Internasional

Haakon VIII Resmi Bersumpah di Parlemen Oslo, Mendiang Harald V Disemayamkan hingga 8 September

×

Haakon VIII Resmi Bersumpah di Parlemen Oslo, Mendiang Harald V Disemayamkan hingga 8 September

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: Watch: Norway's new king Haakon VIII takes oath as mourners pay respects to Harald V

jurnalistik.co.id – Raja baru Norwegia, Haakon VIII, mengucapkan sumpah di parlemen Oslo pada Selasa. Peristiwa tersebut menjadi langkah paling utama dalam awal pemerintahannya sebagai Raja.

Dalam prosesi yang digelar pada hari yang sama, Haakon VIII tampil di hadapan parlemen untuk menunaikan sumpah sebagai bagian dari rangkaian pengukuhan. Agenda ini sekaligus menandai momentum awal yang dianggap penting bagi kelanjutan institusi kerajaan di Norwegia.

Di tengah upacara tersebut, parlemen juga mengheningkan cipta. Waktu hening diberikan untuk menghormati Harald V, ayah dari Haakon VIII, yang meninggal pada Jumat.

Ketika anggota parlemen menjalankan ritual duka, perhatian publik tertuju pada bagaimana formalitas negara berlangsung bersamaan dengan suasana duka yang sedang menyelimuti keluarga kerajaan. Pelaksanaan sumpah diikuti oleh rangkaian penghormatan yang menunjukkan keterhubungan antara transisi peran dan penghormatan kepada pendahulu.

Ratu Mette-Marit tidak hadir dalam keseluruhan rangkaian formalitas. Kehadirannya tertunda karena ia masih menjalani pemulihan setelah menjalani transplantasi paru.

Absennya Mette-Marit menjadi bagian dari catatan upacara yang disampaikan bersamaan dengan jalannya acara. Hal ini memperlihatkan bahwa transisi pemerintahan tetap mempertimbangkan kondisi kesehatan anggota keluarga kerajaan.

Setelah upacara di parlemen selesai, suasana beralih ke tahap penghormatan bagi Harald V. Para pelayat mulai memberikan penghormatan mereka di depan peti jenazah almarhum.

Peti jenazah Harald V berada dalam keadaan terbaring (lying in state) di Istana Kerajaan. Selama masa tersebut, publik diberi kesempatan untuk menyampaikan penghormatan langsung kepada Raja yang telah wafat.

Jadwal penghormatan melalui peti jenazah ditetapkan hingga 8 September. Tenggat waktu itu menandai periode ketika proses duka negara berlangsung secara terbuka dan terencana.

Dengan kata lain, Selasa bukan hanya hari sumpah Haakon VIII, melainkan juga hari ketika parlemen menjalankan penghormatan kenegaraan secara bersamaan. Dalam rangkaian peristiwa tersebut, transisi kepemimpinan dan penghormatan kepada Harald V berjalan dalam satu rangkaian ritus.

Langkah pertama dalam pemerintahan Haakon VIII berlangsung di pusat kekuasaan legislatif, sebuah simbol yang biasanya diharapkan menghadirkan legitimasi kuat di tahap awal. Di saat yang sama, menit hening untuk Harald V mempertegas bahwa proses pergantian juga merupakan bagian dari penghormatan historis.

Rangkaian acara yang meliputi sumpah, pengheningan cipta, hingga penghormatan di depan peti jenazah menunjukkan pola upacara yang menyatukan dimensi resmi dan duka publik. Publik tidak berhenti pada formalitas politik semata, tetapi juga ikut memasuki ruang penghormatan.

Hingga batas 8 September, peti jenazah Harald V tetap berada di Istana Kerajaan, sehingga para pelayat dapat datang sesuai alur penghormatan yang tersedia. Dengan demikian, negara menjaga kesinambungan proses duka dalam jangka waktu yang telah ditentukan.

Bagi Haakon VIII, sumpah di Oslo menjadi titik awal yang menegaskan pergeseran peran dalam keluarga kerajaan. Pada saat yang sama, upacara di parlemen memberikan ruang bagi kenangan terhadap Harald V yang wafat pada Jumat.

Komposisi acara tersebut juga memperlihatkan bagaimana situasi keluarga kerajaan tetap memengaruhi penampilan formal di ruang publik. Meski Mette-Marit tidak hadir karena pemulihan transplantasi paru, suasana duka dan transisi tetap berjalan mengikuti agenda yang telah ditetapkan.

Keseluruhan rangkaian pada Selasa—sumpah Haakon VIII, pengheningan cipta untuk Harald V, serta dimulainya penghormatan di depan peti jenazah—menjadi satu cerita yang utuh tentang awal pemerintahan dan penghormatan terakhir. Semuanya berlangsung dengan tujuan menjaga tata cara negara sekaligus menghormati sosok yang baru saja berpulang.