jurnalistik.co.id – Binance mulai memulihkan layanan penarikan dana bagi nasabah pada Minggu, menyusul serangan siber yang sebelumnya membuat aktivitas penarikan berhenti selama lebih dari dua hari.
Menurut informasi yang beredar, peretas diduga mencoba menguras aset senilai lebih dari US$6 miliar dalam salah satu insiden pencurian siber terbesar yang pernah tercatat di industri aset digital.
Pihak berwenang Amerika Serikat melalui FBI menyebut serangan terhadap Binance dilakukan oleh TraderTraitor, sebuah unit peretas elite yang dikaitkan dengan Korea Utara.
FBI juga mengaitkan kelompok tersebut dengan pencurian sekitar US$1,5 miliar dari Bybit, sehingga tekanan terhadap sektor kripto untuk menilai ulang keamanan kian meningkat.
Dalam kondisi seperti ini, industri menunggu kejelasan lanjutan dari otoritas dan bursa terkait detail serangan, sekaligus langkah-langkah yang akan diterapkan untuk memperkuat pertahanan ke depan.
Binance memutuskan membuka kembali penarikan Bitcoin mulai pukul 14.00 waktu Singapura pada Minggu.
Langkah ini diambil setelah Binance menghentikan layanan penarikan sebagai respons terhadap peretasan, yang secara praktis menunda akses dana bagi para pengguna selama periode pemulihan.
Melalui platform X, bursa menyatakan bahwa tahap pertama pemulihan penarikan mencakup 15 token.
Daftar tersebut disebut mencakup Ether, serta dua stablecoin terbesar, yakni USDT dari Tether dan USDC dari Circle Internet Group Inc.
Dengan pemilihan aset pada tahap awal, Binance tampak menargetkan likuiditas dan kebutuhan penarikan yang paling sering digunakan pengguna, sebelum memperluas cakupan token pada fase berikutnya.
Meski demikian, pertanyaan yang masih menggantung adalah bagaimana proses investigasi terhadap serangan ini berjalan, termasuk sejauh mana dampak awal terhadap sistem dan aset dapat dipastikan.
Berita Terkait
Bursa juga akan berada di bawah sorotan untuk menunjukkan bahwa pemulihan yang dilakukan bukan sekadar pemulihan layanan secara teknis, melainkan mencakup evaluasi menyeluruh terhadap celah yang memungkinkan serangan terjadi.
Dalam beberapa kasus peretasan pada sektor kripto, pemulihan penarikan dana sering menjadi indikator awal kepercayaan pasar, karena pengguna menilai apakah operasional bursa kembali stabil dan dapat dipertanggungjawabkan.
Bagi pengguna, kembalinya opsi penarikan—khususnya untuk Bitcoin—menjadi sinyal bahwa mekanisme yang sempat dihentikan sudah melalui proses verifikasi dan penanganan insiden.
Sementara itu, bagi regulator dan pelaku industri, keterkaitan serangan dengan TraderTraitor mempertegas bahwa ancaman siber lintas negara terus menjadi risiko nyata di ekosistem aset digital.
Serangan yang diduga melibatkan aktor Korea Utara, sebagaimana dikemukakan FBI, juga menambah urgensi bagi bursa untuk menata ulang lapisan keamanan, mulai dari kontrol akses hingga pemantauan anomali transaksi.
Selain itu, insiden semacam ini biasanya mendorong diskusi tentang standar respons insiden, audit keamanan berkala, serta transparansi informasi yang dapat membantu pengguna memahami status pemulihan.
Dengan Binance yang telah memulai kembali penarikan, fokus berikutnya kini beralih pada kelanjutan rencana pemulihan tahap demi tahap dan apakah layanan penarikan untuk token lain akan segera diperluas.
Di tengah penantian itu, industri tetap menunggu jawaban terkait detail serangan dan langkah yang akan diambil untuk mencegah terulangnya pola yang sama.
Publikasi FBI mengenai keterlibatan TraderTraitor—yang juga dihubungkan dengan pencurian dari Bybit—membuat narasi ancaman menjadi lebih jelas, namun belum tentu menjawab seluruh aspek teknis dari serangan terhadap Binance.
Karena itu, hingga ada informasi lanjutan, pelaku pasar akan cenderung menilai kemajuan dari dua sisi sekaligus: kemampuan Binance mengembalikan penarikan dan kesiapan sistem untuk menahan gangguan baru.
Pada tahap awal, Binance telah mengaktifkan penarikan Bitcoin dan menyiapkan 15 token, termasuk Ether, USDT, dan USDC—sebagai bentuk pemulihan pertama setelah layanan ditutup akibat serangan.
Selanjutnya, seluruh proses investigasi dan penguatan pertahanan akan menentukan seberapa jauh insiden ini mengubah cara bursa kripto mengelola risiko keamanan di masa mendatang.












