jurnalistik.co.id – Steven Finn yakin Kevin Pietersen akan memberi warna tantangan yang “tanpa disaring” bagi skuad bola putih Inggris menjelang Piala Dunia 50 over di Afrika Selatan pada musim gugur mendatang.
Finn mengaku sempat terkejut ketika mengetahui Pietersen masuk jajaran pelatih Inggris sebagai mentor pada fase persiapan turnamen tersebut.
Dia menilai loncatan keputusan itu terasa tak mungkin, terutama mengingat perjalanannya dulu bersama Inggris. Interaksi terakhir Pietersen dengan ECB di Lord’s pada 2014 berujung kabar bahwa ia tak akan lagi bermain untuk tim.
Namun, ketika Finn menengok ulang kebiasaan dan karakter Pietersen saat berada di ruang ganti, Finn melihat alasan mengapa kehadiran mentor yang blak-blakan bisa berdampak positif bagi banyak pihak.
Menurut Finn, ruang ganti butuh gaya komunikasi seperti itu agar tim tidak jatuh menjadi “ruang gema”. Pietersen bisa terang-terangan, tetapi justru itulah yang membantu pemain menerima masukan yang langsung dan jelas.
Pada tur bola putih Inggris ke India tahun lalu, saat Pietersen bekerja untuk penyiar tuan rumah, Finn mengingat bagaimana Pietersen mengeluhkan minimnya latihan yang dilakukan pemain Inggris sebelum pertandingan. Dalam ingatannya, latihan Pietersen selalu intens, terarah, dan sarat tujuan.
Finn menceritakan momen di sesi latihan jaring. Saat ia masuk area latihan, Pietersen sering menghampirinya lebih dulu dan melontarkan niatnya dengan gaya yang tegas: “let’s go practice facing the short ball in the nets”.
Ia juga mengaku sering dibuat bergairah untuk merespons, karena Pietersen menantang untuk dipukul habis tanpa banyak memberi kesempatan keluar. Tantangan itu, bagi Finn, membuat latihan memiliki tekanan mental dan reaksi yang dibutuhkan untuk tampil di level tertinggi.
Finn mengatakan ia menikmati adu cepat di jaring karena situasi kompetitif tersebut membantunya menjadi bowler yang lebih baik. Mereka juga kerap berbeda pandangan soal detail permainan, mulai dari sudut pergerakan para fielders hingga kemungkinan suatu pukulan seharusnya bisa berakhir pada tangkapan.
Lebih dari sekadar mengasah kemampuan, Finn memandang Pietersen juga memahami perubahan zaman dalam cara bermain. Pietersen dikenal sebagai pencetus “switch hit”, bahkan sebelum format itu menjadi arus utama, serta terus menjaga ketajaman gagasan di lapangan.
Finn menyinggung beberapa ciri permainan Pietersen, termasuk teknik flamingo flick di permainan Tes dan momen ketika ia melesakkan enam angka ke arah Glenn McGrath di Lord’s pada 2005. Baginya, gaya seperti itu tetap relevan, bahkan jika dilihat dari kacamata permainan era berikutnya.
Dalam cerita Finn, titik penting lain datang ketika Pietersen masih berupaya menyempurnakan aspek teknik. Pada 2012 di Sri Lanka, Finn mengingat suasana ketika mereka datang ke SSC di Colombo untuk pertandingan pemanasan, tetapi Pietersen sudah lebih dulu berada di sana selama sekitar satu jam menghadapi bowler spin lengan kiri setempat.
Finn menyebut upaya itu ditujukan untuk memperbaiki teknik yang sempat menjadi masalah berulang, bahkan dengan penanganan yang “secara ironis” pernah dibantu Andy Flower. Kerja keras tersebut kemudian berkait dengan performa Pietersen yang paling menonjol.
