jurnalistik.co.id – Jo Hooper sempat berada di puncak karier ketika mendapatkan peran yang ia anggap sebagai “pekerjaan impian”. Namun, kenyataan yang datang belakangan justru berbentuk burnout hingga ia harus mengambil waktu istirahat dari pekerjaannya.
Ia memulai perjalanan menuju jenjang karier sejak usia dua puluhan, dengan promosi yang cepat serta kenaikan gaji. Jo, yang sebelumnya bekerja di bidang komunikasi, mengatakan, “I loved being good at it”. Menurutnya, dorongan untuk terus naik membuat ia merasa semua langkah yang diambil adalah jalan yang benar.
“I wanted to be a head of communications by the time I was 30, which I did by doing all things you’d expect, working long hours, saying yes to everything including mad things like taking my boss’s kids to school.” Kalimat itu menggambarkan cara Jo merespons peluang: berlari mengejar standar yang ia anggap sebagai target, bahkan ketika tuntutan mulai terasa tidak wajar.
Di balik ambisi tersebut, burnout akhirnya muncul. Jo mengakui ia membiarkan dirinya terus terdorong oleh anggapan bahwa peluang-peluang yang datang selalu “bagus”, tanpa menyadari batas yang mulai dilampaui. “I genuinely thought these were all good opportunities, and I was going to grab them with both hands,” katanya.
Puncaknya, ia mengalami momen sulit yang ia gambarkan secara fisik maupun emosional. Jo bercerita, “I remember being in the bathroom crying, hyperventilating, but I never thought ‘this isn’t sustainable’, never thought ‘I can’t do this any more’.” Dalam ingatannya, yang terjadi bukan langsung ia terjemahkan sebagai sesuatu yang harus ditolak, melainkan seolah hanya masalah penyesuaian.
Namun ia juga menjelaskan bahwa kesulitan itu tidak berhenti saat ia mengubah tempat kerja. “I just thought I needed to change job and I’d be fine. I thought the fix was being in a different organisation but the way I behaved, what I thought was expected of me, was the same everywhere.” Dengan kata lain, sumber masalah tetap berulang melalui pola yang sama dalam cara ia menjalani tuntutan.
Organisasi kesehatan dunia (WHO) mengenali burnout sebagai keadaan kelelahan fisik dan emosional. Dalam data terbaru yang disebutkan, 22 juta hari kerja hilang di Inggris karena stres terkait pekerjaan pada periode 2024-25. Angka tersebut menjadi latar yang menegaskan burnout bukan sekadar perasaan lelah biasa, melainkan efek akumulatif dari tekanan yang berlangsung lama.
Jo akhirnya mencapai titik yang membuat tubuh dan pikirannya “memaksa berhenti”. Ia mengatakan burnout datang sekitar satu tahun setelah ia masuk dalam peran manajemen, lalu berujung pada dua kali breakdown dalam waktu setahun. “I definitely think it was a case of being forced to stop by my body and mind,” ujarnya.
Di saat burnout memuncak, ia menggambarkan penurunan kemampuan mengambil keputusan dan gangguan fungsi mental. “I found it really difficult to make decisions, like my brain was working slower. I remember feeling like someone had flipped a switch and my brain had just broken.” Pernyataan ini memperlihatkan bagaimana perubahan yang awalnya tampak “tidak terlihat” pada akhirnya menyentuh aspek paling mendasar dalam cara berpikir.
Kekhawatiran soal stres yang berujung cuti juga disorot dari sisi kesehatan mental pekerja muda. Mental Health UK melaporkan, dua dari lima pekerja muda berusia 18 hingga 24 tahun sempat mengambil waktu off akibat kesehatan mental yang buruk karena stres pada 2025. Di saat yang sama, muncul pula pertanyaan bagaimana proses penandatangan cuti dilakukan, karena ratusan dokter umum menyampaikan kepada BBC bahwa mereka tidak pernah menolak memberikan surat cuti untuk isu kesehatan mental.
Kasus burnout juga disebut muncul pada berbagai kalangan. Atlet Olimpiade Laviai Nielsen menyadari ia mengalami burnout “terlalu terlambat”, setelah Olimpiade Paris 2024. Sementara itu, anggota parlemen Partai Hijau Carla Denyer menyatakan pada bulan Mei bahwa ia akan mengambil cuti karena burnout.
Perfectionist yang dipromosikan juga bisa menjadi yang paling mudah terbakar
Dr Jill Williams, psikolog sekaligus business coach di wilayah North Wales, menangani orang-orang yang terdampak burnout—berdasarkan pengalamannya sendiri. Ia menilai, “It’s actually perfectionists or those who go the extra mile who are more likely to experience this.” Menurutnya, pola karakter yang sama yang membantu seseorang dipromosikan juga dapat menjadi pemicu kelelahan.
“The same traits that get you promoted will be the same ones that burn you out, unfortunately.” Williams menempatkan burnout sebagai konsekuensi dari kombinasi tuntutan panjang dan cara merespons tekanan tanpa ruang pemulihan yang memadai.
