jurnalistik.co.id – Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengatakan kekhawatiran publik terhadap keamanan kecerdasan buatan (AI) dinilai tidak lebih dari sebuah “hoax”. Pernyataan itu ia sampaikan saat mengkritik seruan agar teknologi yang berkembang cepat tersebut diberi pengaman (guardrails) yang lebih ketat.
Trump menempatkan peringatan tentang AI dalam satu kategori yang, menurutnya, mirip dengan kisah-kisah yang sebelumnya dianggap menyesatkan. Ia membandingkan narasi tersebut dengan “Global Warming Scam” dan menyebutnya “being perpetrated by the Radical Left Dumocrats”. Di media sosial, ia juga mengklaim dirinya sebagai “the Hoax Buster”.
Dalam unggahan lain, Trump menggunakan rujukan yang ia sebut “the RUSSIA, RUSSIA, RUSSIA HOAX” sebagai analogi untuk kekhawatiran keamanan pada AI. Ia menegaskan bahwa menurutnya, pengaman yang dibutuhkan AI bukan mekanisme tambahan, melainkan sosok presiden yang “strong and smart”.
Ia juga menulis bahwa ada “SICK conspiracy going on against AI and Data Centers”, dan menyebut satu pihak yang ia nilai diuntungkan dari situasi tersebut adalah China. Trump menutup rangkaian pernyataannya dengan kalimat “WHOEVER WINS AI, WINS!”.
Sebagaimana diberitakan, sikap Trump muncul setelah Jack Clark, salah satu pendiri Anthropic, menyampaikan pandangan kepada BBC. Clark mengatakan bahwa “kill switch” untuk mematikan perangkat lunak AI—yang dapat diperiksa pihak ketiga—mungkin perlu menjadi aturan yang bersifat wajib bagi industri.
Clark mengaitkan gagasan itu dengan peringatan yang belakangan muncul dari sejumlah eksekutif dan staf di perusahaan-perusahaan AI terkemuka. Seiring meningkatnya kekhawatiran tentang risiko teknologi terhadap kemanusiaan, saham-saham perusahaan teknologi mengalami penurunan karena investor menilai potensi dampak perlambatan pengembangan AI yang bernilai multi-miliar dolar.
Clark menjelaskan bahwa penghentian total terhadap software AI adalah sesuatu yang “might want to eventually pass rules around” oleh masyarakat. Ia menambahkan bahwa “most labs have different ways of being able to pull the plug”, termasuk Anthropic, namun menurutnya pembuat kebijakan mungkin perlu memastikan adanya mekanisme yang serupa dan dapat diberlakukan lintas pelaku.
Menanggapi isu yang sama, Sekretaris Bisnis Inggris Jonathan Reynolds menyampaikan sikap bernada hati-hati saat berbicara dengan BBC. Ia menyatakan masyarakat tidak boleh lengah terhadap dampak AI, tetapi juga mengingatkan agar tidak menjadi berlebihan dalam mengolah kekhawatiran. Reynolds menyebut adanya “tremendous upsides” yang bisa dirasakan, mulai dari layanan publik, kesehatan, hingga kontribusi bagi ekonomi.
Berita Terkait
Di sisi lain, media pemerintah China turut merespons dengan sudut pandang yang berbeda. Dalam laporan yang dikutip dari media negara tersebut, disebutkan bahwa para ahli memperingatkan kecemasan Washington terkait perkembangan AI China justru dapat mengganggu prioritas kebijakan. Xin Qiang, profesor Studi Amerika di Fudan University, mengatakan kekhawatiran itu muncul karena China telah menjadi kompetitor kuat di bidang AI, dan bila Amerika memperlambat pengembangan atau memperketat regulasi, China bisa mengejar bahkan lebih cepat.
Perdebatan juga menyeret pembahasan kebijakan perusahaan-perusahaan teknologi. Microsoft, melalui CEO-nya Mustafa Suleyman, membahas rencana panduan baru yang tengah disusun selama berbulan-bulan. Langkah mempublikasikan dokumen itu disebut diambil karena diskusi publik yang sedang berlangsung, termasuk pembahasan pembatasan model yang mereka kembangkan dan istilah “humanist AI”.
Isu keamanan AI bahkan diarahkan ke panggung politik dengan rencana kehadiran figur-figur yang berseberangan. Steve Bannon—mantan penasihat utama Donald Trump—dan Senator Bernie Sanders yang dikenal progresif dijadwalkan berbicara pada acara “Pro-Human Assembly” di Washington pada hari Selasa. Menurut situs acara, pertemuan itu bertujuan menetapkan visi bersama dan merumuskan jalan pengembangan AI yang lebih “human-centric”.
Sanders, dalam pernyataannya kepada BBC Newsnight, menegaskan bahwa langkah perlu dilakukan “immediately” untuk menghentikan pertumbuhan AI yang tidak terkendali. Ia menggambarkan ancaman eksistensial yang ia lihat dari kemungkinan kemanusiaan bisa lenyap. Perdebatan makin ramai setelah unggahan Jacob Coxon—peneliti yang meninggalkan Anthropic—tentang kekhawatiran AI dapat menghapus kemanusiaan menjadi viral.
Anthropic merespons kekhawatiran tersebut melalui ilmuwan mereka, Evan Hubinger, yang menyatakan bahwa kemungkinan AI menyebabkan kepunahan manusia “within the next decade” lebih dari 10%. Sementara itu, CEO Anthropic Dario Amodei mendorong agar laju pengembangan AI diperlambat serta lebih diawasi secara ketat, dengan pendekatan yang menurutnya pernah dilakukan sebelumnya, meski sebagian pihak mempertanyakan motif di balik dorongan tersebut.
Amodei juga menekankan bahwa tindakan untuk membatasi AI harus dilakukan “without sacrificing commercial advantage”. Pada saat yang sama, ia menyebut perlunya perlambatan dan regulasi yang dipikirkan bersama—serta pengawasan independen terkait pengembangan model.
Gagasan perlambatan industri juga mendapatkan sinyal dukungan dari pemimpin perusahaan saingan. Sam Altman dari OpenAI dan Elon Musk dari xAI dikatakan menyepakati proposal Amodei mengenai deceleration dan regulasi, sekaligus pengawasan independen atas perkembangan model AI.
Dengan demikian, pernyataan Trump yang meremehkan kekhawatiran sebagai “hoax” berada dalam lanskap perdebatan yang makin luas. Di satu sisi, ada dorongan penguatan pengaman seperti “kill switch” dan pemantauan lintas pihak. Di sisi lain, ada argumen bahwa risiko harus ditempatkan secara proporsional, sementara manfaat ekonomi dan layanan publik dari AI tetap perlu dijaga.












