jurnalistik.co.id – Kekhawatiran terhadap kenaikan harga perangkat komputer dan laptop akibat krisis chip serta memori yang mulai mencuat sejak awal 2026 kini makin terasa. Tekanan itu dipicu oleh lonjakan kebutuhan komponen untuk pusat data dan artificial intelligence (AI), sementara ketersediaan bagi perangkat konsumen justru semakin ketat.
Sinyal mengenai masalah tersebut sebenarnya sudah muncul lebih awal. Pada Januari 2026, International Data Corporation (IDC) memperingatkan bahwa krisis pasokan chip memori berpotensi menekan pasar PC global sekaligus ikut mendorong kenaikan harga komputer.
IDC menyusun dua skenario dampak. Dalam skenario terburuk, pasar PC global diproyeksikan bisa mengalami kontraksi hingga 8,9% pada 2026. Pada skenario yang lebih moderat, pasar diperkirakan menyusut 4,9%.
Dalam penjelasan IDC, akar persoalan terletak pada ketidakseimbangan antara pasokan dan permintaan memori. Permintaan didorong oleh pusat data yang menyerap kebutuhan terkait AI, sementara kapasitas produksi tidak bisa bertambah dengan kecepatan yang sama.
IDC juga menilai situasi makin menguat setelah publikasi awal. “Situasinya menjadi lebih akut sejak publikasi,” tulis IDC dalam laporannya, dikutip Selasa (1/9/2026).
Yang semula berupa proyeksi mulai mendapat validasi dari kondisi industri. Salah satu produsen PC terbesar dunia, Lenovo Group Ltd., melalui CEO Yang Yuanqing, memperkirakan kelangkaan pasokan memori akan terus berlangsung sepanjang 2026. Pernyataan itu menguatkan gambaran bahwa persoalan pasokan tidak hanya gangguan singkat.
Dari sisi rantai komponen, SK Hynix Inc. juga menunjukkan perspektif yang lebih panjang dan pesimis. Memori disebut jadi perangkat yang sangat dicari saat booming AI, dan perusahaan tersebut memberikan dana dengan proyeksi berlanjut hingga tahun 2030. Artinya, kebutuhan memori tidak sekadar memuncak sesaat, melainkan terus diperebutkan oleh operator pusat data.
Tekanan tersebut kemudian mulai merembat ke perusahaan teknologi berskala besar. Salah satu yang disebut menghadapi dilema adalah Apple terkait produk MacBook Neo, laptop yang sejak awal diposisikan dengan harga relatif terjangkau untuk memperluas akses konsumen terhadap ekosistem Mac.
MacBook Neo diperkenalkan dengan harga mulai US$599, sehingga menjadi salah satu produk agresif Apple untuk menarik konsumen baru. Namun justru varian yang relatif murah tersebut mendapat tekanan ketika biaya komponen meningkat.
Berita Terkait
Pada Mei 2026, Apple dikabarkan mempertimbangkan untuk menghilangkan varian MacBook Neo termurah karena kenaikan biaya chip dan memori. Salah satu opsi yang disebut adalah menghapus konfigurasi 256GB, sementara alternatif lainnya adalah menaikkan harga.
Tekanan itu makin terkait karena MacBook Neo menggunakan chip A18 Pro yang sebelumnya digunakan pada iPhone 16 Pro. Permintaan awal yang tinggi membuat Apple perlu meningkatkan produksi, sementara pasokan komponen juga berada dalam tekanan.
Di pasar Indonesia, perubahan itu tidak berdiri sendiri. Kelangkaan chip dan memori disebut berinteraksi dengan pelemahan kurs rupiah terhadap dolar AS sehingga membentuk serangan ganda bagi pasar harga laptop, server, storage, hingga perangkat jaringan.
Sekjen Asosiasi Pengusaha TIK Nasional (APTIKNAS), Fanky Christian, menilai potensi kenaikan harga tetap ada. “Ya, potensi kenaikan harga tetap ada. Memang setelah krisis chip global mereda, supply chain industri teknologi mulai kembali normal dan harga perangkat sempat lebih stabil. Namun tekanan nilai tukar saat ini berpotensi mengurangi stabilitas tersebut,” ujarnya.
Kendati demikian, krisis chip dan memori tidak serta-merta membuat harga laptop atau PC langsung melonjak. Dampaknya bergerak lebih bertahap melalui rantai pasok: permintaan meningkat, kapasitas pasokan terbatas sehingga harga komponen naik dan menekan margin produsen.
Setelah itu, perubahan merambat ke strategi produk. Produsen perlu menyesuaikan konfigurasi, sementara distributor dan importir menghadapi biaya yang lebih tinggi. Pada akhirnya, tekanan tersebut berpotensi diteruskan kepada konsumen melalui kenaikan harga jual.
HP Indonesia juga mengakui bahwa kelangkaan chip dan memori mulai terasa. Perusahaan menyebut chip saat ini sudah menjadi persoalan yang diketahui secara luas di industri teknologi.
Dalam kutipan yang disampaikan, Edo menuturkan bahwa ketika pelanggan bertanya kapan waktu terbaik mengganti perangkat, jawabannya adalah “sekarang”. “Kalau banyak customer yang suka tanya sama saya, kapan sih saat terbaik untuk mengganti PC mereka ataupun apa semua? Ya, saat terbaiknya sekarang,” tegas dia.
Edo memperkirakan krisis chip dan memori tidak segera berakhir. Ia mengacu pada pernyataan sejumlah petinggi industri semikonduktor yang memperkirakan persoalan tersebut dapat berlanjut hingga lebih dari 2028.
Selain proyeksi durasi, Edo juga menyinggung perubahan harga yang sudah terlihat. “Kalau untuk yang di situ kita sudah melihat dan kami berusaha untuk memastikan bahwa dampaknya itu tidak sampai yang benar-benar ber- impact, karena biar bagaimanapun kenaikan harga itu tidak bisa dihindari,” urai Edo.