Di sisi lain, Amy Davies dari Public Health Wales menjelaskan bahwa istilah burnout bisa dipakai secara bergantian dengan stres, tetapi keduanya berbeda. “Stress can feel like drowning, but burnout can feel like having nothing left to swim with,” katanya.
Berita Terkait
Davies menekankan bahwa WHO tidak menganggap burnout sebagai kondisi atau penyakit kesehatan mental. Ia menyebut bahwa jika pengalaman burnout tidak ditangani, kondisi lain bisa berkembang. “If burnout experiences are unaddressed it may lead to those conditions developing,” ujar Davies.
Selain itu, Williams menyatakan burnout tidak selalu identik dengan pekerjaan. “It’s not necessarily just work, we can see it an awful lot in carers and students, any situation where there is long-term stress,” katanya. Karena itu, sumber tekanan bisa muncul dalam berbagai peran dan tanggung jawab yang menekan secara terus-menerus.
Soal apakah liburan bisa menjadi “obat” burnout, Davies menyebut ada manfaat, tetapi tidak otomatis menyelesaikan akar masalah. “Sometimes it can be helpful, but it also needs to come with changes to the context that’s causing the distress,” jelas Davies. Williams menambahkan, “For many people rest is necessary, but it’s not always enough. If you go back to work and your attitude to work is the same, then you’re going to have the same result, so something needs to change.”
Keputusan berhenti bekerja, lalu mengubah cara memandang produktivitas
Setelah mengalami titik yang tidak lagi berkelanjutan, Jo akhirnya meninggalkan kariernya. Ia juga didiagnosis mengalami anxiety dan depression. Dari pengalaman itu, ia menyimpulkan bahwa istirahat saja tidak cukup untuk memperbaiki burnout secara utuh.
Jo mengatakan, “I’ve learnt the hard way that rest doesn’t fix burnout, and it certainly didn’t fix the breakdown for me. Actually changing the things that burnt you out or broke you down is the only way to get over it.” Ia kemudian mengubah pesannya menjadi ajakan untuk orang lain agar bekerja dengan batas yang lebih sehat.
“Now I’m a woman on a mission to convince others to work less, because I spent 10 years not doing that, and it nearly broke me.” Kini Jo melakukan public speaking dan coaching untuk membantu business owner dan employer agar pihak lain tidak sampai berada pada kondisi yang sama.
Ia menekankan kontrol sebagai bagian penting dalam proses pemulihan. “I’m in control, I run my business, I get to decide how it works, I get to decide what I do and who I work with, and that’s a huge part of the process for me,” ujarnya. Ia juga menolak budaya optimisasi yang mendorong produktivitas terus meningkat.
“I detest this optimisation culture of trying to be as productive as possible. Feeling like we constantly have to optimise ourselves and productivity is just forcing us into working more and living less… I think it just needs to get in the bin.”
Dalam pembahasan yang lebih luas, sejumlah serikat pekerja turut menyoroti isu burnout. Hannah Leonard dari Royal College of Midwives mengatakan, “Midwives do an extraordinary job, and they deserve to feel pride in their profession, not burnt out within a few years of qualifying”.
Neil Butler dari serikat pengajar NASUWT menilai perubahan harus dilakukan agar suasana mengajar kembali membawa kegembiraan. Ia menuturkan, “Changes must be made to bring back the joy into teaching. While it is a relentless grind we will continue to lose good teachers from classrooms in Wales.”
Laura Doel dari Trade Union Congress Cymru menyebut hasil riset mereka menunjukkan stres menjadi risiko nomor satu di tempat kerja—lebih tinggi daripada bahaya tradisional seperti paparan bahan kimia, bekerja di ketinggian, dan mesin yang tidak aman. “Our research shows that stress is the number one risk at work, higher than traditional dangers like exposure to chemicals, working at height and unsafe machinery”.
Ia menambahkan bahwa langkah yang menyediakan wellbeing measures diapresiasi, tetapi upaya utama tetap pada penanganan penyebab stres yang paling mendasar. “Our research shows that stress is the number one risk at work, higher than traditional dangers like exposure to chemicals, working at height and unsafe machinery.” Dan, lanjutnya, “…tackling the root cause of stress such as “low pay, insecure contract and impossible workloads” was key.”
Seorang juru bicara Health and Safety Executive—regulator nasional Inggris untuk kesehatan dan keselamatan kerja—menyatakan bahwa perusahaan memiliki kewajiban hukum untuk melindungi pekerja dari faktor risiko yang menimbulkan stres terkait pekerjaan dengan melakukan penilaian dan mengelola area-area penting secara tepat.
Pemerintah Wales juga menyebut sedang bekerja sama dengan pemberi kerja dan serikat pekerja untuk mengurangi tekanan, mendukung kesejahteraan staf, serta memastikan tersedianya dukungan kesehatan mental yang sesuai.












