jurnalistik.co.id – Valve baru saja merilis Steam Frame, headset realitas virtual yang langsung memancing perhatian—terutama karena harganya. Dengan opsi 1TB seharga £1.089 dan varian 256GB seharga £889, perangkat ini menawarkan paket spesifikasi yang serius, tetapi juga menghadirkan pertanyaan besar: apakah VR masih terasa terlalu mahal untuk banyak orang?
Secara fisik, Steam Frame justru memberi kesan awal yang menggembirakan. Headset ini tergolong ringan dan nyaman dipakai, serta dibekali sejumlah teknologi yang “canggih”, asalkan pengguna siap menerima tagihan yang memang tinggi.
Dari sisi kemampuan, Steam Frame bisa digunakan untuk dua jenis aktivitas: streaming dari PC serta memainkan game langsung di perangkat. Pengalaman keduanya disebut bervariasi, namun untuk urusan performa game, hasilnya dinilai cukup memuaskan. Dalam pengujian, game disebut “run well”, yang dianggap sebagai standar minimum mengingat harga yang dibayarkan.
Salah satu poin yang terasa relevan saat dipakai harian adalah lensa “pancake”. Valve menghadirkan desain lensa datar seperti yang sudah dipakai Meta Quest 3, sehingga gambar terlihat lebih jelas saat headset dikenakan. Selain itu, bobot perangkat disebut lebih ringan—bahkan dikibaratkan “little more than a can of soup”.
Kenyamanan itu tidak hanya soal ringan, melainkan juga cara komponen internal dipisahkan. Baterai ditempatkan di bagian belakang kepala, sedangkan layar berada di depan. Penempatan seperti ini membuat pemakai tidak merasakan sensasi “front-heavy”, keluhan yang umum pada headset lain.
Tetap ada catatan penting: kualitas layar yang disematkan Steam Frame disebut “lebih baik di tempat lain”. PlayStation VR2, misalnya, disebut memiliki layar OLED yang luar biasa, meski tanpa lensa pancake. Headset buatan Apple dan Samsung juga disebut punya layar yang sangat bagus, namun harganya jauh lebih premium dibanding Steam Frame.
VR di kelas “high-end niche” atau masih bisa meluas?
Perbandingan harga menjadi latar pembahasan yang paling menonjol. Saat Meta meluncurkan Quest 3 pada Juni 2023, model 128GB dijual seharga £480. Tiga tahun berselang, sulit untuk tidak membandingkan bahwa VR terus terdorong ke level biaya yang makin tinggi—padahal Quest 3 pernah dipandang sebagai titik balik.
Christopher Dring, penulis game, menilai VR kini cenderung terbatas pada ceruk kelas atas. Ia mengatakan, “VR today is ultimately a high-end niche,” dan menambahkan bahwa Meta telah mensubsidi perangkat Quest. Dalam pandangannya, sulit membayangkan subsidi itu akan berlanjut saat Meta beralih dari pengalaman yang dimaksud.
Namun, kenaikan harga tidak muncul tanpa sebab. Disebut ada keterkaitan dengan kebutuhan infrastruktur AI: pengembang membangun pusat data besar yang dipenuhi server berdaya tinggi, memakai banyak komponen yang sama seperti yang dibutuhkan perangkat seperti Steam Frame. Bahkan, harga RAM disebut meningkat lebih dari dua kali lipat antara Oktober 2025 dan awal 2026.
Efeknya juga terasa pada perangkat keras lain. Grafik card yang dibeli seharga £500 beberapa bulan sebelumnya disebut kini berada di kisaran sekitar £650. Karena biaya terus naik, pengembang perangkat keras akhirnya “tidak punya banyak pilihan selain” memasang harga sendiri agar proyek bisa tetap berjalan.
Berita Terkait
Dari pihak Valve, Jeremy Selan menjelaskan tujuan awal mereka dan hambatan pasar. Ia mengatakan, “We set out to come out with a device that would have been much more affordable,” lalu menambahkan, “But the global Ram market has impacted us the same way it’s impacted everybody.” Ia juga dikutip menyebut perusahaan “fought hard to get it even to this price” dan tetap memutuskan mengirimkan Steam Frame meski harga yang muncul tetap terasa tinggi.
