya. David Wadhwani, yang memimpin divisi kreatif Adobe, disebut akan meninggalkan perusahaan.
Menurut pernyataan yang dikutip, Wadhwani dan Chakravarthy merupakan kandidat internal yang dianggap sebagai kandidat terkuat untuk menjadi CEO berikutnya. Kombinasi pengalaman keduanya di dalam organisasi menjadi dasar penilaian sebelum keputusan final dijatuhkan.
Adobe dikenal melalui produk perangkat lunaknya, termasuk Photoshop, yang telah lama digunakan sebagai standar oleh para profesional di bidang kreatif dan pemasaran. Keberadaan produk-produk tersebut membuat perusahaan selama ini memegang peran penting dalam ekosistem industri desain dan konten.
Berita Terkait
Namun, dalam beberapa tahun terakhir, perhatian pasar—terutama dari Wall Street—mulai mengarah pada pertanyaan mengenai apakah posisi Adobe bisa tergeser pada era AI. Fokusnya bukan hanya pada produk yang sudah mapan, tetapi juga pada kemampuan perusahaan untuk bertahan di tengah perubahan cara kerja industri.
Perkembangan generative AI dan AGI disebut membuat pembuatan media visual menjadi lebih mudah, tanpa harus bergantung pada produk Adobe yang berharga. Dalam narasi yang sama, disebut pula bahwa banyak alat AI baru yang paling populer justru dikembangkan oleh para pesaing.
Dengan perubahan kepemimpinan ini, Adobe menegaskan transformasi strategis yang akan segera berjalan bersamaan dengan pergantian jabatan CEO. Pergantian resmi pada 1 Desember menjadi penanda dimulainya babak baru manajemen, sementara Narayen tetap berada dalam struktur sebagai executive chair.
Di sisi internal, keputusan mengenai Wadhwani yang akan meninggalkan perusahaan turut memperkuat gambaran adanya perombakan susunan kepemimpinan. Kondisi ini juga menegaskan bagaimana Adobe menata kembali strategi melalui figur-figur yang dianggap telah memimpin proses di dalam organisasi.
Bagi industri kreatif dan pemasaran, pergantian CEO tersebut datang pada momentum yang sedang mempertanyakan relevansi perangkat lunak desain tradisional dalam lanskap AI. Pada saat yang sama, perusahaan tetap membawa warisan produk-produk yang selama ini menjadi rujukan, sambil menyesuaikan arah perusahaan menghadapi tantangan persaingan.
Pergantian pimpinan ini sekaligus menyoroti bagaimana perusahaan merespons tekanan persaingan yang terus menguat, terutama ketika industri bergeser ke pendekatan yang lebih berorientasi AI. Dengan menunjuk Chakravarthy untuk memulai tugasnya pada 1 Desember, Adobe tampak ingin memastikan arah perusahaan tidak berjalan tanpa penyesuaian, baik dari sisi strategi maupun eksekusi.
Langkah Narayen yang bergeser menjadi executive chair juga bisa dibaca sebagai upaya menjaga kesinambungan tata kelola. Narayen yang telah memimpin sejak 2007 tetap dipertahankan dalam struktur, sehingga organisasi memiliki “pegangan” pengalaman jangka panjang sambil memberi ruang pada CEO baru untuk mendorong fase berikutnya. Dalam konteks ini, pergantian kepemimpinan bukan hanya pergantian jabatan, melainkan sinyal reorganisasi prioritas.
Di saat yang sama, keluarnya David Wadhwani dari divisi kreatif mempertegas adanya penataan ulang di internal. Kombinasi latar Chakravarthy di pemasaran dan analitik serta posisi Wadhwani yang dinilai kuat di jajaran internal menjadi fondasi penilaian sebelum keputusan diambil. Bagi industri kreatif, momen ini menegaskan tantangan utama: bagaimana mempertahankan nilai produk yang sudah lama menjadi rujukan, sekaligus menjawab narasi bahwa pembuatan media visual semakin mudah berkat alat-alat AI yang juga bermunculan dari pihak lain.