Berita Terkait
Finn menuturkan Pietersen mencetak 151 yang luar biasa saat melawan Rangana Herath pada Tes kedua, memukul ke berbagai arah. Ia lalu melanjutkan momentum itu beberapa waktu kemudian saat Inggris menghadapi India tandang, yang berujung pada kemenangan seri kandang-merah bersejarah untuk Inggris, dengan kontribusi run Pietersen—terutama saat laga di Mumbai—menjadi fondasi kemenangan.
Finn menekankan bahwa hasil dan cara meraih angka seperti itu tidak akan terjadi tanpa sesi latihan panjang ketika tak banyak orang menonton. Baginya, kerja yang tak terlihat itulah yang biasanya membangun performa nyata saat tekanan pertandingan datang.
Ia juga menyinggung pengalaman di Perth pada Ashes 2013-14, ketika Mitchell Johnson menjadi ancaman nyata. Finn membayangkan suasana di ruang ganti bagi para pemain ekor, yang sering tampak tertekan menghadapi prospek menghadapi Johnson.
Di tengah situasi itu, Finn masih ingat Pietersen mendatanginya—meski Finn saat itu tidak termasuk starting XI. Pietersen mengajak Finn langsung untuk berlatih menghadapi bola pendek di jaring dan, setelahnya, bahkan melempar “bouncers” ke arah kepalanya, lalu membantu Finn menemukan cara menangani serta menghindari bowling yang menyerang dengan short-pitched.
Finn tidak memastikan motif yang tepat di balik pendekatan tersebut, apakah Pietersen lebih ingin keluar dari ruang ganti atau memang fokus pada kebutuhan latihan. Tetapi ia menegaskan dampaknya tetap membantu dirinya.
Dengan peran sebagai mentor, Finn percaya Pietersen akan menerapkan pola serupa kepada pemain yang membutuhkan perbaikan pada area tertentu. Kehadiran gaya seperti itu juga tampak dari sikapnya saat sesi evaluasi pertandingan dan diskusi strategi.
Finn menyebut contoh saat Pietersen menunjukkan ketidaksetujuan terhadap sesi fitness dan fielding menjelang Tes Sydney 2014. Bagi sebagian orang, membawa kebiasaan itu ke lingkungan yang sebenarnya sedang membaik mungkin terasa tidak nyaman.
Namun Finn menilai ini justru selaras dengan pelajaran yang menurutnya dipahami Brendon McCullum dari perjalanan tim Tes Inggris. Ketika perubahan mulai terasa setelah periode yang dinilai sudah “tertata”, tim memperoleh momentum yang lebih stabil.
Finn melihat Pietersen berasal dari era di mana kerja keras tidak punya pengganti. Pada masa itu, jalan untuk menghidupi diri dari olahraga sangat bergantung pada kemampuan bermain Tes, sehingga fondasi teknik harus dikerjakan untuk bertahan lebih dulu sebelum berkembang ke format lain.
Menurut Finn, keseimbangan permainan sekarang bergeser karena pemain bisa berkelana dan tampil dalam turnamen waralaba. Dalam situasi itu, kekuatan kini lebih berada pada pemain yang mampu menyesuaikan diri dengan ritme berbagai kompetisi.
Dalam pandangan Finn, format 50 over kini terasa lebih dekat dengan tempo permainan Tes modern ketimbang T20. Ia meyakini bahwa kombinasi fundamental yang kuat dan etos kerja yang solid akan menjadi keuntungan, terutama ketika kondisi pertandingan membuat bowling lebih dominan.
Finn percaya McCullum akan membawa sikap itu ke ruang ganti selama kira-kira 14 bulan menjelang Piala Dunia. Ia juga menyebut tidak ada waktu yang lebih tepat untuk menghadirkan “suara tantangan”, karena berarti tim tidak bisa bergerak tanpa batasan dan kendali.
Kesimpulannya, Finn merasa Pietersen akan menjalankan peran tersebut dengan cara yang sama seperti yang ia kenal selama berinteraksi di lingkungan tim: tegas, langsung, dan tanpa penyaringan berlebihan.












