jurnalistik.co.id – Telkomsel menyiapkan biaya sekitar Rp1 triliun untuk belanja spektrum dari hasil lelang terbaru. Perusahaan menilai arus kas akan lebih dulu merasakan dampaknya, sementara efek ke laba rugi pada 2026 relatif terbatas.
Pernyataan tersebut disampaikan oleh Direktur Keuangan dan Manajemen Risiko Telkomsel, Daru Mulyawan, dalam Public Expose Live 2026 Telkom Indonesia yang berlangsung pada Senin (7/9/2026). Daru menekankan bahwa investasi yang dilakukan tetap perlu dibingkai dengan disiplin pengelolaan modal.
Menurut Daru, biaya spektrum dalam periode satu tahun diperkirakan kurang lebih mencapai Rp1 triliun. Ia menyatakan bahwa dampak tersebut dipandang muncul lebih awal pada arus kas, bukan langsung dominan terhadap laporan laba rugi 2026.
Dalam penjelasannya, Daru menyebut Telkomsel memperoleh tambahan spektrum sebesar 100 MHz. Tambahan tersebut terdiri dari 20 MHz pada pita 700 MHz dan 80 MHz pada pita 2.600 MHz.
Dengan penambahan kapasitas tersebut, portofolio spektrum Telkomsel meningkat menjadi 265 MHz dari sebelumnya 165 MHz. Perubahan ukuran portofolio ini menjadi salah satu indikator peningkatan total cakupan spektrum yang dimiliki perusahaan.
“Biaya spektrum dalam periode satu tahun kurang lebih Rp1 triliun dan dampaknya akan terlihat pada arus kas di awal, sementara dampak terhadap laba rugi 2026 relatif terbatas,” kata Daru dalam kesempatan tersebut.
Ia juga menegaskan Telkomsel tetap akan melanjutkan investasi spektrum dengan pendekatan yang terukur. Fokusnya adalah memastikan belanja spektrum berjalan, sekaligus menjaga alokasi modal dan tingkat pengembalian investasi tetap berada dalam koridor yang jelas.
Prioritas perusahaan, lanjut Daru, adalah memastikan investasi spektrum dijalankan dengan disiplin alokasi modal dan adanya visibilitas terhadap imbal hasil. Dengan kerangka itu, Telkomsel berupaya menyeimbangkan kebutuhan ekspansi kapasitas dengan pertimbangan keuangan pada periode berjalan.
Komposisi spektrum yang didapat
Berita Terkait
Rincian penambahan spektrum yang disampaikan mencakup 20 MHz pada pita 700 MHz dan 80 MHz pada pita 2.600 MHz. Kombinasi keduanya membuat total tambahan yang diterima Telkomsel mencapai 100 MHz.
Daru menyebut kenaikan total portofolio menjadi 265 MHz, naik dari angka 165 MHz sebelumnya. Dengan demikian, perusahaan memposisikan hasil lelang sebagai penguatan kapasitas spektrum untuk kebutuhan operasional ke depan.
Dampak keuangan yang diproyeksikan
Dalam proyeksi yang disampaikan, biaya spektrum diperkirakan terutama lebih cepat terlihat melalui arus kas. Adapun terhadap laba rugi 2026, perusahaan menyatakan pengaruhnya tidak terlalu besar dibanding dampak awal pada arus kas.
Selain itu, perusahaan menyatakan komitmen melaksanakan investasi secara berkelanjutan namun tetap dengan kontrol. Hal itu tercermin dari penekanan pada disiplin alokasi modal serta pemantauan imbal hasil dari investasi spektrum yang dijalankan.
Pada forum Public Expose Live 2026 Telkom Indonesia, Daru Mulyawan menjelaskan bahwa belanja spektrum diperlakukan sebagai investasi yang harus ditata dalam kerangka pengendalian modal. Ia menempatkan aspek manajemen risiko sebagai bagian dari cara pandang perusahaan terhadap rencana pengembangan kapasitas.
Daru juga menggarisbawahi bahwa struktur pembayaran dan karakter investasi spektrum membuat dampaknya lebih cepat terasa pada pergerakan arus kas. Karena itu, Telkomsel memandang periode awal sebagai fase yang lebih dominan terhadap kas, sementara perubahan pada laba rugi tahun 2026 tidak terlalu menonjol dibanding tahapan arus kas.
Menurut penjelasan yang disampaikan, tambahan spektrum yang diterima Telkomsel tidak hanya dilihat dari total 100 MHz, tetapi juga dari komposisinya: 20 MHz di pita 700 MHz dan 80 MHz di pita 2.600 MHz. Kombinasi ini kemudian tercermin pada kenaikan portofolio spektrum dari 165 MHz menjadi 265 MHz.
Di sisi lain, perusahaan menegaskan investasi spektrum akan tetap dijalankan secara berkelanjutan namun tidak lepas dari kontrol. Telkomsel berupaya menjaga agar alokasi modal, pemantauan imbal hasil, serta kebutuhan ekspansi kapasitas tetap berada dalam batas yang terukur pada periode berjalan.