Meski demikian, tidak semua pihak sepakat dengan narasi bahwa VR secara umum terlalu mahal. David Heaney, editor UploadVR, menyatakan, “The idea that it’s too expensive is one of the biggest misconceptions about VR,” seraya menyoroti Meta Quest 3S sebagai model yang lebih terjangkau.
Heaney mengingatkan bahwa Quest 3S dibanderol £320 dan beberapa kali masuk penawaran dengan harga £250. Ia juga menempatkan VR dalam konteks harga konsol: “In context, a Nintendo Switch 2 is £420, an Xbox Series S is £430, and a PS5 is £470 – Quest 3S, which is primarily used for gaming, is cheaper than other games consoles.”
Menurut Heaney, hambatan terbesar justru bukan semata label harga, melainkan tahap perkembangan industri. Ia menegaskan, “we’re still in the early days.” Ia juga menyarankan melihat VR seperti era personal computer pada 1980-an: “You have to see VR in the same timeframe you’d see personal computers in the 1980s,” dan menambahkan bahwa meski dulu ada perangkat yang lebih murah, kualitasnya belum cukup untuk adopsi arus utama. Ia menyimpulkan, “VR is only just getting started, a tech in its 1980s PC era, not something anywhere near maturity.”
Teknologi streaming: foveated streaming sebagai “nilai pembeda”
Yang membuat Steam Frame lebih menonjol adalah teknologi barunya, termasuk yang disebut pengembang sebagai “foveated streaming”. Konsepnya menampilkan detail dengan kualitas tertinggi pada area yang tepat sedang dilihat, sementara wilayah penglihatan di pinggiran dibuat kurang jelas. Pengguna disebut tidak terlalu menyadari turunnya kualitas di area yang tidak difokuskan, sehingga bisa menghemat bandwidth secara besar.
Secara praktis, klaimnya adalah streaming game VR secara nirkabel dari PC bisa dilakukan dengan kualitas tinggi tanpa tersambung kabel. Teknologi ini dinilai bekerja dengan baik. Steam Frame juga disebut mengirim dua sinyal sekaligus: menggabungkan Wi‑Fi rumah dengan dongle yang dicolokkan ke PC.
Dalam pengalaman pengujian, Half-Life: Alyx dari Valve disebut sebagai game VR paling memukau secara visual yang pernah dijajal. Meski pengetes sebelumnya pernah bermain VR secara nirkabel, kualitas grafis saat streaming lewat Steam Frame disebut belum pernah ditemukan setingkat ini.
Headset juga untuk non-VR game—namun ada keraguan
Valve menempatkan Steam Frame tidak hanya untuk game VR. Jeremy Selan menyebut harapan agar headset bisa digunakan untuk memainkan game non-VR juga, dengan memanfaatkan headset sebagai layar. Namun, pengetesan menunjukkan bahwa meski ada contoh yang berjalan mulus, hal ini tidak otomatis menyelesaikan masalah minat dan adaptasi.
Pengetes menyebut game lama seperti Persona 5 Reload berjalan baik, meski ada waktu loading yang cukup lama untuk memulai. Meski begitu, ia menilai masih terasa “aneh” memainkan game dengan format seperti itu di ruang keluarga menggunakan headset VR ketimbang layar TV, dan ia juga mengaku belum sepenuhnya yakin bahwa pengembang akan mengoptimalkan game non‑VR agar benar-benar berjalan natively di headset ini.
Meski ada keraguan tersebut, Steam Frame tetap dilihat sebagai perangkat yang menarik. Tantangannya kini ada di sisi harga dan kesiapan ekosistem: apakah teknologi streaming dan kenyamanan yang ditawarkan mampu mengimbangi persepsi bahwa VR masih terlalu mahal untuk menjadi hobi yang luas.












