Teknologi

Iwak MetaSeaco: AI untuk Nelayan Cilacap “Membaca Laut” Sebelum Berlayar

×

Iwak MetaSeaco: AI untuk Nelayan Cilacap “Membaca Laut” Sebelum Berlayar

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: Dari Cilacap, AI Bantu Nelayan "Membaca Laut" Sebelum Berlayar

jurnalistik.co.id – Ketidakpastian hasil tangkapan masih menjadi persoalan yang dihadapi nelayan tradisional ketika bersiap melaut. Tantangannya bukan hanya soal waktu dan tenaga, tetapi juga risiko kembali dengan tangkapan yang mengecewakan.

Di Cilacap Selatan, MetaSeaco—startup jebolan program Pertamuda Pertamina—mengembangkan teknologi Iwak untuk membantu pengambilan keputusan sebelum kapal berangkat. Iwak memanfaatkan kecerdasan buatan dan data satelit agar nelayan bisa membaca kondisi di laut lebih awal.

Dengan sistem tersebut, nelayan dapat menentukan waktu terbaik untuk berlayar, ikan yang hendak ditargetkan, serta titik koordinat yang dinilai potensial. Pendekatan ini ditujukan agar rencana melaut tidak lagi bergantung pada tebakan saat di tengah perjalanan.

CEO MetaSeaco, Catur Prasetyo Nugroho, menjelaskan akses informasinya bisa dilakukan dari rumah. Ia mengatakan, “Dari rumah, nelayan sudah bisa mengetahui apakah hari itu sebaiknya melaut atau tidak. Jika melaut, teknologi ini juga memberikan rekomendasi titik koordinat dan waktu terbaik untuk menangkap ikan,”.

Data penerapan menunjukkan masalah yang ingin diatasi cukup besar. Di Cilacap Selatan, sekitar 41% dari 6.806 perjalanan melaut yang dicatat MetaSeaco mengalami kerugian.

Implementasi Iwak sudah berjalan pada 15 perahu nelayan di Cilacap. Hasilnya, biaya operasional dapat ditekan sekitar 23%, sementara pendapatan rata-rata nelayan meningkat 68%.

Selain efisiensi, perubahan terlihat pada perjalanan yang berujung tanpa keuntungan. Perjalanan melaut yang merugi turun dari 41% menjadi sekitar 30% setelah nelayan mengikuti rekomendasi dari sistem.

MetaSeaco juga memaparkan akurasi prediksi untuk beberapa jenis ikan. Untuk ikan tenggiri batang, tingkat akurasi mencapai 91%, ikan bawal putih 85%, dan ikan layur 70%.

Dalam salah satu perjalanan, nelayan yang mengikuti koordinat dengan skor prediksi tinggi bahkan dapat menjaring pendapatan sekitar Rp 3 juta. Angka tersebut menunjukkan bagaimana rekomendasi dari Iwak dapat memengaruhi hasil di lapangan.

Ke depan, perusahaan berencana memperluas pemanfaatan teknologi tersebut ke lebih banyak desa. Kolaborasi Desa Energi Berdikari (DEB) Pertamina dengan program Pertamuda menjadi jalur untuk pengembangan sekaligus replikasi di masyarakat binaan Pertamina.

Kolaborasi itu menjadi bagian dari Festival Desa Energi Berdikari Pertamina 2026 di Grha Pertamina, Jakarta, Jumat (28/8/2026). Vice President CSR & SMEPP Management Pertamina, Rudi Ariffianto, menekankan dorongan agar inovasi bisa langsung bersentuhan dengan kebutuhan masyarakat.

Rudi menyampaikan, “Semakin banyak teknologi tepat guna yang bisa diterapkan, tentu akan semakin bagus. Harapannya, dampak dari 269 Desa Energi Berdikari yang kami miliki bisa semakin besar,”. Ia menempatkan festival sebagai forum pertemuan antara inovasi dan persoalan nyata yang dihadapi masyarakat binaan.

Selain MetaSeaco, inovasi juga dibawa Terangin, startup energi terbarukan yang meraih Top 3 Pertamuda 2025 kategori Energy Future. Terangin akan dikembangkan dan direplikasi untuk mendukung DEB Juntinyuat, Indramayu, melalui teknologi penghalau burung berbasis laser otomatis yang membantu petani mengurangi gangguan hama.

CEO Terangin, Muhammad Hanif, optimistis penerapan teknologi itu dapat membantu petani menekan gangguan burung sekaligus meningkatkan produktivitas hasil pertanian. Ia mengatakan, “Terima kasih kepada Pertamina dan Pertamuda yang telah memberikan berbagai dukungan, mulai dari pendanaan, mentoring, publikasi, dan banyak hal lainnya. Dukungan tersebut sangat membantu kami untuk terus berkembang dan menjadi lebih mandiri,”.

Di sisi lain, Pertamina menggandeng PT Global Vision Tech di DEB Nagari Katapiang untuk mengembangkan rantai nilai komoditas kelapa. Kegiatan tersebut mencakup peningkatan kapasitas masyarakat hingga pengolahan dan penciptaan produk bernilai tambah.

Bagi Pertamina, rangkaian kolaborasi ini menunjukkan bahwa inovasi tidak seharusnya berhenti pada tahap purwarupa atau sekadar memenangkan kompetisi. “Melalui Festival Desa Energi Berdikari 2026, Pertamina mendorong semakin banyak inovasi karya anak bangsa untuk menemukan ruang implementasinya di tengah masyarakat. Sebab, ketika energi, teknologi, dan inovasi bertemu dengan kebutuhan masyarakat, yang tumbuh bukan hanya produktivitas, tetapi juga kemandirian,” tutup Rudi.